Sayur demi Kesehatan

Penulis: Riz/M-3 Pada: Sabtu, 14 Jul 2018, 03:00 WIB Humaniora
Sayur demi Kesehatan

MI/SUMARYANTO BRONTO

DI Sumberpucung, Malang, Jawa Timur, ada satu dokter yang dikenal sebagai dokter sayur. Bukan tanpa alasan Dokter Dian Agung Anggraeny dipanggil seperti itu. Dokter lulusan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tersebut mendapat julukan dokter sayur karena dirinya menerima sayur sebagai pembayaran yang diberikan para pasiennya yang tidak mampu.

Dian mengaku jiwa sosialnya berasal dari kedua orangtuanya. Sang ayah berprofesi sebagai perawat dan ibunya seorang bidan yang dulu juga kerap dibayar menggunakan sayur.

"Dari awal sebelum saya praktik di sana, orangtua saya sudah praktik terlebih dahulu. Bapak saya perawat, ibu saya bidan, dan mereka juga dibayar pakai sayur. Mereka terima karena jiwa sosialnya dan banyak yang tidak mampu membayar juga. Bayar semampunya, kalau tidak mampu gratis," jelas Dian.

Butuh perjuangan bagi Dian untuk menjadi dokter. Orangtuanya bahkan harus menjual sebidang tanah untuk menyekolahkannya menjadi dokter. Baginya hidup bukanlah hanya untuk uang semata, melainkan bagaimana agar dapat bermanfaat bagi sesama.

"Jadi kalau bisa bantu orang, maka semampunya kita bantu karena mereka juga lakukan hal yang sama," imbuh Dian.

Tidak hanya ikhlas menerima bayaran dengan sayur. Ia juga menggratiskan biaya pengobatan bagi pasien manula, disabilitas, serta ODHA (orang dengan HIV AIDS) yang tidak mampu. Tidak hanya itu, dirinya pun aktif dalam komunitas-komunitas bagi kaum disabilitas dan ODHA. Secara rutin, dirinya memberikan penyuluhan materi kesehatan.

"Untuk komunitas ODHA sudah hampir 10 tahun, kita bentuk sebagai wadah sharing, support satu sama lain. Awalnya dulu saya sebagai dokter pendamping bagi ODHA lalu buat komunitas sendiri sampai sekarang anggotanya 40-an, dulu hampir 80an karena sudah banyak yang meninggal," jelasnya.

Selain itu, Dian pun aktif dalam komunitas pembinaan buruh migran di Blitar, Jawa Timur. Ia berharap dengan pembinaan yang tepat, para buruh migran tersebut tidak kembali bekerja di luar negeri.

"Sehari itu ada 2-5 orang yang bayar pakai sayur. Tapi dari uang praktik cukup sebagai subsidi silang. Selain praktik, saya juga punya salon," pungkas Dian.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More