Tingkatkan Literasi Gizi Masyarakat

Penulis: (Nik/H-1) Pada: Rabu, 18 Jul 2018, 01:15 WIB Kesehatan
Tingkatkan Literasi Gizi Masyarakat

thinkstock

PEMERINTAH harus terus meningkatkan literasi gizi masyarakat serta menyusun kebijakan berbasis eviden. Di sisi lain, masyarakat diimbau jangan mudah terprovokasi dengan kehebohan yang terkait dengan konsumsi suatu jenis makanan ataupun minuman.

Hal itu diungkapkan Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PKGK FKM UI), Ahmad Syafiq, menyikapi pembahasan soal susu kental manis (SKM) yang belum lama ini sempat ramai di masyarakat.

"Pemerintah diharapkan memberikan edukasi kepada masyarakat agar masyarakat tidak resah dan kebingungan dengan informasi yang beredar. Sementara itu, masyarakat perlu bijak dalam menyikapi kehebohan, tidak panik dan meningkatkan pengetahuan mengenai gizi seimbang serta kebutuhan dan kecukupan gizi. Kita harus mau mencari informasi dari ahli gizi yang kompeten,” kata Syafiq di Jakarta, pekan lalu.

Terkait dengan SKM, lanjutnya, berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No 21/2016, produk tersebut merupakan salah satu dari sembilan jenis produk yang masuk subkategori susu kental. Kesembilan jenis itu ialah susu evaporasi, susu skim evaporasi, susu lemak nabati evaporasi, susu kental manis, susu kental manis lemak nabati, susu skim kental manis, krim kental manis, krimer kental manis, dan khoa.

"SKM memiliki kadar protein yang relatif lebih tinggi daripada jenis lainnya dalam kategori susu kental. Siapa saja boleh mengonsumsi SKM dalam jumlah tidak berlebihan. Namun, susu kental manis tidak cocok untuk bayi dan perlu juga diperhatikan bahwa kebutuhan pertumbuhan anak perlu konsumsi protein hewani yang cukup sehingga diperlukan asupan protein dari sumber hewani,” terang Syafiq.

Ia juga menegaskan bahwa gula dalam SKM bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Gula dalam susu kental manis dibutuhkan untuk mencegah kerusakan produk. "Dalam proses pembuatan SKM, air dari susu diuapkan, ditambahkan gula yang juga berfungsi sebagai pengawet, sehingga gula memang dibutuhkan dalam produk SKM."

Yang terpenting, lanjut Syafiq, konsumsinya tidak berlebihan. Pada dasarnya, asupan sehari-hari harus bervariasi dan seimbang. "Perlu diingat bahwa semua jenis makanan saling melengkapi. Tidak ada makanan atau minuman tunggal yang mampu memenuhi kebutuhan gizi seseorang."

Sebelumnya, dalam jumpa pers di Aula Gedung C Badan POM, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Senin (9/7), Kepala Badan POM Penny Lukito mengatakan SKM merupakan produk yang mengandung susu dan aman untuk dikonsumsi, tetapi tidak boleh diberikan kepada bayi. (Nik/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More