Dampak Gempa Susulan, Kantor Wali Kota Rusak Berat

Penulis: Antara Pada: Jumat, 10 Agu 2018, 15:40 WIB Nusantara
Dampak Gempa Susulan, Kantor Wali Kota Rusak Berat

Ist

AKIBAT gempa susulan 6,2 skala richter (SR) pada Kamis (9/8) siang, menyebabkan kondisi kantor Wali Kota Mataram menjadi rusak berat, sehingga para pejabat dan aparatur sipil negara setempat tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram H Effendi Eko Saswito di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat, mengatakan, saat gempa 7,0 SR (5/8), gedung kantor wali kota masih dapat digunakan khususnya lantai dua dan satu.

"Tetapi, setelah terjadi gempa susulan kemarin, kondisi lantai tiga dan lantai dua hampir semua rusak berat. Apalagi saat gempa terjadi, jam kerja masih berlangsung sehingga banyak ASN yang trauma," katanya kepada sejumlah wartawan.

Dengan demikian, baik pak wali kota, pak wakil wali kota termasuk sekda, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada di sekretariat dan ASN, sudah tidak ada yang berani masuk ruangan.

Karena itu, Sekda, segera akan berkoordinasi dengan kepala daerah terkait keberlanjutan aktivitas di kantor wali kota.

"Pascagempa 7,0 SR, setiap hari kami melakukan rapat koordinasi di luar ruangan yakni di halaman kantor wali kota," katanya.

Keberlajutan aktivitas di kantor wali kota yang dimaksudkannya, apakah sejumlah OPD yang menempati gedung kantor wali kota akan tetap berkantor di lokasi semula dengan memberikan pelayanan di luar ruangan atau harus mencari kantor lain.

"Kita perlu mendengar kebijakan seperti apa yang akan diambil kepala daerah. Kalau untuk kantor OPD-OPD lainnya, sejauh ini kondisinya tidak ada masalah hanya ada perbaikan sedikit dan masih bisa beraktivitas," katanya.

Dengan demikian, pelayanan pada OPD-OPD lainnya tetap jalan serta menyesuaikan sebagaimana mestinya.

Sementara menyinggung tentang kehadiran ASN pascagempa bumi, Sekda mengatakan, sampai hari ini pemerintah kota masih dapat memaklumi kondisi para ASN sehingga tingkat kehadiran ASN tidak terlalu ketat.

"Kita masih mentoleransi ASN tidak masuk kantor, sebab ASN juga tidak ada yang berani masuk ruangan dan sistem absensi finger print juga rusak total," katanya.

Selain itu, kemungkinan ASN ada yang menjadi korban atau keluarga mereka sehingga membutuhkan perhatian atau bahkan masih ada ASN di tempat pengungsian.

"PNS harus ikot terlibat dan berkontribusi terhadap bencana yang saat ini sedang melanda kota ini," katanya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More