Perempuan Berdaya di Lahan Gambut

Penulis: Zuq Pada: Sabtu, 14 Jul 2018, 12:26 WIB Humaniora
Perempuan Berdaya di Lahan Gambut

MI/ABDILLAH M MARZUQI

TELAPAK tangan Hidayah, 31, menggenggam butiran pakan ikan. Begitu erat jemarinya mencengkeram seolah tak ingin sebutir pun palet terlepas sebelum dikehendaki. Begitu telah berada di atas kolam buatan, ia menaburkan pakan itu. Ikan lele yang berada di dalam pun sontak membuka mulut, beradu dengan lele lain untuk mendapat jatah makan siang.

Pelet yang digunakan bukan hasil pabrikan, melainkan dibuat sendiri dengan bahan alami yang telah tersedia di lingkungan sekitar. Lahan gambut ternyata punya bahan melimpah untuk membuat pelet, seperti azolla atau gulma gambut. Hidayah tinggal di tengah lahan gambut yang rawan terbakar.

Lingkungan tempatnya tinggal tidak mengizinkan api tak terkontrol yang bisa berakibat pada kebakaran lahan gambut. Jika hal itu terjadi, tragedi 2014 akan berulang kembali saat ia dan keluarga harus hidup dalam kubangan asap. Semua aktivitas mandek. Sekolah anaknya pun terpaksa diliburkan.

Hidayah ialah salah 1 dari 20 anggota Kelompok Perempuan Bunga Desa di Selingsing, Kelurahan Pelintung, Kec Medang Kampai, Kota Madya Dumai. Kelompok perempuan itu ialah salah satu kelompok binaan The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) yang bermitra dengan Riau Women Working Group (RWWG) dalam Program Mitigasi Berbasis Lahan dengan dana sekitar Rp2,5 miliar yang didanai The UK Climate Change Unit (UKCCU). Program itu berusaha menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mengurangi emisi karbon melalui teknik budi daya ikan lele dengan biofloc dan kegiatan agroforestri jahe merah yang bermula sejak Februari 2017.

Perempuan disasar sebab mereka ialah pihak yang terkena dampak perubahan iklim. Sebab itu pula, program itu berjudul Inisiasi Kelompok Perempuan dalam Mengurangi Emisi yang Berasal dari Kebakaran Hutan, Kebun, dan Gambut. Setahun berlalu, aktivitas itu telah membuahkan hasil yakni panen pertama ikan lele dengan teknik biofloc (5/7).

"Isu perempuan dan gambut belum banyak diungkap padahal perempuan yang paling terdampak perubahan iklim. Tujuan utamanya agar tidak ada lagi lahan gambut terbakar yang akhirnya memproduksi asap," terang Direktur Eksekutif Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Tonny Wagey.

Mustahil muncul perubahan tanpa kesadaran. Bagi Hidayah, menjaga lingkungan gambut saat ini menjadi salah satu prioritas. Sudah cukup ia melihat anaknya sakit sebab asap yang muncul dari kebakaran lahan gambut 2014 lalu.

Namun, tidak hanya untuk mencegah kebakaran dan emisi karbon, Kolam lele menjadi harapannya untuk bisa meningkatkan perekonomian keluarga. Menurut Hidayah, ada yang banyak yang bisa dilakukan untuk menghidupi orang yang disayangi selain dengan membuka lahan dengan membakar. Kesadaran dan pemahaman lingkungan itu muncul seusai Hidayah bergabung dalam program.

"Ibu-ibu di sini pikirannya sudah terbuka. Perempuan itu bisa berpartisipasi dalam menjaga lingkungan, bisa melakukan kegiatan ekonomi. Perempuan harus," ujar Hidayah.

Biofloc

Lima kolam itu dibuat dengan teknik budi daya ikan lele dengan teknik biofloc. Teknik ini cocok untuk membudidayakan ikan di lahan terbatas ataupun yang berkualitas air buruk, seperti lahan gambut.

