Napi Korupsi 62 Miliar Tepergok Melenggang di Jalanan Bukittinggi

Penulis: Yose Hendra Pada: Selasa, 10 Jul 2018, 20:30 WIB Nusantara
Napi Korupsi 62 Miliar Tepergok Melenggang di Jalanan Bukittinggi

Ist

NARAPIDANA korupsi surat pertanggungjawaban (spj) fiktif Dinas Prasarana Jalan, Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatra Barat Yusafni tepergok berada di jalanan Kota Bukittinggi. Dia terlihat bebas berjalan padahal seharusnya mendekam di Rumah Tahanan Anak Aia, Kota Padang.

Kabar peristiwa itu menyebar melalui foto yang diunggah seorang netizen di lini masa media sosial. Dalam foto yang beredar secara viral tersebut, orang yang diduga Yusafni memakai baju merah, dengan topi hitam. Dia berjalan dari arah tempat parkir dan terlihat mobil SUV, menuju sebuah bangunan.

Yusafni Ajo, demikian panggilannya, merupakan terpidana korupsi Rp62,5 miliar yang telah divonis 9 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Padang.

Setelah mengecek foto itu, Kepala Kantor Kementerian Hukum dan HAM Sumatra Barat Dwi Prasetyo membenarkan bahwa sosok dalam foto adalah Yusafni. Dia mengaku, setelah ditanyakan, Yusafni menyatakan ke Bukittinggi untuk pergi berobat.

"Yusafni pergi berobat ke Bukittinggi, terapi jarum," ujar Dwi, Selasa (10/7).

Bukittinggi berjarak 91 km dari Kota Padang. Tentunya kepergian Yusafni menimbulkan tanda tanya, apakah selama ini dia melenggang bebas di luar jeruji besi. Dwi mengakui ia dan pihak Rutan Anak Aia, tidak pernah tahu kepergian Yusafni ke Bukittinggi.

"Awalnya dia tidak mengaku tapi setelah saya perlihatkan foto dia di Bukittinggi, baru dia mengakui hal tersebut," imbuh Dwi.

Artinya, beber Dwi, petugas sipir yang membawanya ke Bukittinggi tidak mengantongi izin dari kepala rutan maupun kakanwil Kemenkum dan HAM Sumbar. Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan investigasi atas kepergian narapidana kasus Spj Fiktif senilai Rp62,5 miliar tersebut.

"Katanya, dia berangkat ke Bukittinggi pada Jumat (6/7) untuk menjalani terapi jarum yang dilakukannya sekali dalam tiga bulan. Boleh saja pergi berobat keluar tapi harus mengantongi izin. Kalau tanpa izin berarti ada yang menyalahgunakan wewenang," terang Dwi.

Aliansi masyarakat sipil antikorupsi Sumatra Barat menyayangkan terpidana kasus korupsi bisa bebas keluar masuk penjara.

"Kejadian ini semakin menciderai rasa keadilan publik Sumatra Barat apalagi Mabes Polri beberapa waktu lalu menyatakan tidak memprioritaskan penuntasan keterlibatan pihak lain kasus Spj fiktif," kata Arief Paderi, Koordinator Perkumpulan Integritas.

Jika foto yang beredar luas itu adalah Yusafni, menurut Arief, harusnya Kementerian Hukum & HAM melakukan evaluasi terhadap pengelolaan warga binaan terutama para napi kasus korupsi di Rutan Anak Aia atau dalam logat Padang disebut Anak Aia itu.

"Jangan sampai hal ini menjadi cerminan pengelolaan LP (lembaga pemasyarakatan_ terutama terhadap napi kasus korupsi di Sumatra Barat. Kementerian Hukum dan HAM harus memberi sanksi tegas orang-orang yang terlibat, bila perlu pecat," tandasnya.

Dengan kejadian ini, dikatakan Arief, publik semakin yakin bahwa Yusafni tidak sekadar 'orang biasa' yang  melakukan korupsi hingga merugikan kerugian negara puluhan miliar.

"Apa yang terjadi, membuktikan ia punya pengaruh, hingga bisa mengatur pihak LP dan bebas keluar masuk di LP," pungkasnya. (A-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More