Les Bleus Ingin Kubur Kenangan Pahit Euro 2016

Penulis: Nurul Fadillah Pada: Sabtu, 14 Jul 2018, 06:00 WIB Sepak Bola
Les Bleus Ingin Kubur Kenangan Pahit Euro 2016

AFP PHOTO / FRANCK FIFE

STADION Luzhniki, Moskow, Minggu (15/7), akan menjadi arena pertarungan Prancis dan Kroasia untuk menjadi yang terbaik di dunia. Kedua negara akan tampil di laga final Piala Dunia edisi ke-21.

Prancis pernah merebut trofi juara saat menjadi kampiun pada 1998. Saat itu les Bleus merupakan tuan rumah, sedangkan Kroasia belum pernah mencicipi nikmatnya menjadi juara dan baru pertama lolos ke final.

Prancis yang ditangani Didier Deschamps, kapten tim saat menjadi juara pada 1998, dinilai lebih berpeluang memenangi laga. Namun, Kroasia yang dimotori Luka Modric disebut memiliki peluang membalikkan semua prediksi yang mengunggulkan Prancis.

Bagi Prancis, final Piala Dunia 2018 merupakan laga puncak kedua turnamen besar yang mampu dicapai secara beruntun. Dua tahun silam, Prancis yang menjadi tuan rumah Euro 2016 sukses melangkah ke final. Namun, di laga pemungkas, Prancis dibungkam Portugal 0-1.

Kenangan pahit di Stade de France, Saint-Denis, dua tahun silam itulah yang ingin dihilangkan selamanya oleh Prancis dengan memenangi final Piala Dunia 2018. Menurutnya, kesedihan akan kegagalan dua tahun silam memang telah menghilang.

"Namun, kenangan pahit itu tetap masih ada di sudut kecil pikiran bangsa Prancis. Kenangan pahit itu ingin kami hilangkan dalam final nanti. Kekalahan itu memberi pelajaran kami bagaimana seharusnya tampil di final," ungkap gelandang Prancis Blaise Matuidi.

Perketat pengamanan

Pemerintah Prancis akan meningkatkan pengamanan di akhir pekan ini. Pasalnya selain laga final Piala Dunia, pada akhir pekan ini, Prancis akan merayakan Hari Bastille, yang jatuh pada hari ini.

Untuk mengawal dua event besar tersebut, Prancis akan mengerahkan 110 ribu petugas keamanan yang akan disebar di seluruh wilayah. Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerard Collomb, mengatakan semua dilakukan agar masyarakat bisa merayakannya dengan tenang.

"Semuanya masih dalam proses sehingga Prancis bisa menjalani momen meriah tersebut dengan pikiran yang tenang meskipun ada ancaman teroris yang masih berada pada tingkat yang tinggi," ujar Collomb.

Hari Bastille adalah hari libur nasional Prancis dan perayaan penyerbuan benteng penjara Bastille pada 1789. Hari itu merupakan simbol pemberontakan rakyat terhadap penindasan para elite penguasa kaum monarki konstitusional pada masa revolusi Prancis.

Dikerahkannya ratusan ribu personel keamanan oleh pemerintah Prancis dilakukan sebagai antisipasi berlanjutnya pesta rakyat Prancis jika Antoine Griezmann dan kolega sukses merebut trofi Piala Dunia. Di Paris, pihak keamanan telah menyiapkan 12 ribu personel untuk mengantisipasi segala kemungkinan adanya gangguan keamanan.

Apalagi, Prancis kerap menjadi sasaran aksi teror. Mei lalu, pria yang dicurigai berasal dari IS menikam warga dan melukai empat orang di area St Augustine Street, Distrik Opera, Paris.

Untuk mengamankan masyarakat yang diprediksi turun ke jalan selama dua hari libur tersebut, pihak keamanan Prancis memperketat keamanan. Bahkan, di pusat Kota Paris, 12 ribu petugas kepolisian akan disiagakan.

"Tujuannya ialah menjamin dua ajang tersebut bisa berjalan dengan lancar dan masyarakat tidak khawatir akan terulangnya tragedi Mei lalu," ujar Michel Delpuech, Kepala Kepolisian Kota Paris, Prancis.

(AFP/R-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More