Bumi Terancam Kondisi Hothouse

Penulis: Abdillah Marzuqi Pada: Rabu, 08 Agu 2018, 08:15 WIB Weekend
Bumi Terancam Kondisi Hothouse

ANTARA/Dedhez Anggara

SAAT ini banyak negara di belahan bumi barat dan juga beberapa negara Asia mengalami gelombang cuaca panas. Meski sudah terdengar mengkhawatirkan ada ancaman lain soal suhu bumi yang lebih menakutkan.

Kajian dari tim gabungan Australian National University dan Stockholm Resilience menyimpulkan bahwa kondisi 'Hothouse Earth' tetap beresiko terjadi meski amanat Kesepakatan Paris (Paris Agreement) tercapai. "Hothouse Earth' merupakan kondisi saat temperatur bumi stabil dalam jangka panjang pada 4-5°C di atas temperatur pra-industrial. Kondisi itu akan membuat permukaan air laut naik 10-60 meter dari saat ini.

Sementara Kesepakatan Paris mengamanatkan menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 2°C atau pada 1.5°C di atas suhu pra industri. Saat ini, suhu rata-rata global lebih dari 1°C di atas pra-industri dan meningkat pada 0,17°C per dekade.

Ancaman peningkatan suhu menjadi lebih dari 2°C itu terjadi karena efek domino setelah peningkatan suhu yang dibuat manusia. "Emisi yang dibuat manusia dari gas rumah kaca bukan satu-satunya penentu suhu Bumi. Studi kami menunjukkan bahwa kenaikan pemanasan global sebesar 2°C yang disebabkan manusia selanjutnya akan memicu proses sistem bumi yang disebut 'timbal balik'. Itu dapat mendorong pemanasan lebih lanjut, bahkan setelah kita berhenti memancarkan gas rumah kaca," kata peneliti kepala Will Steffen dari Australian National University dan Stockholm Resilience Center seperti dilansir oleh sciencedaily.com, Senin (6/8/2018). Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS).

Direktur Eksekutif Stockholm Resilience Centre, Johan Rockström menambahkan ketika kondisi 'Hothouse Earth' terjadi maka bumi menjadi tidak layak huni. Dalam kondisi itu daratan maupun lautan sudah lemah sebagai penyimpan karbon. Berbagai hutan mati, tutupan salju mencair dan permukaan air laut makin tinggi. 

Harus Bagaimana?
Dengan ancaman yang begitu mengerikan maka pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus dilakukan manusia? Peneliti mengemukakan, kini menekan emisi gas rumah kaca saja tidak cukup. 

Mereka menyatakan bahwa berbagai cara peningkatan dan peyimpanan karbon biologis baru, harus dilakukan. Misalnya, melalui perbaikan pengelolaan hutan, pertanian dan tanah, konservasi keanekaragaman hayati, dan teknologi yang menghilangkan karbondioksida dari atmosfer dan menyimpannya di bawah tanah.

Secara kritis, penelitian ini menekankan bahwa langkah-langkah tersebut harus didukung oleh perubahan sosial mendasar yang diperlukan untuk menstabilkan bumi pada suhu 2°C dari pra-industri. Dengan kata lain, cara hidup manusia yang boros emisi harus benar-benar diubah selain juga bahwa dalam tataran industri maupun negara harus beralih ke energi bersih dan berkomitmen pada penyelamatan lingkungan. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More