Kontrol Teknologi, Jangan Dikontrol Teknologi

Penulis: Akhmad Mustain Pada: Rabu, 11 Jul 2018, 17:47 WIB Humaniora
Kontrol Teknologi, Jangan Dikontrol Teknologi

Ilustrasi

PERKEMBANGAN teknologi, termasuk dalam bidang komunikasi telah mendisrupsi pola kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Bahkan, ada kecenderungan terjadi ketergantungan terhadap teknologi.

Fenomena inilah yang menurut Pengajar Departemen Komunikasi Universitas Indonesia, Irwansyah, sebagai post human. Ketergantungan itu, lanjut Irwansyah, menyebabkan manusia seakan-akan tidak bisa hidup tanpa teknologi, bahkan terkadang seperti dikendalikan teknologi.

Oleh karena itu, menurut Ketua Tim Pelaksana 2nd INDO IGCC ini, tidak cukup sekedar kecerdasan masyarakat yang diperlukan, namun juga kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Tanpa hal itu, tidak hanya disrupsi, penyalahguaan teknologi sangat mungkin terjadi.

"Jika pengguna teknologi sekarang itu bijak maka mereka dapat cerdas memanfaatkan teknologi itu dengan jauh lebih baik, karena selama ini ada kritik yang namanya post human itu dianggap menyebabkan manusia teramputasi, tergantung dengan teknologi, dan menginginkan hidup seperti teknologi yakni mekanis dan linear," tuturnya usai pembukaan Indo IGCC 2018 di Depok, Jawa Barat, Rabu(11/7).

Departemen Komunikasi UI kembali menggelar konferensi internasional ilmu komunikasi di Auditorium Juwono Sudarsono, Kompleks Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI, Depok, Jawa Barat. Acara bertajuk 2nd Indonesia International Graduate Conference of Communication (2nd INDO IGCC) itu berlangsung mulai 11-12 Juli 2018.

"Oleh karena itu kita berharap dengan dinamika masyarakat akademik yang sekarang bergeliat tentang post human maka masyarakat dalam tatanan makro dan mikro itu kemudian bisa mengembangkan ide yang namanya teknologi itu ciptaan manusia, jangan tergantung dengan teknologi," lanjutnya.

Hal senada disampaikan oleh Guru Besar Komunikasi Universiti Sains Malaysia, Azman Azwan Azmawati. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak bisa dielakkan, dan hal itu bagus untuk menunjang peradaban. Namun, yang harus diingat, teknologi hanyalah alat, bukan yang mengontrol kehidupan manusia.

"Kecerdasan buatan itu baik, teknologi itu baik. Namun semua itu tidak bisa mengalahkan otak yang diciptakan Tuhan untuk kita. Yang ingin saya sampaikan, bahwa teknologi itu hanya alat, bukan tuan kita," ujarnya.

Konferensi ini diikuti peserta dari 12 negara, antara lain peserta dari Amerika Serikat, Inggris, Bangladesh, Finlandia, Norwegia, Australia, Pakistan, Norwegia, Belanda, Belgia, dan Malaysia. Para peserta ini mempresentasikan makalahnya lewat tele konferensi maupun langsung di depan panel yang terbagi dalam lima kelompok.

Keseluruhan, ada 85 presentasi jurnal penelitian ilmu komunikasi yang terbagi dalam Studi Budaya (Cultural Studies), Studi Komunikasi (Communication Studies), Komunikasi Korporasi (Corporate Communication), Manajemen Media (Media Management), and Marketing Communication and Political Communication Management.(OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More