Kuil nan Kontroversial di Jepang

Penulis: Basuki Eka Purnama Pada: Rabu, 11 Jul 2018, 13:37 WIB Weekend
Kuil nan Kontroversial di Jepang

FOTO-FOTO: MI/BASUKI EKA PURNAMA

SETIAP 15 Agustus, Kuil Yasukuni di Tokyo selalu menjadi sorotan. Pada hari peringatan menyerahnya Jepang di Perang Dunia II itu, para pemimpin 'Negeri Matahari Terbit' tersebut rutin mengunjungi kuil Shinto tersebut. Kunjungan itu pun dipastikan selalu diikuti kecaman dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan.

Ya, karena di Kuil Yasukuni disemayamkan jenazah sekitar 2,5 juta warga Jepang yang kehilangan nyawa mereka dalam perang membela negara sejak era Restorasi Meiji. Kuil Yasukuni juga menjadi tempat memorial bagi semua orang yang meninggal membela Jepang, termasuk warga negara non-Jepang (di Gedung Honden) dan semua korban Perang Dunia II tanpa memandang kewarganegaraan (di Gedung Chinreisha).

Jika acara kunjungan itu semata soal penghormatan, mestinya Kuil Yasukuni tidak bermasalah. Tentu lazim, sebuah negara ingin menghormati pahlawan mereka.

Penjahat perang
Yang menjadi masalah, karena pada 1978, Pendeta Tertinggi Yasukuni Nagayoshi Matsudaira dalam sebuah upacara rahasia menyemayamkan pula jenazah 14 orang yang ditetapkan sebagai penjahat perang kelas A. Hal itulah yang memancing kemarahan tiga negeri tetangga mereka yang juga punya sejarah dengan politik perang Jepang saat itu.

Kisah itulah yang memacu saya berkunjung ke Kuil Yasukuni. Tampilannya tidak berbeda dari kuil Shinto lainnya. Anda akan tahu telah berada di kawasan kuil ketika melihat torii gate yang megah. Bangunan itu berwujud gerbang dengan ornamen tradisional Jepang yang lazim ditemukan di pintu masuk kuil Shinto. Secara simbolis, itu menandai transisi dari kawasan duniawi, seperti rumah, jalan, atau perkantoran, ke area yang disucikan.

Selepas gerbang penuh makna itu, ada jajaran pohon sakura serta semacam wadah air yang juga selalu ditemukan di halaman depan kuil. Para pengunjung kuil harus membersihkan diri di sana, sebelum masuk. Caranya ambil air menggunakan gayung. Siram tangan kiri dan kemudian tangan kanan Anda. Kemudian berkumur dan kembalikan gayung ke tempat semula.

Di bangunan utama Kuil Yasukuni ada kain putih panjang yang dipasang. Kain putih itu akan diganti kain berwarna ungu saat ada perayaan di kuil itu.

Anda bisa berdoa di kuil ini. Jika merunut pada tradisi Shinto, caranya tundukkan kepala dua kali, bertepuk tangan dua kali, dan menundukkan kepala sekali lagi.

Museum Yushukan, juga sarat polemik
Dari bangunan utama kuil, Anda bisa bergerak ke arah museum militer bernama Yushukan. Sebelum mencapainya, ada sebuah lapangan yang menampilkan sejumlah patung.

Patung pertama berwujud janda perang yang memiliki anak. Patung itu didirikan untuk menghormati para ibu yang harus menghidupi anak mereka sendirian karena suami mereka gugur di medan perang.

Museum Yushukan

Kedua, patung pilot kamikaze. Patung tembaga ini ada di sisi kiri pintu masuk Museum Yushukan. Sebuah plakat ditempatkan di sebelah kiri patung yang berisi nama 5.843 pilot. Mereka meninggal dalam misi bunuh diri melawan kapal laut pasukan Sekutu di Perang Dunia II.

Selain itu, ada patung-patung yang menampilkan hewan-hewan yang digunakan militer Jepang dan mati di medan perang. Hewan-hewan itu ialah kuda, burung merpati, dan anjing.

Ada pula monumen yang didirikan untuk menghormati sosok hakim Radha Binod Pal. Patung itu diresmikan Nambu Toshiaki, Pendeta Kepala Kuil Yasukuni, pada 25 Juni 2005.

Menghormati hakim yang membela Jepang
Hakim asal India itu mendapatkan penghormatan khusus di Kuil Yasukuni. Ia merupakan satu-satunya hakim dari 11 hakim di pengadilan militer internasional yang digelar mulai Mei 1946 yang menyatakan terdakwa-terdakwa asal Jepang tidak melakukan kejahatan perang.

Monumen hakim Radha Binod Pal

"Sebagai penghormatan untuk keberanian dan dedikasi Dr Pal yang secara konsisten membela hukum dan keadilan, kami dengan rendah hati mendirikan monumen untuknya di sini. Hal itu agar kata-katanya diingat seluruh warga Jepang dan raihannya abadi," ungkap Nambu Toshiaki, pemimpin kuil itu, dalam keterangan tertulis di dekat monumen untuk hakim Pal.

Setelah melihat berbagai monumen itu, saya bergerak menuju Museum Yushukan. Untuk masuk museum itu, Anda harus menyiapkan dana sebesar 800 yen, sekitar Rp105 ribu.

Di lobi museum itu ditampilkan lokomotif yang digunakan kala pembuatan jalur kereta Siam/Burma, pesawat tempur Zero, dan senjata artileri besar yang digunakan Jepang di Perang Dunia II.

Museum itu dan berbagai benda yang ada di dalamnya ingin menggambarkan Jepang sebagai korban dalam Perang Dunia II. Padahal, dari sudut pandang lain, misalnya, keberadaan lokomotif di lobi museum itu juga bisa berbicara mengenai tewasnya lebih dari 100 ribu pekerja paksa asal Asia Tenggara serta 13 ribu tahanan pasukan Sekutu kala membangun jalur kereta itu. Jadi, jika dilihat dengan saksama, kontroversi Museum Yushukan melampaui Kuil Yasukuni. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More