Gim Daring Jadi Sarana Komunikasi Teroris

Penulis: Antara Pada: Kamis, 12 Jul 2018, 14:00 WIB Politik dan Hukum
Gim Daring Jadi Sarana Komunikasi Teroris

Ilustrasi

BADAN Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyatakan gim daring yang sering digunakan oleh anak-anak dan kaum muda dapat digunakan sebagai sarana komunikasi teroris untuk melakukan serangan.

"Ini yang baru dideteksi. Memang tidak disebarluaskan," kata Jubir BSSN Anton Setiawan usai menjadi pembicara Seminar Indonesia International Defense Science (IIDS) 2018 di Universitas Pertahanan (Unhan), Jakarta, Kamis (5/7).

Menurut dia, pihaknya melihat ada potensi serangan terorisme di Prancis menggunakan gim Playstation 4. Sekarang dengan perkembangan gim daring akan memiliki potensi yang lebih besar lagi.

"BSSN belum menemukan jalan sebetulnya bagaimana menemukan pemblokiran (blocking) terhadap aplikasi gim itu lantaran aplikasi gim online digunakan semua anak-anak di seluruh dunia," kata Anton.

Ia mengaku bahwa pihaknya tidak bisa melakukan pemblokiran begitu saja karena akan menimbulkan banyak permasalahan. Namun, pihaknya akan mencoba bekerja sama dengan para periset gim daring untuk melakukan deteksi dini.

"Bukan saja gim online, melainkan juga aplikasi-aplikasi di kehidupan masnusia yang memungkinkan untuk dijadikan komunikasi," jelasnya.

Saat ini, BSSN terus meningkatkan kerja sama secara lebih spesifik dengan negara-negara yang berkomitmen mencegah gerakan aksi teror, termasuk kerja sama dalam forum bilateral badan siber Malaysia dan Singapura, tingkat Asia Pasifik, OKI, dan kerja sama global lainnya.

Selain sarana komunikasi yang ada di konsol PS 4, diduga kuat juga masih ada gim daring lain yang memiliki sarana komunikasi langsung yang digunakan teroris, di antaranya Clash of the Titans, Clash of Clan, dan War of World Craft.

"BSSN mendapatkan informasi dari mereka. Hal ini masih sebatas close information dan antisipasi BSSN. Akan tetapi, kalau itu digunakan, akan sangat luar biasa efeknya. BSSN mendeteksinya sangat sulit," tutur Anton.

Menurut dia, tindakan preventif bisa dilakukan. Namun, dampaknya akan luar biasa karena teroris berada di ranah publik dan tidak spesifik.

"Kalau spesifik tersendiri, mudah melihat, quarantine, kemudian melakukan aksi. Akan tetapi, ketika dia berbaur dengan publik, akan sangat sulit bagi BSSN melakukan deteksi," tutur Anton.

Ia pun mengingatkan agar semua orang mulai berpikir bahwa kemajuan teknologi informasi harus diperhatikan oleh semua lapisan masyarakat, termasuk pengambil keputusan. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More