P2P Lending semakin Disenangi

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Senin, 09 Jul 2018, 04:30 WIB Ekonomi
P2P Lending semakin Disenangi

MI/Ramdani

KINERJA industri teknologi finansial (tekfin) dari awal 2018 hingga kini tumbuh signifikan jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada kenaikan pinjaman pada industri ini sebesar 111,23% year to date atau saat ini Rp5,42 triliun.

Tidak mengherankan semakin banyak perusahaan tekfin bermunculan. Salah satunya Akseleran dengan model bisnis pinjaman antarpihak (peer to peer lending/P2P).

Cofounder & Chief Executive Officer of Akseleran, Ivan Nikolas Tambunan, mengatakan pelaku usaha kelas menengah kadang tidak dapat dilayani perbankan jika mengerjakan proyek jangka pendek yang berlangsung kurang dari satu tahun. Padahal, usahanya tergolong prudent.

Data Akseleran, yang fokus pada dana investor ke pelaku usaha kelas menengah, mencatat selama 9 bulan beroperasi, lebih dari Rp67 miliar tersalurkan untuk memenuhi kebutuhan modal.

"Perbankan tidak melayani mereka karena proyek yang dikerjakan hanya berkisar 4-6 bulan. Perbankan mensyaratkan keberadaan agunan dan minimum pinjaman hingga 1 tahun. Di sinilah P2P lending berperan memberikan modal kerja secara efisien," tutur Ivan saat ditemui di Jakarta, Rabu (4/7).

Kebanyakan peminjam yang mengakses modal kerja lewat Akseleran merupakan subkontraktor. Sebagian besar mereka berasal dari industri minyak dan gas serta konstruksi. Tingkat kredit macet Akseleran saat ini masih 0% untuk pinjaman di atas 90 hari.

Chief Marketing Officer of Akseleran, Andri C Madian, mengatakan, pihaknya terus berinovasi dalam bentuk pengembangan situs dan peluncuran aplikasi di bulan ini. "Kami menargetkan hingga akhir tahun dapat menyalurkan pinjaman hingga Rp200 miliar," tandasnya.

Investasi
Hadir pula di model bisnis P2P lending PT Multi Inovasi Digital melalui Danain.co.id. Perusahaan ini masih satu grup dengan PT Mas Agung Sejahtera (MAS) sebagai pergadaian swasta terbesar di Indonesia dengan 50 cabang.

Menurut CEO of Danain, Budiardjo Rustanto, sebagai salah satu pionir model bisnis P2P lending dengan jaminan, pihaknya menawarkan investasi aman dan menguntungkan pendana sehingga mendapatkan kepastian.

"Kami ingin memberikan alternatif bagi masyarakat untuk mengembangkan dana mereka dengan cara aman. Pendana dapat menerima pengembalian pokok berikut bunganya dengan waktu relatif singkat, yakni maksimal 4 bulan, bahkan dalam hitungan hari bila peminjam melunasi pinjamannya lebih cepat. Bunganya sekitar 8% per tahun tanpa potongan apa pun yang berarti ini di atas suku bunga deposito," ujar Budiardjo di Jakarta, Selasa (3/7).

P2P lending lain biasanya menawarkan pendanaan dengan tenor panjang dan tidak beragunan. Otomatis itu memiliki tingkat risiko lebih tinggi atas pengembalian pokok dan bunga. Danain mensyaratkan nilai agunan yang lebih besar daripada nilai pendanaan sehingga lebih aman.

Saat ini agunan masih berupa emas perhiasan atau logam mulia yang memiliki harga stabil cenderung naik dari waktu ke waktu. Emas juga merupakan barang agunan yang likuid.

Karena itu, Danain menggandeng MAS sebagai mitra untuk memastikan keakuratan taksasi dan keaslian emas yang menjadi agunan tersebut. Selama ini masyarakat membutuhkan dana dengan menggadaikan emas dan perhiasan di MAS.

Budiardjo menargetkan, pihaknya dapat mengumpulkan dana hingga akhir tahun sebesar Rp120 miliar dari 15 ribu investor. Pihaknya kini mengincar institusi keuangan besar untuk menjadi pendana. Untuk mitra, pihaknya akan menambah tiga lagi dari pergadaian dan perusahaan pembiayaan.

(Ant/S-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More