Dokter Sosial yang Gemar Blusukan

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Sabtu, 14 Jul 2018, 03:30 WIB Humaniora
Dokter Sosial yang Gemar Blusukan

MI/SUMARYANTO BRONTO

MENJADI dokter bukan cita-cita awal Dewi Emma Anindia. Alumnus Universitas Pelita Harapan itu ingin menjadi fashion designer. Namun, sang ibu memaksanya berkuliah di kedokteran. "Awalnya ragu menjadi dokter. Dulu cita-cita saya menjadi fashion designer, tapi waktu lulus SMA dipaksa untuk masuk ke kedokteran sama ibu saya karena buyut saya keduanya adalah seorang dokter. Tante-tante saya juga banyak yang menjadi dokter," jelas Emma.

Meski awalnya terpaksa, Emma justru bersyukur menekuni profesinya saat ini. Perempuan berusia 30 tahun itu begitu bersyukur menekuni profesinya dan merasa puas bisa membantu orang lain yang membutuhkannya.

"Waktu itu rasanya seperti terpaksa (kuliah kedokteran) cuma untuk menyenangkan orangtua, ya, sudah saya berkorban, dan sekarang saya merasa keputusan terbaik dalam hidup saya," imbuhnya.

Sebagai dokter, Emma mengaku terinspirasi oleh buyut-buyutnya yang juga dokter. Menariknya, mereka menerima bayaran dengan apa pun, termasuk sayur mayur dan jarang sekali dibayar pakai uang.

Cara mereka itu menginspirasi Emma untuk memberikan pengobatan gratis. Bahkan, dirinya juga blusukan ke daerah-daerah untuk bertemu dengan orang-orang yang sulit mendapatkan akses kesehatan karena kendala ekonomi maupun geografis.

"Saya pernah blusukan di Sungai Musi, Karawang, Ciputat. Saya juga mengelola kampung pemulung. Saya blusukan dengan membawa obat. Bahkan, di Karawang ada nenek yang turun dari gunung untuk berobat karena tidak pernah bertemu dokter sama sekali," papar Emma.

Media sosial

Tidak hanya praktik di klinik di kawasan Jakarta Selatan, Emma juga memiliki dua klinik, di Tangerang Selatan dan Medan. Keterlibatan Emma di sosial sejak 2010, saat ia melanjutkan koas di rumah sakit swasta di Tangerang. Saat kerja di sana ia merasakan kesenjangan sosial antara dirinya dan masyarakat sekitar.

Sejak itu ia mulai membantu. Tidak hanya masyarakat sekitar saja yang ia bantu. Emma sempat menangani sejumlah kasus yang dilihatnya di media sosial. Seperti kasus anak berusia 9 tahun di Mojokerto, Jawa Timur, yang mengalami masalah pada buang air besar (BAB). Anak itu harus mengeluarkan kotoran melalui perutnya karena ususnya keluar sehingga kotorannya ditampung menggunakan plastik.

"Jadi, selama 9 tahun dia BAB di kantong tersebut. Harga kantongnya itu Rp75 ribu dan harus ganti setiap tiga hari. Karena tidak punya uang, pakai kantong biasa dan diisolasi. Anak ini sampai tidak mau sekolah sehingga pendidikannya kurang, gizinya juga tidak bagus," jelasnya.

Karena mendengar kasus tersebut, dirinya pun tergerak untuk membantu. Emma lantas membawa anak itu ke rumah sakit di Surabaya yang memiliki fasilitas bedah anak. Setelah proses pemeriksaan selama dua pekan, anak itu pun menjalani operasi. Kini ia sudah hidup normal dan mulai bersekolah.

Rumah

Tidak semata di bidang kesehatan, Emma juga melakukan kegiatan sosial lain. Ia kerap melakukan bedah rumah bagi warga yang memiliki rumah tidak layak huni.

"Kalau blusukan biasanya dengan tim yang isinya juga dokter-dokter dan kadang-kadang sendiri juga, dari teman-teman kerja, SMA dan kuliah saya ajak masuk ke sekolah-sekolah. Yang penting juga adalah edukasi ke masyarakat agar mereka tahu tentang penyakit. Saya kepuasannya adalah kalau bisa bantu orang. Kekayaan dan uang tidak dibawa mati," paparnya.

Bagi Emma, dirinya selalu mengingat pesan ibundanya dalam melakukan kegiatannya. Sang ibu berpesan uang bukanlah hal penting. Membantu orang lain ialah hal yang lebih penting.

Pernyataan itu yang memacu dirinya untuk membantu lebih banyak orang lain dan masyarakat. "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain," pungkas Emma.

(M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More