Garis tengah kolam buatan itu hanya sekitar 2,5 meter dengan jumlah bibit ikan sekitar 1.000-1.500 ekor. Kepadatan ikan memang disengaja. Sebabnya, teknik biofloc memanfaatkan bahan organik dari kotoran ikan untuk diubah menjadi makanan lagi, selain pakan pelet yang diberikan. Sebelum bibit ikan dimasukkan, terlebih dahulu air kolam diolah untuk menyesuaikan kadar keasaman air (ph) dengan yang dibutuhkan ikan lele. Air kolam lalu dicampur dengan probiotik dan didiamkan selama seminggu.

Kolam biofloc dipilih karena sesuai dengan semangat program, yakni mendorong keterlibatan perempuan dalam tata kelola hutan dan sumber daya gambut. Biofloc bisa diterapkan di lahan yang sempit seperti di pekarangan rumah.

Dengan demikian, perempuan bisa mengelolanya tanpa harus meninggalkan rumah. Artinya mereka masih bisa menjalankan kewajiban rumah tangga sembari menambah penghasilan keluarga. Jika diterapkan di sekat kanal, selain jaraknya jauh, kualitas air tidak mendukung pembudidayaan ikan lele.

"Saya ingin buat yang berdekatan dengan rumah. Tanpa harus meninggalkan rumah, mereka juga bisa menghasilkan," terang Direktur RWWG Sri Wahyuni.

Pembudidayaan ikan lele ternyata juga punya potensi besar. Berdasarkan data dari Dinas Perikanan Kota Dumai, kebutuhan konsumsi ikan di Dumai mencapai 24,2 ton/hari yang terdiri atas air tawar dan air laut. Kebutuhan ikan air tawar sebanyak 4,6 ton.

Dumai hanya mampu menyediakan 1,6 ton per hari, sedangkan 3 ton masih harus didatangkan dari luar Dumai. Artinya Kelompok Bunga Desa mempunyai peluang besar dari 3 ton ikan air tawar tersebut. Dengan harga sekitar 18 ribu/kg, masih ada peluang untuk meraup 2,4 miliar dari pasar domestik.

Selain pembudidayaan ikan lele, masih ada lagi aktivitas pemberdayaan perempuan untuk mitigasi berbasis lahan. Salah satunya ialah budi daya tanaman jahe merah dengan sistem agroforestri yang dilakukan Kelompok Perempuan Mundam Bersatu di Mundam, Kec Medang Kampai, Dumai. Jahe merah dipilih karena harga komoditasnya cukup baik. Selain itu, jahe menjadi komoditas yang cukup menjanjikan.

Berdasarkan data BPS, produksi jahe Indonesia sebanyak 216,6 juta kg (2017), 340,1 juta kg (2016), 313 juta kg (2015), dan 226 juta kg (2014). Sementara itu, data Kemendag menyebut impor jahe pada 2014 sebesar 2,8 juta kg. Jumlah itu naik pada 2015 menjadi 6,8 juta kg. Artinya masih sangat terbuka peluang untuk pasar jahe dalam negeri, belum lagi untuk luar negeri, sebab Indonesia sempat tercatat sebagai eksportir jahe terbesar didunia dengan pangsa ekspor 21,2% pada 1999. Namun, ekspor jahe Indonesia ke dunia mengalami penurunan hingga hanya 2,5% pada 2015.

Kelompok Perempuan Mundam Bersatu tidak hanya menanam, tetapi juga diajari mengolahnya menjadi produk makanan seperti dodol jahe, minuman, dan permen jahe. Harapannya jika lahan gambut mereka bisa menghasilkan, mereka dapat berbaik-baik dengan lingkungan gambut.

"Perempuan punya peran besar selain keluarga, tapi juga peran restorasi gambut," tegas Direktur Lingkungan Hidup Bappenas RI Medrilzam yang juga menjadi Sekretaris MWA ICCTF.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More