Caleg Perempuan Masih Sulit Tembus Parlemen

Penulis: Putri Anisa Yuliani Pada: Sabtu, 14 Jul 2018, 11:41 WIB Politik dan Hukum
Caleg Perempuan Masih Sulit Tembus Parlemen

MI/SUSANTO

DIREKTUR Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini berpendapat, hingga kini, perempuan masih sulit untuk menembus parlemen.

Tidak hanya menembus parlemen, Titi juga menilai perempuan masih sulit mendapat dukungan besar partai politik guna diusung dalam pemilihan legilatif.

"Kebijakan afirmasi yang dibangun pemerintah masih sulit diwujudkan parpol. Masih banyak parpol yang kesulitan memenuhi nominal 30% perempuan di deretan calon legislatif di tiap daerah pemilihan," kata Titi di diskusi Perspektif Indonesia bertema Gampang Susah Cari Caleg yang dilaksanakan di Gado-Gado Boplo, Jakarta Pusat, Sabtu (14/7).

Tidak adanya dukungan parpol dalam hal sumber daya ditengarai menjadi faktor utama yang menyebabkan perempuan kurang aktif dalam dunia politik.

"Tidak ada insentif dari segi sumber daya. Sementara perempuan yang sudah pernah maju lalu kalah kemudian menghitung ulang kembali peluangnya. Namun, ketiadaan sumber daya membuat mereka urung maju kembali," ujarnya.

Tidak hanya itu, politik transaksional yang masih kerap mewarnai proses pencalegan kader ditengarai juga menjadi faktor kurang kuatnya potensi perempuan berada di kursi parlemen. Terbukti saat ini komposisi perempuan di DPR RI barumencapai 17,3% saja.

Untuk itu, Titi berharap agar parpol mau benar-benar serius menggiling kader perempuan menjadi kader yang mumpuni dan juga memberi dukungan kuat. Pemerintah pun diminta menggunakan daya dorongnya untuk memaksa para parpol agar mau lebih mengakomodir kader perempuan dan tidak menjadikannya bagian yang terpinggirkan dalam parpol. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More