Saring Berita Hoaks dengan Google

Penulis: */M-3 Pada: Sabtu, 04 Agu 2018, 10:25 WIB Teknologi
Saring Berita Hoaks dengan Google

SUMBER GOOGLE

PERKEMBANGAN teknologi informasi yang kian cangih mempermudah orang untuk mendapatkan informasi tanpa batasan. Dengan kebebasan itu juga mendatangkan ke khawatiran karena banyak berita mis-disinformasi atau hoaks yang beredar.

Sayangnya belum ada angka pasti dampak dari beredarnya hoaks. Pasalnya belum ada alat untuk mengukur tingkat keparahan hoaks.

"Sebenarnya tidak ada alat untuk mengukur seberapa parah mis-disinformasi di daring saat ini. Kita hanya bisa melihat dampaknya. Misalnya di India, mis-disinformasi viral di grup Whatsapp (WA) bisa berdampak pada hilangnya nyawa. Kalau menghitung jumlah, sangat banyak. Tapi saya belum punya data untuk jumlahnya berapa," ujar Afwan Purwanto, Sekretaris Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Jakarta dalam Google News Initiative dan Internews bertajuk Halfday Basic Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene di Grand Cemara Hotel, Jakarta, Jumat (27/7).

Meski berkembang terus, motif hoaks pun beragam. "Banyak motif, buat lucu-lucuan, mengejar klik, sengaja memprovokasi, atau propaganda," ungkap Afwan.

Pernyataan Afwan itu pun diamini senior editor Kapan lagi Youniverse (KLY) Nurfahmi Budiarto. Apapun motifnya, hoaks menimbulkan keresahan di masyarakat dan cenderung negatif.

Namun, untuk menghentikan peredaran hoaks bisa dilakukan dari diri sendiri, Tidak langsung memercayai berita yang diterima secara mentah. Pembaca, kata Afwan, harus menyaring berita atau informasi yang didapatkannya sebelum dibagikan.

"Cara mencegah mis-disinformasi, selalu verifikasi setiap info yang diterima khususnya informasi yang sensasional. Prinsipnya kalau sharing harus saring. Cek selalu informasinya dan bandingkan dengan informasi dari media yang sudah ada. Jika perlu untuk beberapa peristiwa, bisa cek di akun medsos instansi yang terkait. Misalnya untuk info laka lantas cek di akun Twitter Polda Metro Jaya (khusus Jabodetabek), BMKG untuk gempa dan lain-lain," ungkapnya.

Banyak cara dan tools yang digunakan untuk menguji sebuah artikel, berita, atau informasi itu benar atau hoaks. Salah satunya menggunakan mesin peramban Google. Di Google ada tools bernama Google Reverse Images yang dapat membantu anda untuk menyaring kebenaran informasi.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More