Inovasi UI Ciptakan Kemandirian Energi

Penulis: Puput Mutiara Pada: Jumat, 10 Agu 2018, 14:49 WIB Humaniora
Inovasi UI Ciptakan Kemandirian Energi

DOK. UI

MOMENTUM Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang diperingati pada setiap 10 Agustus harus menjadi pengingat bahwa seluruh stakeholder, termasuk akademisi agar memiliki tanggung jawab memajukan bangsa dan negara.

Hakteknas ke-23 tahun ini diselenggarakan di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, dengan tema Inovasi untuk kemandirian pangan dan energi dengan subtema Sektor pangan dan energi di era revolusi industri 4.0. Hal itu sejalan dengan visi pembangunan Indonesia mencapai ketahanan pangan dan energi.

Universitas Indonesia (UI) sebagai perguruan tinggi ternama di Tanah Air telah membuktikan dukungannya, khususnya terhadap kebangkitan teknologi nasional di antaranya dengan membuat sejumlah inovasi menuju kemandirian energi.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah menciptakan mobil listrik hasil karya dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik UI (FTUI) yang tergabung dalam tim Mobil Listrik Nasional (Molina) UI.
Inovasi mobil listrik tersebut mulai diperkenalkan sejak medio 2017, tepatnya 18 Juli 2017 saat Dies Natalis FTUI ke-52. Ada empat mobil listrik yang ditampilkan, yaitu Bus Electric Vehicle (EV), Makara Electric Vehicle (MEV) 01, City Car MEV 02, dan City Car MEV 03.

Bus EV merupakan kendaraan berkapasitas 60 penumpang dengan daya motor 120 kW dan 300 Ah. Ke depannya, bus yang dirancang menyerupai bus Trans Jakarta itu diharapkan secara bertahap dapat mengganti keseluruhan fungsi bus kuning UI sebagai alat operasional internal kampus UI.

Bahkan, pihak UI juga telah menandatangani perjanjian nota kesepahaman bersama dengan Perum Damri dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) untuk pengembangan inovasi bus listrik tersebut. Penandatangan dilakukan Rektor UI Muhammad Anis, Direktur Utama Perum Damri Setia N Milatia Moemin, dan Direktur Utama Abdulbar M Mansoer.

Penandatanganan tersebut disaksikan langsung Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno. Direktur Utama Abdulbar M Mansoer mengatakan bahwa inovasi bus listrik itu akan dipakai dalam pengembangan lokasi pariwisata Nusa Dua, Bali dan Mandalika, serta Lombok.

“Nanti para wisatawan akan dibawa oleh bus ini dari bandara menuju lokasi. Di lokasi pariwisata juga akan kami usahakan tersedia bus ini sehingga nantinya para wisatawan dapat menggunakannya,” ujar Abdulbar.

Setia N Milatia dalam sambutannya juga mengungkapkan pengadaan bus EV mengangkut peserta pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) atau Bank Dunia yang akan berlangsung 12 sampai 14 Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali dan Mandalika, Nusa Tenggara Barat. “Bila UI dapat menyediakan bus listrik ini pada bulan Oktober, kami akan biayai seluruh biaya operasionalnya. Bapak Presiden (Joko Widodo) ingin sekali agar para tamu IMF tersebut dibawa berkeliling dengan bus listrik ini,” ujar Setia.

Tim molina UI
Selain Bus EV, Makara Electric Vehicle (MEV) 01 dalam wujud city car juga ikut ditampilkan. Mobil listrik itu didesain secara khusus menggunakan motor listrik buatan tim Molina UI berupa brushless direct current motor dengan kapasitas 25 kW.

Sementara itu, MEV 02 tampilan dengan spesifikasi menyerupai kendaraan komersial menggunakan motor induksi dengan daya 7,5 kW dan kapasitas baterai 102 Ah.
Jenis mobil listrik lain yang spesifikasinya menyerupai kendaraan komersial yakni City Car MEV 03, dilengkapi sistem hybrid menggunakan motor AC induksi dengan daya 32 kW dan kapasitas baterai 102 Ah.

“Dengan menggunakan sistem hybrid diharapkan jangkauan jarak tempuh kendaraan dapat lebih jauh,” imbuh Dekan FTUI Dedi Priadi.

Lebih lanjut, menurutnya, tim Molina UI juga tengah mengembangkan stasiun pengisian kendaraan listrik. Inovasi tersebut menggunakan energi dari PLN dan sel surya yang akan berfungsi layaknya pom bensin bagi mobil-mobil listrik.

