Nutrisi Bayi Pengungsi

Penulis: FX. Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak,Sekretaris IDI Wilayah DIY, Alumnus S3 UGM Pada: Jumat, 10 Agu 2018, 06:30 WIB Opini
Nutrisi Bayi Pengungsi

tiyok

GEMPA bumi bermagnitudo 7 mengguncang NTB, pada Minggu (5/8), pukul 18.46 WIB. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, data BNPB per Rabu (8/8), terdapat 131 korban meninggal dunia, sebanyak 1.477 yang mengalami luka berat. Pengungsi yang terdata BNPB sekitar 156.003 pengungsi, termasuk bayi dan ibu menyusui. Apa yang harus dicermati?

ASI akan terus diproduksi selama ibu menyusui bayinya. Namun demikian, di barak pengungsian, ibu menyusui seringkali diberi paket susu formula untuk bayinya. Selain itu, Jadwal makan dan menu makanan untuk balita dan ibu menyusui pun cenderung sama, dengan pengungsi lain. Padahal, balita, bayi, dan ibu menyusui harus dikelompokkan dalam tempat khusus, sehingga kebutuhan makanan dan ASI dapat terpenuhi secara optimal.

Sejumlah ibu menyusui di posko pengungsi tentu mudah menjadi khawatir bahwa produksi ASI berkurang karena rasa cemas dan lelah. Para konselor akan bertugas memotivasi para ibu, agar terus memberikan ASI sehingga produksi ASI akan tetap optimal. Selain itu, konselor juga memberikan kepercayaan pada ibu bahwa dalam kondisi apapun tetap dapat menyusui sehingga tidak terjadi putus ASI. Penting dijelaskan bahwa tidak ada makanan pengganti, yang sebaik ASI bagi bayi.

Makanan dan minuman tambahan harus disediakan untuk balita dan ibu menyusui. Makanan ringan, seperti biskuit dan roti isi pun harus terus tersedia untuk memenuhi kebutuhan kalori para ibu menyusui. Kalau terjadi putus menyusui, maka ASI tidak akan berproduksi lagi. Akibatnya, kebutuhan bayi akan ASI terancam. Ibu yang menderita demam, tetap dapat menyusui. Tubuh ibu memproduksi kekebalan alami yang terkandung dalam ASI sehingga bayi yang disusui tidak akan mudah tertular penyakit ibunya.

Pemberian nutrisi dengan Makanan Pengganti Air Susu Ibu (MPASI), dilakukan pada bayi usia 6 bulan sampai anak usia 2 tahun, yaitu berupa susu dan makanan pendamping. Sebelum usia 1 tahun, susu yang digunakan ialah susu formula. Sebelum proses penyajian, periksalah secara cermat label susu formula komersial sumbangan para donatur. Terutama, yang belum pernah digunakan bayi tersebut dan biasanya merupakan sumbangan para dermawan.

Susu yang berbeda merek akan berbeda pula aturan penggunaan, baik dalam hal bahan, takaran, maupun teknik pencampurannya. Apabila menggunakan cangkir, perlu disiapkan takaran untuk air atau dapat juga mengunakan botol susu yang bertanda ukuran isinya. Susu formula disiapkan dengan cara air dididihkan, kemudian dibiarkan beberapa saat, kira-kira 700C, dan bubuk formula dilarutkan dalam air tersebut. Sisa susu, apabila ada, setelah 2 jam harus dibuang, untuk mencegah proses pembusukan yang berbahaya bagi bayi.

Apabila tidak tersedia air mendidih, gunakanlah susu formula cair yang steril. Penggunaan jenis cairan lain sebagai alternatif ialah air jernih atau air mineral steril yang segar pada suhu kamar dan segera dikonsumsi, tidak boleh disimpan.

Apabila di barak pengungsian kualitas air buruk, misalnya keruh dan berbau, setelah air dimasak mendidih, lakukan klorinasi dan filtrasi, agar air tersebut lebih aman digunakan. Untuk desinfeksi air, dapat dilakukan dengan cara memasak air sampai mendidih dan tambahkan 3-5 tetes klorin setiap 1 liter air atau menggunakan penyaring untuk menghilangkan secara fisik semua partikel dan kuman berbahaya.

Dalam situasi apa saja, rekomendasi metode pemberian MPASI ialah menggunakan cangkir, bukan dot atau botol karena tingginya risiko terkontaminasi dan wadahnya lebih sulit untuk dibersihkan. Cucilah kedua tangan dan peralatan yang akan digunakan, dengan sabun dan air mengalir. Jagalah kebersihan umum, tidak hanya mencakup bahan, tetapi juga alat, dengan selalu memasang penutup. Pastikan tanggal kadaluwarsa (ED), jangan menyimpan dan menyayangkan atas susu yang tanggal kedaluwarsanya sudah dekat, apalagi lewat.

Didihkan air dan biarkan mendidih untuk beberapa saat. Jika air telah dimasak sebelumnya, simpanlah dalam wadah bersih berpenutup yang khusus dan hanya boleh dilakukan sampai 24 jam saja. Takar jumlah bubuk susu formula yang diperlukan dengan menggunakan sendok takar dari kaleng atau bungkusnya dan jangan menggunakan sendok takar dari merek susu yang berbeda.

Ratakan bubuk dengan pegangan sendok atau pisau dalam gerakan lurus. Ikuti instruksi pencampuran pada label dengan hati-hati. Masukkan bubuk kering ke air yang telah diukur dan jika menggunakan cangkir, campur bubuk dan aduk dengan sendok. Jika menggunakan botol, tutup dan kocok untuk mencampurnya.

Sebagai pegangan, jumlah susu formula yang akan dicampur sesuai instruksi kemasan, pasti akan sedikit lebih banyak dari air yang akan digunakan dan sebelumnya telah diukur dengan benar. Coba suhu dengan cara teteskan susu formula hangat ke pergelangan tangan bagian dalam, bukan telapak tangan karena pada beberapa kasus kurang peka. Jika rasanya nyaman dan sedikit hangat, itu berarti aman untuk bayi.

Dengan memberikan ASI dan MPASI secara benar, proses tumbuh kembang bayi di barak pengungsian akan tetap terjaga baik. Selain itu, bayi dapat terhindar dari berbagai macam penyakit yang berbahaya. Sudahkah kita bertindak bijak?

 

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More