Gempa Lombok Fakta Alam, Bukan Peristiwa Politik

Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pada: Senin, 06 Agu 2018, 16:58 WIB Opini
Gempa Lombok Fakta Alam, Bukan Peristiwa Politik

PERISTIWA bencana alam datang beruntun di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kabar terbaru, gempa bumi berkekuatan 7,0 skala Richter mengguncang Lombok, Minggu, 5 Agustus 2018 pukul 18.46 WITA. Beberapa hari sebelum gempa bumi menghancurkan rumah-rumah penduduk di Lombok Timur, Gunung Rinjani di NTB bergejolak dan memuntahkan lahar panas. Sangat disayangkan, peristiwa alam itu oleh sementara kalangan dikait-kaitkan dengan peristiwa politik. Dicocok-cocokkan dengan peristiwa kerapnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke provinsi tersebut.

Tak bisa dimungkiri, saat pemilu presiden (pilpres) digelar 2014, suara yang didulang Jokowi di NTB memang tidak signifikan dibandingkan dengan provinsi lain.  Bahwa kemudian Jokowi beberapa kali berkunjung ke NTB, saya yakini itu bukan "dalam rangka menuju Pilpres 2019" atau pencitraan, melainkan memang ada sesuatu yang harus dikerjakan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di sana.

Berdasarkan data (2015) dari Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat, sebanyak 36 dari total 995 desa di provinsi itu masih masuk katagori tertinggal karena belum mampu memenuhi lima dimensi pembangunan. Menurut BPS, lima dimensi yang harus dipenuhi agar NTB keluar dari katagori desa tertinggal, yakni dimensi pelayanan dasar yang terdiri atas pelayanan pendidikan dan kesehatan, dimensi kondisi infrastruktur, terdiri atas infrastruktur energi, air bersih dan sanitasi, serta infrastruktur komunikasi dan informasi. Saya yakin Jokowi dan timnya pasti sangat tahu tentang dimensi-dimensi itu, sehingga dipandang perlu pembangunan di provinsi tersebut dipercepat. Perhatian Jokowi terhadap NTB sama dengan ketika Jokowi peduli kepada rakyatnya di Papua.

Mendekati Pemilu Serentak 2019 yang di dalamnya ada pemilihan presiden, NTB memang semakin mendapat sorotan setelah Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi memberikan dukungan kepada Joko Widodo. Sebelumnya TGB dikenal sebagai tokoh yang berseberangan dengan Jokowi. Ia bahkan mendukung gerakan demo serial "nomor togel". Belakangan TGB mengaku sudah menyampaikan dukungan kepada Jokowi secara langsung saat Jokowi berkunjung ke NTB. "Jokowi layak menjadi presiden dua periode," katanya.

Pengakuannya itu kontan mendapat respons negatif dari kelompok yang menggaungkan tagar "2019 Ganti Presiden". Para pendukung tagar itu pun kemudian mengaitkan gempa bumi di Lombok sebagai wujud TGB dan Jokowi kualat kepada NTB. Pesan bernada seperti itu ramai di media sosial. Untuk mendramatisasi suasana, berita hoaks pun disebar. Buat masyarakat yang waras, opini sesat seperti itu tentu membuat kita tertawa dan layak memberikan perasaan iba kepada mereka, sebab kebodohan kok dipelihara tak mengenal waktu.

Sekali lagi, gempa bumi di NTB adalah fakta alam, bukan peristiwa politik. Bahwa sewaktu-waktu NTB akan diguncang gempa sudah bisa diprediksi, sebab posisi Indonesia berada di wilayah lingkar api. Saat saya menulis artikel ini, korban tewas akibat gempa di Lombok sudah mencapai 98 orang. Semoga jumlah itu tidak bertambah karena Presiden Jokowi sudah minta semua pihak terkait untuk menangani dampak pascagempa dengan baik.

"Tadi malam saya sudah memerintahkan kepada Menko Polhukam untuk mengoordinasi seluruh jajaran yang terkait dengan ini, baik BNPB, Kemensos, TNI, Polri, dan lainnya agar penanganan masalah gempa ini bisa dilakukan secepat-cepatnya, baik yang berupa evakuasi korban yang meninggal maupun yang luka-luka untuk segera ditangani termasuk penanganan logistik dan yang lain-lainnya," kata Jokowi.

Melihat jumlah korban, selayaknya fakta alam di NTB kita jadikan sebagai momentum untuk menggalang persatuan dan solidaritas, jangan justru dipolitisasi dengan opini-opini murahan. Bahwa kemudian ada partai politik yang menggalang bantuan di lokasi, silakan saja. Yang penting tidak memanfaatkan duka lara korban gempa bumi di Lombok sebagai panggung untuk berkampanye. Bantulah mereka dengan tulus.

Pagi tadi, GKJ Tangerang, komunitas gereja Kristen Jawa di Tangerang langsung menggalang donasi untuk membantu saudara-saudara mereka di NTB. Sang pendeta berinisiatif berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar dana yang terkumpul dari jemaat segara tersalurkan ke NTB. Sambil terus mengumpulkan uang dari jemaat, komunitas gereja itu mengirim lebih dulu dana yang sudah disiapkan ke Yakkum Emergency Unit (YEU), organisasi di bawah Sinode GKJ.

Informasi yang saya peroleh, YEU juga sudah mengirim dokter dan tenaga medis ke Lombok. Tak mau kalah sigap, para relawan Jokowi juga berinisiatif menggalang dana dan tenaga untuk membantu saudara-saudaranya di NTB yang tertimpa musibah. Dalam situasi seperti ini, sungguh sangat indah jika dampak peristiwa alam di Lombok semakin memperteguh persaudaraan dan solidaritas di antara kita. Apa yang terjadi di NTB sungguh tak elok jika kita politisasi dengan tafsir ngawur yang semakin mengikirkan persatuan di antara kita.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More