Cawapres Asal Comot

Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta Pada: Kamis, 09 Agu 2018, 09:39 WIB Opini
Cawapres Asal Comot

HINGGA pagi ini (Kamis 9 Agustus), dua kubu koalisi belum juga mendaftarkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Mendaftarkan calon pemimpin negeri di detik-detik terakhir (injury time) sepertinya bakal dijadikan "yurisprudensi" dalam kehidupan politik kita.

Dalam hajatan pemilu presiden (pilpres), elite politik kita tampaknya bakal melakukan copy-paste pilkada DKI Jakarta tahun lalu.

Nama Anies Baswedan ketika itu juga muncul di saat-saat terakhir ketika kubu Gerindra mengalami kebingungan siapa sosok yang layak dihadapkan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kontestasi pilkada di Jakarta.

Sehatkah kebiasaan seperti itu? Jelas tidak, sebab ujung-ujungnya rakyat dipaksa untuk membeli kucing dalam karung. Saat pilkada DKI digelar, Anies ibarat tokoh "swing voters" memang bernafsu menjadi gubernur.

Mengacu kepada pemberitaan media ketika itu, Anies masih berusaha tampil agar terpilih sebagai calon DKI-1 dengan melakukan lobi ke Partai Demokrat.

Anies diuntungkan saat injury time datang. Di detik-detik terakhir, kubu Gerindra-PKS-PAN akhirnya meminangnya sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

Sehatkah mencari pemimpin asal comot seperti itu? Sekali lagi jawabnya tidak. Jika ini yang terjadi bagaimana mungkin sang kandidat mampu menyiapkan program kerja untuk dijual saat kampanye?

Karena nir-program, jalan pintas pun diambil untuk meraih kemenangan. Sejarah mencatat Anies Baswedan akhirnya terpilih menjadi gubernur dengan cara yang paling buruk dan brutal di Indonesia, yaitu memperdagangkan SARA. Kejahatan dibungkus dengan agama.

Hebat dan majukah Jakarta setelah Anies terpilih? Maaf, saya tidak akan jawab pertanyaan ini, sebab pembaca tentu sudah punya banyak jawaban.

Dalam konteks pilpres, kalau "tradisi" setor nama capres-cawapres dibiasakan dengan memanfaatkan injury time KPU, saya khawatir cawapres asal comot akan muncul. Masa sih masa depan Indonesia digantungkan kepada pemimpin asal comot?

Cawapres asal comot sepertinya juga bakal terjadi di koalisi bukan Jokowi. Saya sengaja menyebut "koalisi bukan Jokowi", sebab Koalisi Prabowo mendekati injury time semakin tidak jelas, baik kekompakan, maupun siapa yang layak dicawapreskan.

Saat Koalisi Prabowo masih beranggotakan Partai Gerindra, PAN dan PKS, koalisi ini memang terlihat begitu kompak. Prabowo membiarkan begitu saja ketika anggotanya (PKS) secara tidak etis menyosialisasikan sablonan kaos "2019 Ganti Presiden".

Koalisi itu semakin galau setelah PKS memaksakan kehendak agar Prabowo yang disebut-sebut bakal dicapreskan bersedia memilih satu di antara dua nama (Salim Segaf Aljufri dan Abdul Somad) sebagai cawapres.

Wajar kalau Prabowo dan koalisinya galau, sebab dua nama itu tak begitu mentereng jika dikontestasikan dalam hajatan Pemilu Serentak 2019 yang di dalamnya ada pilpres.

Kehadiran Partai Demokrat ke Koalisi Prabowo dianggap bakal membawa angin segar, sebab Prabowo punya sosok alternatif yang bisa dicawapreskan selain Segaf dan Somad. Siapa tahu pula, Demokrat bisa memberikan sokongan finansial buat Koalisi Prabowo dalam kontestasi pilpres.

Namun, faktanya, kehadiran Partai Demokrat bukannya membawa angin segar, melainkan malah membuat koalisi ini masuk angin. Yang pusing bukan hanya Gerindra, tapi juga PAN, PKS dan belakangan Demokrat ikut masuk angin.

Berharap Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dimasukkan dalam bursa cawapres ala Koalisi Prabowo, Demokrat lewat salah seorang petingginya, Andi Arief, mengungkapkan kekecewaannya sebab Prabowo dikabarkan mencomot Sandiaga Uno sebagai cawapres.

Andi Arief pun menyebut Prabowo sebagai "jenderal kardus". Sampai sedemikian jauh ketika nama Sandiaga dimunculkan, hingga saat saya menulis opini ini, PAN dan PKS belum memberikan reaksi atas munculnya nama Sandiaga. PKS tak ngotot lagi bahwa Segaf dan Somad wajib hukumnya untuk dicawapreskan.

Saya bisa maklumi jika Andi Arief menengarai ada politik transaksional dalam proses pencawapresan Sandiaga Uno. Sebagaimana diberitakan media, Andi Arief menuduh PAN dan PKS dapat setoran dana Rp 500 miliar.

Sulit memprediksi bilakah dramatisasi pemilihan cawapres koalisi bukan Jokowi berakhir? Hingga besok saat loket pendaftaran capres-cawapres di KPU ditutup, saya menduga masih terjadi tarik ulur di koalisi ini terkait dengan siapa yang paling pantas dicawapreskan.

Ujung-ujungnya cawapres asal comot seperti halnya Anies Baswedan ketika dicagubkan oleh Gerindra dan kawan-kawan akan terjadi.

Sangat mungkin, asal comot itu bukan hanya untuk cawapres, melainkan juga capres manakala situasi sudah dianggap genting mendekati injury time.

Seperti yang pernah saya tulis, sangat mungkin Prabowo tidak akan maju sebagai capres. Sebagai gantinya mereka akan mencomot Gatot Nurmantyo yang akan dipasangkan dengan Sandiaga, atau jangan-jangan disandingkan dengan Anies Baswedan.

Jika "skenario" ini yang terjadi, yuk berandai-andai seperti apa Indonesia ke depan jika mereka terpilih menjadi pemimpin negeri berpenduduk 260 juta jiwa ini.

Ah, rupanya Koalisi Jokowi juga memanfaatkan injury time KPU. Bedanya dengan kubu lawan, Jokowi dan parpol pendukungnya sudah mengantongi nama cawapres.

Oleh sebab itulah mendekati batas akhir pendaftaran, dalam berbagai kesempatan, Jokowi tetap menebar senyum dan tawa. Itulah untungnya menjadi petahana.(*)

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More