Selamat Tinggal Soekarno-Hatta?

Penulis: DONY TJIPTONUGROHO Pada: Minggu, 05 Agu 2018, 04:45 WIB Opini
Selamat Tinggal Soekarno-Hatta?

ist

AKSES masyarakat untuk menuju Bandara Soekarno-Hatta bertambah tidak lagi hanya kendaraan roda empat dan dua. Kereta api Bandara Soekarno-Hatta diresmikan beroperasi pada awal tahun ini. Namun, ada hal yang menurut saya menjadi ekses lain dari kereta itu.

Saya kutipkan beberapa judul berita yang terkait dengan hal itu. (1) Naik Kereta Bandara Soetta ke Sudirman Baru hanya 45 Menit, (2) Berapa Tarif Tiket Kereta Bandara Soetta ke Bekasi?, (3) KA Bandara Soeta: Sinergi Karya Anak Bangsa, (4) Railink Uji Coba Operasi KA BSH ke Bekasi, (5) Menteri Rini Lakukan Uji Coba Perdana Operasi KA BSH. Dari judul itu dapat diketahui bahwa Bandara Soekarno-Hatta dipendekkan menjadi Bandara Soetta, Soeta, atau BSH.

Sebenarnya, penyingkatan itu juga dilakukan masyarakat dalam percakapan sehari-hari. Entah mana lebih dulu, singkatan yang digunakan di media massa mengambil apa yang sudah dipraktikkan masyarakat atau masyarakat menerapkan apa yang dituliskan di media massa.

Namun, perlahan kian jarang orang akan menggunakan Soekarno-Hatta ketika menyebut bandara itu. Soetta atau Soeta atau BSH lebih praktis. Singkatan memang bukan hal baru untuk bandara. Lembaga penerbangan IATA dan ICAO membuat kode bandara dengan menyingkat nama.

CGK diberikan IATA untuk Bandara Soekarno-Hatta, sedangkan ICAO mendata sebagai WIII. Masalahnya ketika dipraktikkan di publik, Soetta atau BSH dapat mengikis tujuan awal penamaan bandara dengan nama dua tokoh penting di Republik Indonesia ini. Bukankah tujuannya mengenang dan menghargai jasa Soekarno-Hatta?

Apakah masih terlintas dalam diri hingga timbul getar di sanubari perihal Soekarno- Hatta ketika orang menyebut Soetta atau BSH? Jangan-jangan malah terlintas hal lain setelah menggunakan Soetta atau BSH.

Maklum, bukan
sekali-dua sebuah singkatan ternyata merujuk ke hal yang berbeda-beda.  Ada pula singkatan lain yang diterapkan untuk sebuah bandara. Padahal, singkatan itu juga populer untuk memendekkan suatu istilah. Ketika membaca Bandara SSK II, saya teringat pertama pada singkatan SSK yang pemendekan dari satuan setingkat kompi. Berikutnya barulah rujukan yang benar, Sultan Syarif Kasim II.

Meski merasa trenyuh atas penggunaan Soetta atau BSH, saya memaklumi bahwa dalam komunikasi, baik lewat media massa maupun lisan dalam percakapan,  penyebutan terus-menerus Soekarno-Hattadapat dinilai tidak praktis. Di sisi lain, pengguna bahasa sudah terbiasa dengan singkatan untuk nama atau istilah yang panjang.

HAMKA, misalnya, lebih dikenal daripada Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Begitu juga dengan bacaleg alias bakal calon legislatif yang sedang ‘musimnya’. Jadi, mengharapkan masyarakat berkukuh dengan Bandara Soekarno-Hatta mungkin tidak realis tis. Soetta atau BSH lebih praktis. Selamat tinggal Soekarno-Hatta?

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More