Tangan Tuhan dan Ayat Tuhan

Penulis: Akhmad Mustain, Wartawan Media Indonesia Pada: Selasa, 10 Jul 2018, 01:30 WIB Opini
Tangan Tuhan dan Ayat Tuhan

Dok Pribadi

BAGI rakyat Indonesia, dua kali momen Piala Dunia terakhir bersamaan dengan kontestasi politik dalam negeri. Jika tahun ini hadir di tengah pilkada serentak 2018, empat tahun silam Piala Dunia diselenggarakan tepat ketika pemilu presiden. Tidak cuma momentum yang dikaitkan, secara filosofi pun, sepak bola kerap diidentikkan dengan politik.

Kompetisi sepak bola tak ubahnya seperti kontestasi politik yang memperlihatkan permainan yang aktif menyerang, adu kelincahan, kecepatan, mobilitas, dan tidak pasif yang statis, bertahan total, yang berarti tak mendukung perubahan. Selain itu, sepak bola juga membuat perbaikan baik dalam keterampilan, wawasan, maupun aturan-aturan permainan. Di samping kemenangan, sepak bola dan politik juga soal kehormatan dan jiwa besar.

Namun, di atas semuanya ada fair play yang harus dijunjung tinggi. Permainan sepak bola maupun permainan politik akan berlangsung dengan aman dan damai jika berjalan fair. Sebaliknya, itu akan kisruh jika terjadi kecurangan.

Memang terkadang sepak bola dan politik memerlukan trik dan tipu daya untuk mengelabui lawan. Hal itu kerap menjadi bagian penting untuk meraih kemenangan, tapi tidak ada tempat apresiasi untuk kecurangan.

Aturan permainan dua kutub ini juga sangat rigid, ketat, dan punya sanksi berat jika coba-coba melakukan kecurangan. Namun, tentu tidak ada aturan yang tanpa celah. Baik sepak bola maupun politik, tentu masih kerap dijumpai kecurangan, padahal fair play telah lama digaungkan.

Pemakluman dan pembenaran atas kecurangan juga sering menjadi kelaziman. Dalam sepak bola, yang paling kontroversial ialah gol ‘tangan Tuhan’ Maradona di Piala Dunia 1986. Gol yang jelas tidak sah itu mendapatkan pemakluman dan pembenaran.

Gol itu dimaklumi karena dianggap buah kecerdikan sang megabintang dan pembenaran digaungkan dengan membawa kata 'Tuhan'. Gol handsball itu membawa kata Tuhan karena seusai pertandingan Maradona mengatakan, ”Gol itu terjadi berkat gabungan kepala saya dan bantuan tangan Tuhan."

Tidak jauh beda di politik yang juga kerap mendomplengkan kata 'Tuhan'. Jika sepak bola identik dengan tangan Tuhan, dunia politik diidentikkan lewat ayat-ayat Tuhan. Politik ayat Tuhan dimaknai sebagai upaya menggunakan ayat-ayat tertentu untuk menjatuhkan lawan politik atau untuk menjatuhkan suatu golongan. Politik ayat sering kali terjadi saat menjelang pemilu atau pilkada. Tiap calon dan para pendukung hampir sering membawakan ayat untuk memenangi ambisi dan pilihannya.

Politisasi ayat Tuhan dalam pilkada DKI Jakarta menjadi fenomena besarnya. Pemilu hakikatnya ialah kompetisi merebut hati rakyat dan pada setiap kompetisi tentu ada peraturannya, termasuk pemilu. Ada regulasi. Ada rule of the game. Melakoni sebuah kompetisi dengan aman, jujur, dan adil memerlukan sportivitas, yaitu sikap menjunjung tinggi fair play.

Politisi mestinya fair, aturan politik diatur dalam hukum positif yang diterbitkan negara. Jelas tidak pantas membawa aturan Tuhan dalam politik yang bahkan bertentangan dengan aturan perundang-undangan.

Sama seperti ‘tangan Tuhan’ Maradona, ada yang menggugatnya dan ada yang menyanjungnya. Begiu pula dalam politisasi ayat Tuhan, satu kubu menghujatnya, kubu lain mengelu-elukannya.

Namun, di sepak bola masa kini, FIFA sebagai induk sepak bola dunia gencar menggaungkan fair play sembari berbenah menyempurnakan aturan dan mengadopsi teknologi.

Adaptasi video assistant referee (VAR) dalam pertandingan tidak memungkinkan gol ‘tangan Tuhan’ seperti Maradona terjadi lagi. Bahkan aturan fair play menjadi penentu lolosnya sebuah tim. Jepang menjadi kesebelasan pertama dalam sejarah sepak bola yang merasakan ‘keuntungannya’ dalam bermain fair.

Semoga sepak bola dan politik tidak memilih jalan yang berlawan arah. Jika sepak bola terlihat berkemauan keras untuk meninggalkan yang berbau pembenaran atas nama Tuhan, tuntutan yang sama bagi politik bangsa ini.

Jika aturan sepak bola menuntut kemungkinan untuk diperbaiki dan beradaptasi dengan teknologi, begitu juga kehidupan politik, demokrasi dan kesejahteraan rakyat dapat diraih. (R-1)

 

 

 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More