Fabel Politik

Penulis: Marwan Fitranansya, Staf Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 22 Jul 2018, 01:30 WIB BIDASAN BAHASA
Fabel Politik

Dok. Pribadi

POLITIK memang identik dengan persaingan. Siapa pun yang sudah masuk ke ranah sensitif itu pasti berlomba-lomba menjadi pemenang. Apa pun caranya akan ditempuh, jangan heran kalau pada akhirnya muncul istilah pencitraan. Pencitraan bisa dengan cara positif dan bisa pula 'menghalalkan' segala cara. Salah satunya dengan sindir-menyindir dan menggunakan tamsil binatang.

Penganalogian kepribadian manusia dengan binatang seperti ini memang bukan hal yang baru. Istilah ini bisa disebut fabel. Fabel memang lazim menjadi media pembelajaran yang baik, khususnya untuk anak-anak agar kelak menjadi manusia yang bijak dan bisa membedakan baik-buruknya suatu hal, salah satunya cerita Si Kancil. Cerita yang menggambarkan kecerdikan dan kelicikan kancil yang selalu bisa mengelabui siapa pun agar keinginannya tercapai.

Dalam kehidupan sehari-hari, sadar ataupun tidak, pasti kita selalu memberikan pesan kepada orang lain yang ditamsilkan dari binatang. Contoh bijaknya, "Jangan mengulangi kesalahan yang sama, keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama."

Penyimbolan kepribadian manusia melalui binatang seakan memberikan pesan halus kepada orang yang bersangkutan agar tidak tersinggung dengan ucapan kita. Namun, akan berbeda makna apabila penyimbolan binatang berlangsung dalam ranah politik. Urusan politik, sekali lagi, memang sangat sensitif. Apabila terjadi kesalahan, pasti akan menjadi masalah yang dibesar-besarkan. Bahkan, tak jarang bisa memecah-belah masyarakat demi urusan pribadi dan golongan.

Penyimbolan kepribadian manusia seumpama binatang yang berkaitan dengan politik akhir-akhir ini viral lagi. Kita tentu masih ingat dengan istilah 'kecebong' dan 'kampret'.

Kecebong bisa dibilang larva binatang amfibi. Bakal kodok ini biasanya hidup bergerombol dan belum bisa hidup mandiri. Kalau sampai ia dalam keadaan sendiri, pasti akan menjadi makanan empuk binatang lain. Tamsil itu pun bermakna orang yang cenderung selalu mengikuti arus dan tak memiliki pendirian.

Sementara itu, kampret bisa dikatakan anak kelelawar. Apa pun yang dilakukan kelelawar, pasti akan menjadi cerminan si kampret dalam bertindak. Dalam hal penyebutan, kampret juga memiliki kesan yang tak enak didengar dan tergolong kasar. Tamsil itu pun merepresentasikan orang yang cenderung berkata kasar dan tak peduli pada asas kesopanan karena mengikuti orang yang diidolakan.

Olok-olok 'kecebong' dan 'kampret' kian menuai reaksi penolakan dari sejumlah tokoh bangsa ini. 'Kecebong' dimaknai pula sebagai orang yang belum memiliki pemahaman mumpuni (anak kemarin sore) di bidang politik, sedangkan makna 'kampret' mewakili karakter penghujat yang berbeda pandangan pilihan. Padahal, perbedaan merupakan hal yang lumrah dalam demokrasi, utamanya dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More