Di samping itu, tim Molina UI sekaligus menyusun kajian aspek ekonomi, hukum, dan sosial budaya terhadap teknologi kendaraan listrik untuk mengetahui reaksi penerkaan masyarakat terhadap kendaraan listrik dan perencanaan rekayasa sosial yang harus dilakukan.

“Itu semua sejalan dengan visi FTUI untuk mengedepankan inovasi dan penelitian. Diharapkan teknologi itu ke depannya dapat diterapkan pada mobil konvensional berbahan bakar minyak dan merangsang penelitian lainnya yang dapat diserap oleh industri,” pungkas Dedi.

Panel surya
Di lain sisi, Keputusan Rektor UI No 1310/SK/R/UI/2011 tentang Program Konservasi Energi di kampus UI yang ditetapkan pada 20 Juni 2011 telah mengamanatkan mengenai pelaksanaan program penghematan energi di lingkungan UI.

Pada dasarnya, masalah energi di UI ialah pemakaian energi listrik yang berlebihan. Setiap tahun dapat diprediksi kenaikan pemakaian listrik sekitar 10% sampai 15% akibat perilaku pengguna yang konsumtif hingga berimbas pada krisis listrik dan naiknya biaya anggaran penggunaan listrik.

Guna mengatasi persoalan tersebut, UI melalui Badan Pengembangan Universitas dan Pengelolaan Logistik (BPUPL) dan Direktorat Pengelolaan dan Pemeliharaan Fasilitas (DPPF) mengembangkan inisiatif program energi baru terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

PLTS dikembangkan dengan memanfaatkan atap bangunan integrated faculty club (IFC) yang sebelumnya berupa tanah dengan rumput diganti photovoltaik (panel surya). Selain bermanfaat langsung dalam menghasilkan sumber energi nonfosil, keberadaan PLTS juga dapat digunakan sebagai laboratorium bagi para peneliti UI.

Selain dipasang pada atap bangunan IFC, PLTS bertenaga surya tersebut mulai awal Ramadan tahun ini, tepatnya 16 Mei 2018, juga sudah diterapkan di atas Masjid Ukhuwah Islamiyah UI. Secara singkat, teknologi PLTS menggunakan sistem on-grid tanpa baterai.

Sistem on-grid menggunakan photovoltaik (panel surya) sebagai media yang dapat mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Dengan itu, PLTS dapat terkoneksi langsung dengan sistem yang ada dari PLN sehingga energi listrik yang dihasilkan dapat digunakan secara langsung ke beban menggunakan jaringan yang sudah ada.

Bahkan diproyeksikan, kelebihan energi listrik yang dihasilkan dapat dialirkan ke jaringan PLN dengan kWh export-import. Total kapasitas yang dihasilkan mencapai 26 kWp dengan proses pembangkitan listrik yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga mencapai puncak kapasitasnya pada pukul 14.00 WIB dan kembali menurun hingga pukul 18.00 WIB seiring kualitas sinar matahari yang berkurang.

Menurut perhitungan, bila diasumsikan sehari mendapatkan lima jam kualitas sinar matahari yang baik akan dihasilkan energi listrik sebesar 104 kWh per hari atau setara 3.120 kWh per bulan.
Dari aspek lingkungan, implementasi PLTS sejalan dengan program pemerintah mengurangi emisi di Indonesia sebesar 30% pada 2030.

Biodigester
Untuk mengatasi persoalan sampah organik di lingkungan kampus, Gerakan UI Peduli bersama Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat FISIP UI menginisiasi pengadaan biodigester.
Alat berkapasitas 5.000 liter kubik itu nantinya dapat menguraikan sampah organik berupa limbah makanan, sampah taman seperti daun kering dan rumput untuk diolah menjadi biogas dan pupuk cair.

Dekan FISIP UI, Arie Setiabudi Soesilo, menegaskan langkah tersebut merupakan yang pertama dilakukan di lingkungan UI. Hal itu diharapkan dapat memacu fakultas lain dan pihak universitas untuk dapat mengadakan alat serupa.

“Inilah yang kita butuhkan di UI termasuk di FISIP. Kerja konkret ini bukan kerja spektakuler, tapi nilainya sungguh sangat bermanfaat sekali,” ucap Arie. (Mut/S1-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More