Indonesia Perluas Kerja Sama Pengamanan Maritim Internasional

Penulis: Golda Eksa Pada: Kamis, 12 Jul 2018, 19:03 WIB Politik dan Hukum
Indonesia Perluas Kerja Sama Pengamanan Maritim Internasional

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

UPAYA membangun sebuah resolusi dan komitmen melalui kerja sama keamanan bilateral maupun multilateral yang lebih konkret dan tepat sasaran, penting untuk direalisasikan. Itu merupakan kunci utama dalam merespons pelbagai bentuk tantangan dan ancaman keamanan bersama di tataran internasional.

Demikian dikatakan Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu kepada ratusan peserta Perwira Siswa Pendidikan Reguler LXV Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI 2018, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (12/7). Acara tersebut mengusung tema 'Menyikapi Dinamika Perkembangan Lingkungan Strategis dan Pengaruhnya Terhadap Pertahanan Negara'.

Menurut dia, di Asean terdapat tiga area kerja sama maritim yang menjadi sorotan dunia, yaitu patroli terkoordinasi Salat Malaka, kerja sama maritim negara-negara di kawasan Teluk Thailand, dan kerja sama trilateral di Laut Sulu. Indonesia, Filipina, dan Malaysia ambil bagian dari seluruh kegiatan tersebut.

"Ketiga bentuk kerja sama tersebut rencananya akan diperluas dengan melibatkan negara-negara Asean lainnya dan negara mitra Asean, seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, serta negara-negara lain," ujar Ryamizard.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia dari Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Ryamizard menegaskan rencana perluasan kerja sama itu sangat diperlukan agar nantinya dapat menciptakan konektivitas kerja sama antarplatform subregional.

"Kedepan, saya telah mengambil inisiatif untuk meningkatkan kerja sama trilateral di Laut Sulu ke level yang lebih konkret dengan merencanakan operasi patroli darat bersama trilateral guna memporak-porandakan kelompok teroris di lapangan, khususnya di wilayah Filipina Selatan."

Ia mengemukakan, saat ini semua kawasan dan di berbagai belahan dunia sedang menghadapi potensi ancaman yang sangat nyata. Ancaman itu ialah radikalisme dan terorisme generasi ketiga yang muncul setelah kelompok Al Qaeda dan Daesh dihancurkan di Timur Tengah.

Berdasarkan data intelijen Kemhan, sambung dia, terdapat 31.500 pejuang Islamic State (IS) asing yang bergabung ke Irak dan Suriah. Dari data tersebut tercatat 800 orang berasal dari Asia Tenggara serta 400 dari Indonesia.

Sifat dasar ancaman terorisme generasi ketiga, imbuh dia, ialah berevolusinya ancaman dari yang awalnya tersentralisasi menjadi terdesentralisasi. ASIA Timur serta Asia Tenggara pada khususnya. Ciri khusus lainnya dari ancaman terorisme generasi ketiga itu adalah kembalinya para pejuang IS dari Timur tengah.  

"Ancaman radikal dan terorisme generasi ketiga ini memiliki sifat-sifat alamiah, yaitu berbentuk desentralisasi ke dalam wilayah provinsi-provins, berbentuk sel-sel tidur serta operasi berdiri sendiri (lone wolf) dan radikalisasi dengan online, serta media sosial dan penggunaan teknologi canggih," pungkasnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More