Maori, Berbagi Kisah, Menjaga Kultur

Penulis: Randy Mulyanto/(M-1) Pada: Minggu, 22 Jul 2018, 04:00 WIB Weekend
Maori, Berbagi Kisah, Menjaga Kultur

DOK. RANDY MULYANTO

Warga Rotorua, cara memasak di bawah tanah, upacara penyambutan, dan tarian perang dipamerkan dengan penuh kebanggaan.

SAYA berkunjung ke Selandia Baru pada akhir Februari lalu dengan harapan dapat mengenal kebudayaan Maori, penduduk asli negara itu, lebih dekat lagi. Selama di Rotorua---kota pusat kebudayaan Maori---saya menyambangi Te Puia yang menggabungkan arsitektur, budaya, serta penduduk Maori. Te Puia terletak di Lembah Te Whakarewarewa dengan lebih dari 500 fenomena geotermal.

Pemandu saya, Kirimatao West, mengajak saya untuk hongi seusai mengajari saya bagaimana melafalkan sebuah kalimat dalam bahasa Maori. Kiri memulai hongi, dengan menjabat tangan saya, memejamkan mata, lalu menempelkan dahinya ke dahi saya.

Ia menekan hidungnya ke hidung saya dua kali. Konon, hongi bermula dari legenda Maori tentang Hineahuone, perempuan pertama yang dibentuk dengan tanah liat. Dewa pencipta Tane lalu memberi napas kehidupan melalui lubang hidung Hineahuone.

Kehadiran Maori di Rotorua bermula dari Te Arawa---salah satu suku Maori---yang tiba di Selandia Baru pada pertengahan abad ke-14. Awalnya, kepala suku dan cucu Kupe bernama Houmaitawhiti dibuat sedih akan peperangan dan kurangnya sumber daya di tanah airnya Hawaiki. Ia lalu mengirim anak lelaki tertuanya dan anggota-anggota suku lainnya demi mencari tempat baru. Namun, Houmaitawhiti hanya berucap selamat tinggal. Usia tua menghalanginya untuk pergi.

Mereka pun meninggalkan Hawaiki, mengarungi lautan dengan kano berlambung ganda. Perjalanan mereka berakhir di daerah Bay of Plenty, Pulau Utara di Selandia Baru. Sebagian memutuskan bermukim di sekitar danau Rotorua. Mereka hidup memanfaatkan uap dan air dari panas bumi setempat.

Menjaga arus pelancong

Rotorua ramai dikunjungi wisatawan dunia sejak 1880-an, berkat Pink and White Terraces-nya, yang dijuluki sebagai 'keajaiban kedelapan dunia'. Masyarakat Te Whakarewarewa telah memandu para pelancong mancanegara pertama di Selandia Baru dari dan menuju teras tersebut.

Namun, erupsi Gunung Tarawera pada 1886 melenyapkan teras itu. Seusai gunung meletus, penduduk setempat digabungkan untuk menciptakan filosofi manaakitanga atau menjamu. "Manaakitanga," kata Kiri yang telah memandu lebih dari tiga dekade di sini. "Itulah bagaimana kami memandu orang-orang."

Kiri memperlihatkan kepada saya kompor uap tepat di seberang air mancur panas. Bagaimana metode memasak tradisional Maori ini bekerja?

Lubang awalnya digali untuk menaruh makanan. Makanan seperti kerang, kentang, ubi, ayam, burung, makanan laut, serta jagung lalu ditaruh dalam keranjang. Setelahnya, keranjang dikubur dalam tanah.

Kayu pun dibakar dengan batu vulkanik. Uap memberi rasa pada makanan. Panas dari uap bertahan sampai 8 hingga 9 jam. Makanan pun sehat karena dibuat alami. Meski berada di daerah panas bumi, sulfur tak sampai menembus ke dalam makanan.

Generasi pemandu

Kiri lalu membawa saya melihat wharepuni atau pondok tradisonal masyarakat Maori. Dibangun tanpa paku baja, atap bagian luarnya dibuat dengan lapisan toi---pohon asli Selandia Baru---yang berdaun lebar. Atap dalam dibikin menggunakan bulrush, rumput tinggi di tepian sungai. Dinding pinggir dibuat dengan rami kering, sedangkan tembok depannya dengan rumput buluh. Tikar pun ditenun untuk alas tidur di lantai. Mereka makan di luar dan tidur di dalam pondok. Api unggun juga diletakkan di luar wharepuni. Mulai 1800-an, para imigran Eropa baru memperkenalkan rumah berikut ruangan-ruangan dengan berbagai fungsi, seperti dapur dan ruang tamu ke Selandia Baru.

Banyak pemandu Te Puia besar di Lembah Te Whakarewarewa. Mereka telah memandu selama beberapa generasi. Salah satunya Kiri, pramuwisata generasi keempat di Te Puia.

Di tempat berkumpul bernama Te Whare Wananga A Hatupatu---yang masih berdiri sejak abad ke-20 di Te Puia---Kiri melanjutkan kisahnya. Ia memberi tahu saya kalau para pramuwisata di sini mulai memandu sejak 1901. Ia menambahkan, segala pembimbingan dibagikan secara turun-temurun tanpa memerlukan buku.

Budaya Maori sempat berkembang tanpa bahasa tertulis. Dengan mendongeng, orang Maori merekam sejarah dan bercerita. "Tidak pernah punya kertas, maka kami tidak bisa menulis," ujar Kiri.

Untuk memahami sejarah, mereka mengetahuinya dari kayu-kayu yang diukir. Mereka juga memanfaatkan tenunan dan seni pertunjukan untuk berkisah.

