LSI: Cita-cita Membentuk Negara Islam Menguat

Penulis: Golda Eksa Pada: Selasa, 17 Jul 2018, 19:30 WIB Politik dan Hukum
LSI: Cita-cita Membentuk Negara Islam Menguat

MI/Susanto

PENELITI Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa mengemukakan hasil survei terkait fakta menguatnya cita-cita publik untuk membentuk Indonesia sebagai negara Islam. Secara sederhana, publik menginginkan nilai-nilai agama masuk dalam nilai pemerintahan.

"Publik ingin Indonesia berdasarkan agama. Artinya, agama mengatur banyak hal dalam kehidupan publik yang masuk dalam pemerintahan," ujar Ardian kepada wartawan seusai konferensi pers terkait hasil survei bertajuk Menurunnya Pro Pancasila dan Harapan pada Capres, di kantor LSI, Jakarta, Selasa (17/7).

Menurut dia, apakah cita-cita tersebut diperbolehkan atau tidak, LSI berpandangan bahwa setiap orang atau warga negara berhak memiliki cita-cita apapun. Hal itu dipersilakan selama tidak menyalahi hukum nasional serta tidak melakukan tindak kejahatan yang menyimpang dari regulasi.

Menguatnya wacana publik mendirikan negara berdasarkan Islam, sambung dia, berpangkal dari fakta menurunnya masyarakat yang pro terhadap Pancasila. Penurunan itu lantaran publik menghendaki NKRI bersyariah.

Dalam kurun 13 tahun terakhir, sambung dia, publik yang pro-Pancasila menurun sebanyak 10%. Pada 2005 hal itu masih berada di poin 85,2%, 2010 (81,7%), 2015 (79,4%), dan kembali anjlok menjadi 75,3% di 2018. Meski masih mayoritas, namun fakta terjadinya penurunan sebesar 10% tetap perlu mendapat perhatian serius.

Di sisi lain, publik yang pro terhadap NKRI bersyariah justru mengalami kenaikan dari 4,6% di 2005 menjadi 7,3% di 2010. Angka tersebut kembali merangkak pada 2015 dengan 9,8% dan 13,2% pada 2018.

"Dalam kurun 13 tahun ada kenaikan persetujuan publik terhadap NKRI bersyariah sebesar 9%."ungkapnya.

Realitas itu disebabkan tiga hal. Pertama, alasan ekonomi, yaitu adanya ketidakpuasan kalangan bawah akibat melebarnya kesenjangan ekonomi dari waktu ke waktu. Kedua, intensifnya paham alternatif di luar Pancasila terbukti mampu menarik warga muslim. Ketiga, paham Pancasila semakin tidak tersosialisasi secara efektif dari masyarakat ke masyarakat.

Menurutnya, pemerintah sebaiknya segera mengambil langkah untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila. Misalnya, dengan memperkuat kinerja Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) serta kembali memunculkan 4 pilar kebangsaan kepada masyarakat, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan NKRI.

"Termasuk bagaimana masyarakat yang ada melakukan sosialisasi, seperti membentuk forum bersama yang lebih powerfull untuk menciptakan dan mewacanakan isu kebersamaan dan kebangsaan," tutup dia. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More