Menyikapi Dampak Gempa dan Membangun Masyarakat Sadar Bencana

Penulis: Bagong Suyanto Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga,Pernah melakukan studi tentang dampak bencana di Jawa Timur Pada: Selasa, 07 Agu 2018, 06:40 WIB Opini
Menyikapi Dampak Gempa dan Membangun Masyarakat Sadar Bencana

MI/Seno

BENCANA seringkali bukan hanya melahirkan suasana yang mencekam dan kepanikan massal, melainkan juga menyebabkan sejumlah warga masyarakat menjadi korban dan menderita kerugian yang tidak sedikit. Gempa bumi 7 skala Ritcher (SR) yang mengguncang wilayah di Nusa Tenggara Barat pada Ahad (5/8) lalu, misalnya, dilaporkan paling tidak telah mengakibatkan 91 orang meninggal dunia, ratusan orang luka-luka, dan ribuan rumah mengalami kerusakan.

Meski belum ada penghitungan pasti berapa jumlah kerugian yang ditanggung warga korban bencana, bisa dipastikan kelangsungan hidup masyarakat yang menjadi korban bencana akan terganggu. Selain tempat tinggalnya rusak, pekerjaan dan mata pencarian warga bisa dipastikan ikut terganggu.

Berbeda dengan problem para pengungsi yang sifatnya sementara dan lebih banyak berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan dasar, upaya penanganan korban bencana secara menyeluruh berkaitan dengan multiaspek.

Pascaterjadinya bencana, pemerintah bisa dipastikan tidak hanya bertanggungjawab menyediakan tempat-tempat penampungan, memberikan konseling bagi korban, dan melakukan rehabilitasi sejumlah fasilitas publik yang rusak. Namun, yang tak kalah penting ialah bagaimana memastikan masyarakat yang menjadi korban bencana dapat kembali melangsungkan kehidupan sosialnya.

Bencana, apa pun bentuknya, entah gempa bumi, banjir bandang, kekeringan, dan lain-lain, semua itu niscaya akan mengubah pola kehidupan dari kondisi kehidupan masyarakat yang semula normal menjadi rusak. Bencana yang datangnya selalu tiba-tiba tak terduga, selain menghilangkan harta benda dan jiwa manusia, juga akan berdampak merusak struktur sosial masyarakat, serta menimbulkan lonjakan kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi korban bencana.

 

Dampak berkepanjangan

Secara garis besar, yang namanya bencana dapat dibedakan menjadi dua, yaitu hazard dan disaster. Suatu bencana disebut sebagai hazard apabila bencana tersebut hanya menyerang area yang tidak berpenduduk, seperti gurun pasir, pulau terpencil yang tak berpenghuni, antartika, ataupun di antariksa, dan tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, suatu bencana disebut disaster apabila bencana tersebut memberikan dampak pada kehidupan manusia, menimbulkan kerusakan tempat tinggal, dan menyebabkan sejumlah jiwa tewas.

Dalam banyak kasus, terjadinya disaster niscaya akan melahirkan berbagai dampak. Salah satu yang mencemaskan ialah meningkatnya kadar kerentanan (vulnerabilities) masyarakat yang menjadi korban bencana.

Sebuah keluarga yang rumahnya tiba-tiba ambruk, lahan sawahnya terpaksa gagal panen, dan tabungannya terkuras habis untuk memenuhi berbagai kebutuhan pascaterjadinya bencana, tentu sulit diharapkan dapat segera pulih dari penderitaan yang mereka tanggung jika hanya mengandalkan pada kemampuan swadaya terbatas yang dimilikinya.

Secara teoretis, kerentanan (vulnerability) ialah suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bahaya. Keluarga-keluarga korban bencana yang sehari-hari miskin, tidak memiliki tabungan yang cukup, dan lain sebagainya, cepat atau lambat biasanya akan lebih berpotensi kolaps ketika mereka harus berjuang kembali setelah terjadinya bencana yang meluluhlantakkan kehidupannya.

Kerentanan akan menyebabkan kemampuan masyarakat yang menjadi korban bencana terkurangi kemampuannya untuk mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan berkurangnya kemampuan untuk menanggapi dampak buruk sebuah bencana.

Dua hal yang menjadi penyebab kenapa bencana yang terjadi di Tanah Air ini selalu menimbulkan dampak yang berkepanjangan.

Pertama, bencana yang datangnya tidak pernah bisa diduga, sering menyergap begitu saja masyarakat yang tinggal di daerah bencana tanpa ada persiapan sedikit pun untuk mengantisipasi dampak bencana yang terjadi.

Masyarakat yang tiba-tiba dihadapkan pada daya rusak gempa, jika sama sekali tidak ada persiapan, tentu risiko dan dampak yang ditanggung menjadi jauh lebih besar. Berbeda, misalnya, dengan masyarakat Jepang yang sudah terlatih menghadapi dampak terjadinya gempa. Di Jepang, kerugian akibat terjadinya gempa bumi seringkali bisa direduksi di tingkat paling minimal karena kesiapan masyarakat yang sudah tertata sejak lama.

Kedua, karena tidak didukung kesiapan dan kemampuan lembaga pemerintahan untuk mengantisipasi risiko terjadinya bencana. Di Indonesia, harus diakui model pendekatan yang masih kerap dipraktikkan dalam upaya penanganan bencana ialah pada sifatnya yang kuratif, dan lebih banyak berorientasi pada penyediaan kebutuhan dasar masyarakat korban bencana.

Bukan pada peningkatan kemampuan responsif masyarakat untuk menyikapi kemungkinan datangnya sebuah bencana. Upaya penanganan yang dilakukan setelah sebuah bencana terjadi, niscaya tidak akan mampu meredam meluasnya dampak sebuah bencana.

 

Sadar bencana

Keterlambatan dan model pendekatan yang lebih banyak berorientasi pada penanganan pascaterjadinya bencana, dalam banyak kasus telah terbukti membuat ongkos yang ditanggung menjadi jauh lebih besar. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, sepanjang mereka tidak dipersiapkan dan dilatih sejak dini untuk mampu menyiasati dampak terjadinya bencana, maka kemungkinan beban yang ditanggung menjadi lebih berat.

Sejumlah studi telah membuktikan, bahwa tiada atau kurangnya pendidikan sadar bencana masyarakat untuk mengantisipasi dan mengurangi risiko-risiko akibat bencana, sering menyebabkan upaya penanganan menjadi lebih sulit dan lebih mahal.

Kurangnya informasi dan pengetahuan masyarakat tentang dampak dan cara menyiasati bencana dapat menyebabkan kepanikan-kepanikan massal yang pada gilirannya akan menyulitkan penanggulangan dan upaya mereduksi risiko bencana.

Menggantungkan upaya penanganan bencana hanya kepada peran pemerintah, sesungguhnya akan menyebabkan masyarakat di daerah rawan bencana terancam kehilangan mekanisme self help mereka untuk menolong dirinya sendiri. Benar bahwa pemerintah tetap harus bertanggung jawab untuk membantu masyarakat keluar dari penderitaannya akibat bencana. Namun, tanpa didukung kesiapan dan kecerdasan masyarakat dalam menyikapi sebuah bencana, niscaya hasilnya tidak akan terlalu efektif.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More