Pesan Antiteror lewat Film

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Jumat, 13 Jul 2018, 01:30 WIB Selebritas
Pesan Antiteror lewat Film

MI/ PERMANA

AKTOR Ade Firman Hakim, 29, menuturkan, rentetan teror bom yang terjadi di Indonesia membuat publik terhenyak. Peristiwa itu meninggalkan luka tidak hanya bagi para korban, tetapi juga berdampak pada masyarakat secara luas. Pesan itu, ujarnya, diangkat dalam film 22 Menit yang akan rilis perdana pada Kamis (19/7).

"Film ini drama realis yang diangkat dari peristiwa bom di Thamrin. Judulnya 22 menit karena terinspirasi dari keberhasilan kepolisian Indonesia bisa menaklukkan pelaku teror dalam 22 menit pascakejadian," ujar pria yang lahir pada 20 Oktober 1988 itu ketika media visit di Media Indonesia, Selasa (10/7).

Ia berharap melalui film tersebut, orang akan lebih sadar akan bahaya terorisme. Menurutnya, para pelaku teror juga sebenarnya korban paham yang salah. "Menjadi lebih baik bukan berarti harus seperti itu dengan kegiatan lingkungan atau kegiatan sosial," tutur Ade.
Selain itu, ia meminta masyarakat, ketika peristiwa teror terjadi, tidak menyebarluaskan foto korban di media sosial. Hal itu, imbuhnya, berdampak pada psike banyak orang. "Itu bisa membuat orang yang ada di sana maupun yang tidak, jadi trauma," ucapnya.

Menurutnya, terorisme dapat masuk ke berbagai lapisan masyarakat. Tanpa pemahaman ajaran agama yang tepat, orang akan lebih mudah terpengaruh.

Hormat pada kepolisian
Pria yang mengawali karier melalui ajang Abang None Jakarta itu lebih jauh menuturkan sempat bertemu dengan polisi yang menjadi korban dalam peristiwa bom di Thamrin. Pengalaman tersebut, ujarnya, membuat ia lebih berempati dan hormat kepada kepolisian RI.
Ade menuturkan, dalam film ia berperan sebagai polisi lalu lintas yang sehari-hari mengatur lalu lintas kendaraan di Jalan MH Thamrin. Ia menganggap menjadi pelayan bagi masyarakat bukan tugas yang mudah.

"Kita harus menghargai semua profesi. Lewat film ini saya jadi lebih respek sama polisi lalu lintas. Pekerjaan mereka capek di tengah panas dan padatnya kendaraan. Harus mengatur lalu lintas setiap hari," ujarnya.

Selain itu, imbuhnya, selama proses syuting, para kru sangat terbantu oleh kepolisian. Mereka mengamankan lokasi sehingga proses pengambilan gambar di MH Thamrin berlangsung tanpa kendala. Pasalnya, jalan protokol tersebut harus ditutup selama beberapa hari untuk pengambilan gambar.

"Kita ingin menghadirkan set yang sebenarnya. Jalan Thamrin diblok delapan kali selama syuting. Setiap Sabtu dari pukul 06.00 hingga 16.00 dan pada Minggu setelah car free day (hari bebas kendaraan)," terang Ade.

Tidak hanya itu, pimpinan Polri pun turut terlibat dalam film tersebut, di antaranya Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Orang nomor satu di korps kepolisian itu yang turut berperan sebagai kameo. (H-5)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More