Kurangi Emisi, Limbah Diubah Jadi Energi

Penulis: Liliek Dharmawan Pada: Kamis, 12 Jul 2018, 17:00 WIB Nusantara
Kurangi Emisi, Limbah Diubah Jadi Energi

MI/LILIEK DHARMAWAN

HARI belum terlalu siang, tetapi aktivitas di rumah-rumah milik warga di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) yang merupakan sentra penghasil tahu sudah terlihat sibuk. 

Di salah satu bangunan dengan ukuran 10 x 15 meter di desa setempat, misalnya, sejumlah orang yang konsen dengan aktivitas masing-masing. Ada yang merendam kedelai, merebus kedelai, hingga menyaring air yang merupakansari kedelai. 

Semuanya jalan masing-masing. Asap dari tungku terlihat memenuhi ruangan. Sesekali para pekerja bernyanyi mengikuti lagu yang  diperdengarkan menemani kerja.

Setiap hari, ada limbah cair dan padat yang dihasilkan dari aktivitas 280 perajin tahu di desa setempat. Sepuluh tahun silam, para perajin langsung mengalirkan limbahnya ke aliran air dan Kali Tengah yang merupakan sungai di desa setempat. 

Bahkan, Kalisari sempat dijuluki sebagai desa limbah. Sebab, ketika masuk kampung itu menghasilkan bau menyengat tidak sedap dari saluran. Aliran air yang menampung limbah cair para perajin mengalir sampai ke tetangga desa melalui Kali Tengah hingga jarak 10 km ke Desa Pancurendang, Lesmana hingga Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang.

"Tidak mengherankan kalau dulu, desa kami disebut sebagai desa limbah. Bahkan, warga di tiga desa kerap melakukan protes, karena air yang mengalir baunya cukup menyengat. Bahkan, air limbah tersebut berpengaruh  pada areal pertanian dan kolam," ungkap Kepala Dusun 1 Desa Kalisari Suwanto, Kamis (12/7),

Waktu berjalan. Mulai 2009, Desa Kalisari pelan-pelan berusaha untuk menanggalkan ikon tersebut. Langkah awalnya adalah ketika Kementerian Ristek waktu itu membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berupa digester yang mengubah limbah menjadi biogas. 

"Jadi air limbah tahu tidak langsung dibuang ke aliran air atau sungai, melainkan dialirkan ke digester untuk diolah menjadi biogas. Setelah Kementerian Ristek, menyusul kemudian dari Pemkab Banyumas dan Pemprov Jateng membangun IPAL serupa," ungkapnya.

Menurut Suwanto, pada awalnya memang tidak gampang meminta masyarakat untuk mengalirkan limbahnya ke IPAL tersebut. Namun, setelah mereka merasakan manfaatnya berupa biogas pengganti elpiji. 

"Benar saja, begitu ada manfaatnya, para perajin sangat bersemangat. Apalagi, desa aliran air di desa tidak lagi berbau. Inilah awalan Desa Kalisari menanggalkan status sebagai desa pencemar," katanya.

Setelah berjalan sekitar empat tahun, Desa Kalisari mendapat apreasiasi sebagai Desa Proklim dari Pemprov Jateng. Pemprov menilai kalau Desa Kalisari secara konsisten terus berusaha untuk mengolah limbah dari industri tahu. 

Bahkan kemudian pada November 2013 Menteri Ristek Muhammad Hatta ketika itu mencanangkan kampung setempat sebagai desa mandiri energi.

Hingga kini, warga masih tetap merasakan hematnya tidak membeli elpiji 3 kilogram (kg) karena telah mendapatkan pasokan dari IPAL yang dikelola oleh kelompok Biolita. 

"Sudah sejak beberapa tahun lalu, saya menggunakan aliran biogas dari IPAL pengolah limbah tahu. Sehingga tidak lagi membeli elpiji 3 kg. Kalau menggunakan gas 3 kg, kebutuhan sebulan 3 tabung. Jika per tabung harganya Rp19 ribu hingga Rp20 ribu, saya masih dapat menghemat antara Rp57 ribu hingga Rp60 ribu. Lumayan bagi perajin kecil seperti saya," ujar Sugiyarti, 46, salah seorang warga setempat.