Kini bahasa Maori bisa dikenali lewat tulisan. Di dalam Te Whare Wananga A Hatupatu terdapat gaya-gaya ukiran berbeda oleh pelbagai suku Maori. Setiap pengukir memiliki cirinya sendiri. Para anggota suku bisa mengenali pencipta ukiran itu.

Bangunan kedua di samping Te Whare Wananga A Hatupatu ialah pataka atau gudang. Digunakan untuk menyimpan makanan, struktur pataka dibikin di atas tumpukan untuk ventilasi dan menghalangi tikus masuk. Untuk mencapainya perlu memanjat tiang kayu. Di puncak pataka terdapat tekoteko atau ukiran bentuk manusia yang mewakili sosok pendahulu penting suatu suku. Pintu jebakan terkadang terpasang di tanah.

Batu hijau dan insang paus

Saya selanjutnya berjalan ke New Zealand Maori Arts & Crafts Institute atau NZMACI yang masih satu kawasan dengan Te Puia. Diresmikan pada 1963, NZMACI didirikan agar kesenian Maori tak lenyap. NZMACI memiliki program dua tahun untuk mempelajari kesenian Maori dengan mengukir batu hijau dan tulang insang ikan paus.

Keduanya merupakan material langka. Batu hijau atau pounamu hanya ditemukan di beberapa bagian Pulau Selatan di Selandia Baru. Lain lagi dengan tulang insang ikan paus atau paraoa yang hanya bisa diambil setelah paus sperma mati akibat terdampar. Paraoa memiliki hubungan spiritual yang kuat dengan Tangaroa, dewa laut.

Ini tahun keempat Rick Peters sebagai pengukir di sini. Salah satu kreasi Rick yaitu kapeu, liontin telinga tipis dengan ujung bawah yang melengkung. Ornamen ini ditaruh di atas atau dekat kepala, bagian tubuh paling keramat bagi orang Maori. Membuat kapeu hanya butuh beberapa jam.

Sementara itu, hei tiki, liontin dengan wujud janin manusia, membutuhkan tiga hingga lima hari tergantung detailnya. Ketika ditanya mengapa ia menekuni bidang ini, ia sekadar ingin mengembalikan bentuk-bentuk seni dalam budaya Maori. "Untuk melanjutkan budaya kesenian kami, dan barangkali kembali ke suku saya untuk mengajari mereka," jelasnya.

Sehabis menyambangi institusi kesenian itu, saya kembali ke rotowhio marae, halaman pertemuan pusat komunitas Maori. Sekarang saatnya powhiri, upacara penyambutan. Kami diminta untuk tidak berisik karena upacara Maori yang resmi haruslah tenang. Upacara bermula saat kepala suku keluar dari Te Aronui-a-rua, rumah pertemuan, dengan tombak. Ia melangkah menghampiri dan menantang pendatang. Para prajurit Maori berdiri di belakangnya. Ketua suku dan tamu berdiri berhadapan. Salah seorang rombongan pengunjung lalu menjadi perwakilan tamu. Prosesi dilakukan untuk mengetahui apakah pengunjung datang dengan damai atau sebaliknya.

Jika orang asing itu dianggap datang untuk tujuan baik, mereka dipersilakan masuk ke rumah. Di rumah ini pula dipercaya terdapat para pendahulu. Banyak yang berdoa kepada nenek moyang untuk mencari jawaban.

Saya berada dalam rumah pertemuan itu untuk menyaksikan pertunjukan budaya Maori. Prajurit-prajurit lalu menyanyi dan menari. Ada lagu tentang kesengsaraan romansa, dinyanyikan seorang pria dan seorang perempuan.

Petikan gitar mengiringi para perempuan yang mengayunkan poi. Dalam bahasa Maori, poi berarti bola di tali. Orang Maori mengayunkan bola untuk meningkatkan kekuatan maupun keluwesan tangan dan lengan. Bola putih dipegang di tangan kiri, sedangkan bola merah di tangan kanan. Sambil mengikuti ritme, poi pun diputar. Poi memungkinkan tangan perempuan tetap lentur saat menenun.

Atraksi tongkat

Sesi berikutnya yaitu ti rakau atau permainan tongkat. Saya melihat tiga kelompok pria dan wanita saling berhadapan. Setiap dari mereka memegang tongkat. Mereka melempar tongkat ke rekan di depan, sambil menangkap tongkat dari rekannya dengan iringan nyanyian. Siapa yang menjatuhkan tongkat pun tersingkir. Selama pementasan, saya memperhatikan tongkat berganti tangan dengan cepatnya. Tak sekali pun tongkatnya jatuh.

Sekarang sampailah kepada bagian pementasan yang garang, yakni haka dance. Keempat prajurit pria melakukan tarian perang. Laga dimulai. Mereka beraksi dengan menggenggam stik dan menyanyi keras-keras. Mereka menjulurkan lidah, mengentakkan kaki, serta menampar dada dan paha dengan keras untuk mengikuti nyanyian. Keempat prajurit perempuan kemudian bergabung di belakang mereka. Inilah tarian di medan perang yang masih menjadi bagian upacara Maori.

Saya teringat kalau Kiri telah menganggap saya keluarganya sesaat setelah hongi. "Hongi adalah sapaan Maori dan itu merupakan dua napas kehidupan yang bergabung menjadi satu," kata Kiri tadi. "(Hongi) mempertemukan dua bentuk kehidupan." Kami memiliki kekuatan satu sama lain. Kami telah membentuk persahabatan yang kekal. Dari Rotorua saya membawa pulang makna kekeluargaan dan sosok leluhur dalam diri seseorang.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More