Puisi

Penulis: La Ode Gusman Nasiru Pada: Minggu, 22 Jul 2018, 06:00 WIB Weekend
Puisi

MI/Tiyok

Perkawinan Dewi Dewa

Segaris mambang datang dari permulaan malam

nancap arah hingga timur pegunungan

bentang angin terluka di bawah kepak layang-layang

curam tebing disapu bayang-bayang

lahir dari perut lembah dan deras kali ambon

Di kali ambon seorang yatim dilahirkan semak-semak

belukar menjerat sejak dari kolong rumah

suara gong menggertak pekak

meniupkan arah mata air

bermuara hingga ke jeriken dan kendi-kendi

datang dari kejauhan layang-layang

Di kejauhan layang-layang para gadis dikutuk jadi

dewasa

menjelma putri khayangan

dipersunting para dewa

lelaki tak cukup boka ialah luka sejarah

tak lebih dari ludah para bangsawan

Putra bangsawan keluarga kaya menggelar pesta

tangis sang putri ditebas kehendak

mereka meraung dari berontak ke berontak

berlari ke rumah sang pujaan lelaki desa

Lelaki desa telah lama mati

di belakang rumah tempat ia bunuh diri

menanggung cinta tak sampai

menanggung malu abadi

Malu lelaki miskin, derita calon pengantin

perempuan kembali ke tangga rumah

orang-orang mempersiapkan pesta

riuh rendah hingga ke segala

perkawinan dewi dan dewa

suci tiada pula tercela

Tiada tercela hanya di muka

berganti masa berganti rasa

percampuran di atas cinta yang dipaksa

lelaki tergoda gula-gula dunia

perempuan merana menjadi janda

Kenang Budi Puan

: teruntuk Wa Ode Wau

Sebab ia tidak lahir dari deras arus kali ambon atau

ludah takdir yang ditujah ke lubang batu sebagaimana

para ksatria atau anak-anak dari dongeng para

leluhur yang kelak berubah gunung, batu-batu, hutan

jati, bentang savana.

Perempuan negeri butuni, berlayar hingga eropa

singgah minum di bandar tiongkok berdagang emas

juga tembaga, bertukar watak budi bahasa.

Sebab ia tidak lahir dari liang tak bernama

tempat sajadah para imam dibentang sepanjang doa

memaklumi kisah-kisah yang dituturkan ayah kepada

anak lelakinya

yang kelak berubah karang menyaksi sultan dari

selatan

memburu tawanan bone yang memohon suaka,

menanti perlindungan.

Perempuan negeri butuni diganjar hadiah oleh tuantuan

belanda

di ulang tahun tujuh belas tak terhingga harta benda

darah para bangsawan menderas di urat nadi

miskin tipu, miskin culas, ia menyusu segala bijak

segala luhur

miskin celaka, miskin bahaya, ia teguh pendirian pada

segala sukur.

Sebab ia tak dirawat rerumpun bambu, atau terbuang

dari bahtera Kubilai Khan

lantas berkuasa sepanjang sejarah di atas tanah yang

subur falsafah juga para arwah.

Perempuan negeri butuni, tak hingga jasa sepanjang

usia silsilah

benteng kukuh harga diri mewujud mimpi hingga

nanti

menanggung duka di muka sultan putra tenggara, di

tengah deras gelombang babad kudeta.

Bijak bestari punya handai hingga ke negeri tak

ternamai

perempuan negeri butuni, lenyap di lembar-lembar

riwayat

musnah dari kisah dan muasal.

*Dari kisah

kedermawanan Wa

Ode Wau atas

keterlibatannya

menjadi

penyumbang

terbesar dalam

pembuatan

Benteng

Keraton Buton

Siasat Sultan Buton

"Duli, tuanku. Demi marwah juga darah, karang pun

tembaga, binasa segala rupa.

Terkutuk mereka yang alpa. Sebab maut digenggam

titah ksatria, bukan di takdir para sahaya."

Seorang pendekar berdarah selatan, menarik badik

dari pinggang

menuding muka para tetua, membakar cuaca dengan

celaka

Seperti kisah-kisah lampau, tahun-tahun yang diingkari

para leluhur

syak wasangka adalah jalan lapang bagi dendam dan

amarah

angin darat menjadi tuba, daun-daun yang gugur, juga

sekuntum mawar

jadi abu di dada lelaki dan pelaut. Bukit karang tanjung

tebing menganga di bawah kaki. Garis bahar diterkam

cakrawala mengangkut angin kerajaan Gowa

"Tuan tentu tak ingin melihat darah di ujung badik

sang pendekar. Kami kebal akan muslihat.

Negeri-negeri yang jauh, juga kongsi dagang Belanda

pernah kami libas.

Nyawa Aru Palaka tak sebanding kepala prajurit dan

nganga luka di dada para pemuda membusuk diracun

lalat juga belatung."

Sang utusan berdiri di anjungan, suaranya menggigil

hingga ke hutan Lambusango awan mendung di

Kaisabu adalah juga nasib buruk yang kelak menimpa

Kamaru tiba di bentang Batauga, selimut rimba

Lasalimu tak ada ombak, ikan-ikan menahan napas.

sirip dan insang menepi di pucuk campang

kematianlah satu-satunya yang mengganas di kening

sultan di hari nahas.

"Demi tulah tujuh turunan, demi laknat juga serapah,

telapak putra Bone tidak berpijak di atas negeri

Butuni." Siasat ialah punya bijak bestari sebab di

peluk sesak ceruk, putra mahkota meringkuk dari

tumbuhan maut yang dipupuk.

Kapal-kapal pinisi mengangkut geram sisa kesumat

melintas di pulau Makassar kembali ke negeri

Mengkasar

jauh di Ujung Pandang jauh di kehendak bertandang.

*Dari kisah sejarah tentang upaya Sultan Buton

menyelamatkan Putra Bone, Aru Palaka, yang

meminta perlindungan dari kejaran tentara Gowa

Teh Jahe

Setamsil jahe dalam hikayat teh hangat

diasuh kalis rahim gelas

suci dari duli

dari tuba cuaca menjelma biji

risau di usus buntu seorang sekarat

Hangat yang menggigit lambung kita

lahir dari denting aduk perut cangkir

swara swargaloka

menyesap suguhan di tengah

gelaran ceker dan tape goreng

seamsal samadi para bikhu di muka vihara

menghamba ketenangan

menghamba sunyata

Segelas teh jahe adalah kitab yang dilupakan para tuhan

tanpa ayat atau surat-surat nukilan

ia mencatat riwayatnya sendiri

sebelum matari dilindas kaki langit

setelah angin lingsir di telapak purnama

Luruh ampas hangat teh jahe

pecah di kerongkongan

mendesak dosa-dosa tak kesudahan

memasak gejolak di ulu hati

pemaafan lebih panjang dari kiamat

Sebelum lambung dicuci getir cuka

kita menjelma budha

ingsut ke nibbana

tanpa kuasa diterjemahkan sebagai apa-apa.

Kendari, Agustus 2017

La Ode Gusman Nasiru, lahir di Bau-Bau, 18 Juni 1989, dan kini menetap di Kendari, Sulawesi Tenggara. Beberapa puisinya yang pernah terbit antara lain Meretas Karya Anak Bangsa, dan Pagi yang Mendaki Langit.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More