Prioritas Keuangan: Menabung, Operasional lalu Utang, Bukan Sebaliknya

Penulis: Iis Zatnika Pada: Rabu, 08 Agu 2018, 11:36 WIB Weekend
Prioritas Keuangan: Menabung, Operasional lalu Utang, Bukan Sebaliknya

MI/Iis Zatnika

POTONG dulu dana buat menabung di awal, baru gunakan sisanya untuk keperluan sehari-hari hingga membayar utang. Kiat itu dibagikan Sondang Samosir, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam peluncuran kampanye #IbuBerbagiBijak yang diselenggarakan Visa di Jakarta, Selasa (7/8).

Sondang merinci komposisi pengeluaran itu dalam persentase berikut:

- 20% untuk menabung, sangat disarankan dialokasikan langsung saat menerima pendapatan untuk menghindari lupa atau enggan karena merasa dana telah habis untuk kebutuhan yang lain.

"Untuk bentuk tabungan itu, kami serahkan pada masyarakat, yang pasti harus sesuai ketentuan yang diatur OJK maupun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tentunya ketika tabungan itu telah menjadi investasi juga harus dipahami, berlaku prinsip high risk, high return. Bentuknya bisa dalam bentuk tabungan, deposito, reksadana atau saham," ujar Sondang.

- 40% untuk pengeluaran sehari-hari, ini berlaku untuk rumah tangga maupun individu. Dalam mengelola pengeluaran ini, dibutuhkan keterampilan dan disiplin membedakan kebutuhan dan keinginan. 

- 30% untuk membayar utang, baik itu dari kartu kredit, rumah maupun kendaraan. Persentase utang yang melebihi 30% dipastikan akan membuat keuangan, bahkan kehidupan rumah tangga atau individu terganggu. "Sehingga sebelum berutang, hitung dulu apakah jumlah tagihan kita sudah mencapai 30%."

- 10% untuk pos dana darurat atau jaga-jaga, mengantisipasi keperluan mendadak yang harus dipenuhi, semisal anggota keluarga sakit atau membetulkan rumah.

Selain keperluan-keperluan di atas, penasehat keuangan Ligwina Hananto pada pelatihan literasi keuangan yang diberikannya bersama Media Indonesia juga mengingatkan agar jangan melupakan aspek berbagi. "Uang kita itu ada tiga fungsi, to spend, to save dan to share. Besarnya uang uang kita sumbangkan itu tergantung keinginan kita, namun disarankan juga dipotong saat menerima pendapatan," ujar Ligwina.

Sementara, terkait investasi, Sondang juga menyarankan agar kewaspadaan atau pemahaman keuangan, sama pentingnya saat kita mengatur pendapatan. 

"Jangan sampai uang kita tabung susah-susah itu amblas atau malah kita terjerat hutang karena memaksakan berinvestasi dengan berhutang."

Prinsip investasi yang dibagikan Sondang adalah:

- Legal, investasi itu diatur dengan jelas dalam regulasi dan diselenggarakan oleh lembaga yang sah. Pihak yang menyelenggarakan investasi secara legal dipastikan akan bersikap transparan atas regulasi yang menaunginya. 

- Logis, sistem keuntungan yang dibagikan masuk akal. Prinsip ini tak kalah pentingnya dipegang teguh oleh investor karena kerap kali pihak penyelenggara investasi membungkus bisnisnya sehingga seakan-akan legal, namun sebenarnya masyarakat dapat mendeteksi kecurangan mereka dari besaran pembagian keuntungan yang tidak logis. 

"Ketika sudah tidak logis, biasanya akan memacu investornya untuk serakah sehingga tidak berpikir panjang, kemudian menambah investasi dari berutang," ujar Sondang.

Kiat-kiat yang dibagikan Sondang itu, kata Riko Abdurrahman, Direktur Utama PT Visa Worldwide Indonesia, akan dibagikan Prita Gozie, penasehat keuangan serta pengusaha dan pesohor media sosial Jenahara pada 200 ribu perempuan yang menjadi target kampanye.

Perempuan, kata Riko, karena memiliki fungsi pengatur keuangan keluarga pun berperan besar pada perubahan di sekitarnya. "Kami ajak pengusaha yang berbasis di sosial media untuk menunjukkan peluang yang bisa dimanfaatkan karena keterampilan mengatur uang yang kemudian bisa disisipkan untuk modal usaha."

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More