Sukacita Merebak di Thailand Menyambut Aksi Penyelamatan 13 Korban Gua

Penulis: Irene Harty Pada: Rabu, 11 Jul 2018, 18:40 WIB Internasional
Sukacita Merebak di Thailand Menyambut Aksi Penyelamatan 13 Korban Gua

AFP PHOTO / TANG CHHIN Sothy

SELAMA 17 hari, Adisak Wongsukchan terus berjaga di daerah pegunungan yang mengelilingi Gua Tham Luang.

Di dalam gua itu, putranya yang berusia 14 tahun, Akarat Wongsukchan, terperangkap bersama 11 rekan setim dan pelatih sepak bolanya. Setiap hari berlalu, setiap hari pula siksaan akan kekhawatiran bertambah.

Akankah Akarat bisa bertahan hidup, bagaimana dia akan mengatasi dalam kegelapan, apa yang akan dia makan dan minum? Namun, Selasa (10/7) malam, Wongsukchan pertanyaan-pertanyaan itu memudar di kegelapan malam.

Selama hampir tiga pekan, Wongsukchan mencoba mengamuk, tapi dia memfokuskan perhatiannya untuk mendukung tim dan menghargai upaya mereka.

Sekarang, fokus utama Wongsukchan hanya untuk memeluk putranya yang masih bersama dengan sisa tim dan pelatihnya di rumah sakit di Chiang Rai.

"Aku ingin memeluknya ... dan aku ingin mengatakan padanya bahwa aku bahagia," kata Wongsukchan dengan air mata menahan haru.

Ketika hendak meninggalkan lokasi, Wongsukchan berhenti untuk berterima kasih kepada setiap orang yang dilewatinya di sepanjang jalan. Luapan kegembiraan juga menyebar ke seluruh Thailand.

Warga Thailand berbondong-bondong menyerukan 'Hooyah' di media sosial mereka pada Rabu (11/7) untuk memuji keberhasilan tim penyelamat dan merayakan bebasnya 12 anak laki-laki dan pelatih sepak bola mereka.

Bahkan, saat setiap kelompok dari tiga ekstraksi yang dilakukan, sampai dengan selamat mereka menyambut dengan menulis 'Hooyah' dengan tanda pagar di Facebook mereka.

Beberapa ratus anak sekolah di Thailand juga berkumpul di seberang rumah sakit, melihat ke arah gedung yang akan menjadi rumah bagi tim sepak bola yang diselamatkan untuk beberapa hari mendatang.

Guru mereka memimpin mereka untuk mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang datang untuk membantu membuat misi berhasil dalam sebuah refleksi kecil dari rasa terima kasih yang lebih luas terhadap para ahli asing yang membantu mengekstrak kelompok.

Misi penuh ketegangan selama tiga hari berakhir pada Selasa (10/7) dengan kelompok terakhir dari empat anak laki-laki dan pelatih muncul dari gua yang telah menahan mereka selama 18 hari.

Wongsukchan mengungkapkan bahwa putranya telah dibebaskan dari gua malam sebelumnya, tetapi dia memutuskan untuk tinggal bersama keluarga yang anak-anaknya belum diselamatkan.

Dia tahu betapa menyiksanya saat-saat akhir penyelamatan.

"Aku berjanji pada orang tua yang lain, aku akan menunggu dan keluar bersama. Aku tidak akan meninggalkan mereka. Kita akan pergi bersama," kata Wongsukchan.

Kelompok terakhir yang muncul dari gua adalah empat Navy SEAL, termasuk seorang dokter yang tinggal bersama tim selama seminggu setelah penemuan mereka.

Penyelamatan itu menyorot perhatian media Thailand dengan koran The Nation menulis 'Hooyah! Misi Selesai' dan Bangkok Post dihiasi dengan 'All Wild Boars saved'.

Meskipun menghabiskan hari-hari dalam gelap, pejabat kesehatan gua mengatakan anak-anak yang berusia 11 sampai 16 tahun itu berada dalam kesehatan fisik dan mental yang baik.

"Mungkin karena mereka semua bersama-sama sebagai sebuah tim, membantu satu sama lain," ungkap Thongchai Lertwilairattanapong, Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan.

Kelompok itu tetap di karantina di rumah sakit Chiang Rai di mana salah satu dari kelompok terakhir orang yang meninggalkan gua mengalami radang paru-paru minor, menurutnya.

"Anak-anak itu dalam kondisi baik, meskipun masing-masing kehilangan berat badan rata-rata dua kilogram selama di gua," ungkapnya.

Dia menghubungkan kesehatan mereka yang relatif baik dengan pelatih mereka, Ekkapol Ake Chantawong, 25, mantan biksu yang merupakan orang terakhir yang keluar.

"Saya harus memuji pelatih yang menjaga para pemain dengan sangat baik," kata Lertvirairatanapong.

Dia mengatakan, anak-anak tidak makan makanan apa pun dalam sembilan hari sebelum mereka ditemukan, dan minum air keruh dari dalam gua.

Pihak berwenang mengatakan beberapa anak laki-laki telah meminta untuk makan roti dengan cokelat setelah diselamatkan, tetapi mereka akan diberi makanan yang mirip dengan susu kaya protein dan nutrisi.

Beberapa anak dari kumpulan pertama yang dibebaskan oleh 13 anggota tim penyelamat didampingi Angkatan Laut Thailand itu akhirnya dapat melihat orang tua mereka.

"Saya sangat senang dan lega. Saya belum bisa tidur selama berhari-hari. Saya senang anak-anak itu juga keluar," kata Kakek Pelatih Guntawong, Ekkapol Chantawong.

"Ekk benar-benar mencintai dan peduli pada anak-anak itu," tambahnya, tentang sosok cucunya yang muncul sebagai pahlawan meskipun satu-satunya orang dewasa yang menemani anak-anak ke gua pada 23 Juni.

Kelompok itu terperangkap dalam banjir yang naik dan ditemukan sembilan hari kemudian dalam keadaan kurus kering dan kusut di langkan yang berlumpur.

Kisah itu memikat khalayak global selama lebih dari dua minggu, memberi mereka hadiah dengan akhir bahagia yang luar biasa.

Kisah 'Wild Boars' menyorot perhatian dunia dengan keselamatan kelompok dihadang ancaman hujan lebat hingga harus melakukan ekstraksi agar bisa keluar gua.

Lebih dari 100 spesialis dan ribuan staf pendukung terlibat dalam upaya penyelamatan yang berlangsung hampir tiga pekan.

Bintang sepak bola Prancis Paul Pogba mengabdikan kemenangan semifinal Piala Dunia negaranya atas Belgia kepada para pahlawan hari ini.

"Anak-anak lelaki yang baik, Anda begitu kuat" tukasnya di Twitter.

Tenaga medis akan memberikan pembaruan pada kondisi semua anak dan pelatih pada pengarahan media pada Rabu (12/7) pagi. (AFP/CNN/OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More