Warga setempat yang mengalirkan limbah ke IPAL dan mendapatkan suplai biogas, membayar iuran Rp15 ribu untuk biaya perawatan yang dilaksanakan oleh kelompok Biolita. 

"Secara rutin, kelompok Biolita yang melakukan pembersihan dan pengecekan saluran supaya aliran biogas tetap lancar menyuplai kebutuhan warga," ujarnya.

Namun demikian, Kepala Desa (Kades) Kalisari Aziz Masruri mengakui kalau digester yang usianya telah mencapai 3-5 tahun mengalami sejumlah 
kendala. 

"Kendalanya adalah pengerasan dalam digester atau jaringannya yang tidak lancar. Misalnya untuk digester di IPAL nomor empat," katanya. 

IPAL yang dibangun oleh Pemprov Jateng itu cukup besar, karena mampu menampung limbah dari 68 perajin dan menyuplai biogas untuk 110 pengguna. Tetapi karena ada masalah, satu dari dua digester untuk sementara kurang berfungsi, sehingga menurunkan suplai biogas sekitar 50%. 

"Kami telah mengalokasikan dana desa (DD) untuk melakukan perbaikan. Anggaran nantinya berkisar Rp10 juta hingga Rp15 juta, sehingga diharapkan IPAL nomor empat tersebut dapat kembali normal," jelas Aziz.

Ia mengatakan sejak pembangunan IPAL yang dimulai 2009 silam hingga 2017, sudah ada enam titik IPAL yang mengolah limbah tahu. IPAL terakhir dibangun pada 2017 oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyumas dengan nilai Rp700 juta. 

"Kami akui, kalau pengolahan limbah untuk menjadi biogas baru mencapai 55% dari total perajin yang ada," ungkapnya. 

Di Kalisari, ada 280 perajin dan yang telah mengalirkan limbahnya untuk diolah sebanyak 154 perajin atau sekitar 55%. Total limbah yang dihasilkan dari rata-rata produksi 10 ton kedeai per hari mencapai 70 ribu liter, karena 1 kg menghasilkan 7 liter air limbah. 

"Kami masih akan terus mendorong pembangunan IPAL. Namun, kalau dari desa, sepertinya tidak mampu, karena biaya pembangunan IPAL cukup besar," ungkapnya.

Aziz mengungkapkan, selain mendorong dibangunnya IPAL, beberapa waktu lalu Pemprov Jateng memfasilitasi pemasangan ketel uap sebagai pengganti tungku kayu bakar. Ada dua ketel uap yang dijadikan pilot project. 

"Dengan adanya ketel uap tersebut,bahan bakar kayu dapat dihemat hingga 30%. Namun demikian, karena baru merupakan pilot project, ada satu ketel uap yang meledak sehingga cukup membuat trauma perajin. Tapi secara prinsip kami mengapresiasi adanya ketel uap yang nyata-nyata mampu menurunkan konsumsi bahan bakar kayu," jelas Aziz.

Pengolahan limbah tahu tersebut tak sekadar mengubah limbah menjadi energi terbarukan berupa biogas, namun sesungguhnya telah mengubah metan (CH4) yang merupakan gas rumah kaca. Namun di Kalisari, limbah tahu yang  kaya metan diubah menjadi biogas, sehingga metan berubah menjadi CO2. 

Gas metan yang lebih kuat 21 kali jika dibandingkan CO2, mampu 'dilumpuhkan' sebagai gas rumah kaca dengan cara mengubahnya menjadi biogas.

Sekretaris Pusat Penelitian dan Pengembangan Energi Baru Terbarukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ropiudin mengungkapkan dengan mengubah metan menjadi energi biogas maka memang akan mengurangi dampak pemanasan global. 

"Sehingga, jika masih ada limbah tahu yang dibuang dan belum diolah, ke depannya harus dimanfaatkan. Karena memang telah terbukti energi terbarukan yang dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut berguna bagi masyarakat. Dan saat sekarang sudah ada lagi teknologi yang lebih murah untuk mengolah limbah jadi biogas. Saya kira itu dapat dikembangkan," tandasnya.

Kalisari adalah contoh desa yang menuju kampung mandiri energi, dengan mengolah limbah sekaligus untuk mengurangi kadar emisi. Meski skalannya kecil, tetapi Kalisari mampu menunjukkan sebagai desa yang ikut serta mengerem pemanasan global. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More