Jadi Juara Dunia, Zohri Dinilai Berkembang sangat Pesat

Penulis: Yusuf Riaman Pada: Kamis, 12 Jul 2018, 19:25 WIB Olahraga
Jadi Juara Dunia, Zohri Dinilai Berkembang sangat Pesat

Ist

LALU Muhammad Zohri, 18, remaja asal Dusun Pangsor, Desa Bangsal, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, tiba-tiba saja mengejutkan bangsa Indonesia ketika muncul sebagai juara dunia nomor lari favorit 100 meter pada ajang IAAF World U20 Championships di Tempere, Finlandia, Rabu (11/7).

"Sangat mengejutkan kita semua karena saya anggap prestasinya sangat cepat," kata H Suhaimi, Ketua Pengurus Daerah Persatuan Atletik Seluruh Indonesia NTB kepada Media Indonesia Kamis (12/07) di Mataram.

Atas rekor tersebut, kata Suhaimi, Ketua KONI sudah lapor kepada Gubernur NTB. Menurut dia, Zohri sangat layak untuk diberikan penghargaan.

"Bukan saja oleh daerah tapi negara juga harus menghargai. Ini kan sejarah pertama kali Indonesia raih juara dunia U-20," kata Suhaimi.

Dikatakannya, prestasi yang dicapai Zohri saat itu sangat mengejutkan, sebab sebetulnya Zohri mulai dilirik dan masuk ke pemusatan latihan nasional oleh PB PASI pada akhir Januari lalu setelah sebelumnya ikut pada beberapa even antara lain Jatim Open Junior dan dan terakhir di Popnas Jateng hingga kemudian dia meraih dua medali lari 100 m dan 200 m.

"Dari sanalah kemudian dia dipanggil hingga masuk ke pelatnas Asian Games," kata Suhaimi.

Dikatakan Suhaimi, Zohri saat ini sedang sekolah kelas 3 di SMA 2 Mataram, dan dia berasal dari keluarga tidak mampu. Selama di Mataram, ia berada dalam binaan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) di Mataram dan dilatih oleh Komang Budi Gegama.

Suhaimi mengatakan, bisa saja Zohri sejak kecil sudah tertempa oleh kondisi alam, tetapi mungkin juga lahirnya bibit atlet jarak pendek itu bisa disamakan seperti buah.

"Mungkin buah itu susah tumbuh di tempat lain tapi tumbuhnya di NTB, karena sebelumnya PON Riau juga medali emas dari NTB," ujarnya.

Menurut Suhaimi, dilihat dari catatan waktu hingga dia mencapai prestasi juara dunia itu sangat luar biasa, karena sangat cepat meningkat.

"Saya anggap sangat spektakuler kita juga tidak memperkirakan dia bakal meraih juara dunia untuk U-20 karena kalau dari sisi umur dia baru 18 tahun," katanya.

Dikatakan Suhaimi, masyarakat NTB berharap agar aset negara yang bernama Lalu Muhammad Zohri ini ini bisa dijaga dan diperhatikan, antara lain bagaimana pembinaannya secara kontinuitas dengan mempunyai pelatih yang tentunya dapat meningkatkan terus prestasi Zohri.

Karena, lanjut dia, masa keemasannya masih panjang. Jadi, diharapkan PB PASI yang menangani dia di pelatnas biar bisa maksimal untuk mengalami pembinaan terus sehingga kelak pada kurun waktu memasuki keemasan U-24 ke atas dia sudah mampu untuk bersaing lagi di tingkat dunia.

Suhaimi mengatakan, di Asian Games ada 14 atlet dari NTB. Dari jumlah tersebut, 4 di antaranya di cabang atletik, yakni Zohri, Padlin untuk nomor lari estafet 4 x 100 m, Faturrahman untuk lompat jauh dan lompat jangkit, serta Arif Rahman untuk 4 x 400 m.

Selebihnya yakni di voli pantai putri dan putra, panjat tebing, sepeda BMX, tinju putra dan putri, serta karate.

"Sebetulnya kita berharap pelatnas itu konsentrasi di satu tempat jangan terpisah ada di Jakarta, Palembang, Jateng, dan Manado. Kan seharusnya kalau membangun kekuatan itu adanya di satu tempat,” ujarnya.

Zohri merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya yakni Faziah dan Marif. Semenjak kedua orangtuanya yang sehari-hari bekerja sebagai petani nelayan meninggal dunia saat Zohri duduk di bangku Sekolah Dasar, keseharian hidupnya kemudian dibiayai oleh Faziah.

"Selama ini saya yang biayai walau saya harus banting tulang," kata Faziah.

Menurut dia, Zohri sejak SMP memang suka lari, terkadang berlari keliling kampung dan menyusuri pantai tanpa menggunakan alas kaki.

"Iyaa tanpa alas kaki sebab dia tidak punya sepatu," ujarnya.

Diceritakan sang kakak perempuannya itu, Zuhri memang bertekad untuk meraih sukses, ingin beli tanah, dan membangun rumah di luar kampung mereka saat ini.

"Bahkan dia pernah bilang besok kalau saya sukses kakak berhenti kerja, makan hasil keringat saya. Dan sekarang Alhamdulillah kami menjadi terharu sekali," ujarnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More