SIPI Belum Juga Terbit Akibat Indikasi Pemalsuan Data

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Minggu, 22 Jul 2018, 17:00 WIB Ekonomi
SIPI Belum Juga Terbit Akibat Indikasi Pemalsuan Data

ANTARA FOTO/Aji Styawan

RATUSAN kapal nelayan di Kota Tegal, Jateng, sampai hari ini tidak bisa melaut akibat belum mengantongi SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan). 

Padahal, para pemilik kapal mengaku sudah membayar PNBP dan PHP ratusan juta rupiah untuk mendapatkan SIPI tersebut, dengan bantuan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal.

Akibat belum keluarnya SIPI, Pihak Otoritas Syahbandar tidak memberikan SPB (Surat Persetujuan Berlayar) serta SLO (Surat Laik Operasi) dari Satker PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan). Kapal yang semestinya sudah melaut, masih tertambat di pelabuhan Kota Tegal selama lebih dari dua bulan. lanjutnya.

Dampak lain yang dikhawatirkan pemilik kapal adalah soal pinjaman bank. Pemilik kapal banyak yang meminjam uang dari bank untuk modal dan operasional berlayar. Semakin lama kapal tidak bisa berlayar, pemilik dipastikan tidak bisa membayar angsuran bank.

Menanggapi hal tersebut Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementererian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar mengatakan Kementerian menemukan sejumlah indikasi adanya pelamsuan data sehingga belum menerbitkan izin.

"Dari proses review yang kami lakukan, banyak sekali indikasi pemalsuan informasi/dokumen perizinan yang diajukan oleh pemilik kapal selama ini. Hal ini sangat berpotensi menyebabkan kerugian negara," ujarnya saat dihubungi, Minggu (22/7).

Namun dia tidak merincikan hal-hal dalam dokumen yang dipalsukan. KKP meminta waktu untuk review lebih lanjut.

"Sehingga untuk membenahinya, butuh review dan pengecekan lagi. Insya Allah tidak lama lagi akan tuntas," tukas Zulficar. (OL-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More