Rasionalitas Sepak Bola

Penulis: Adiyanto Wartawan Media Indonesia Pada: Minggu, 08 Jul 2018, 09:52 WIB Opini
Rasionalitas Sepak Bola

DOK PRIBADI

SEUSAI Spanyol kalah adu penalti dari Rusia di babak 16 besar, komentator di televisi mengatakan sepak bola kadang tidak adil. Alasannya, Spanyol yang tampil bagus sepanjang 2 x 45 menit hingga dua kali 15 menit perpanjangan waktu harus dieksekusi lewat drama tos-tosan.

Anda setuju dengan pendapatnya? Kalau saya sih tidak. Sebabnya, selama aturan atau regulasi pertandingan belum diubah, yaitu tim yang paling banyak menceploskan bola ke gawang lawan ialah pemenang, ya hukum atau ketentuan itulah yang mesti dihormati. Tak peduli golnya lahir lewat permainan tiki-taka, total football, jogo bonito, atau adu penalti. Tidak masalah pula bolanya diceploskan dengan kaki, dengkul, tumit, atau (maaf) pantat. Selama masih diperbolehkan dalam regulasi pertandingan, semua sah-sah saja asalkan bukan dengan tangan.

Sepak bola lahir dari rasionalitas. Dikabarkan, permainan ini awalnya pertama kali dimainkan di Inggris untuk sarana hiburan mengisi waktu senggang, bukan untuk mengusir setan. Jika manusia dari berbagai suku, bangsa, dan agama, bisa memainkan olahraga ini dalam sebuah kejuaraan, di situ ada aturan-aturan yang telah disepakati bersama, seperti ketentuan soal offside dan poin untuk tiap kemenangan. Soal siapa tim yang bermain paling cantik, pemainnya paling ganteng, atau taat beribadah, tidak ada dalam regulasi tersebut, apalagi untuk menentukan pemenang.

Karena itu, aneh ucapan si komentator tadi. Spanyol tersingkir lantaran lebih sedikit mencetak gol daripada Rusia, kenapa lantas yang dituding tidak adil ialah sepak bola? Menurut saya, itu tudingan serius dan mencederai sportivitas.

Kesannya seperti tidak legawa menerima kekalahan. Jika terus dipelihara, sikap-sikap seperti ini menurut saya berbahaya bagi kehidupan generasi anak-cucu kita.

Mereka akan selalu menyalahkan pihak lain. Contohnya bisa kita lihat dalam hampir setiap penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada). Di era siapa pun, hal-hal seperti ini selalu saja bermunculan. Ada saja yang tidak mau atau rela menerima kekalahan. Seperti di Piala Dunia, boleh-boleh saja punya calon kontestan yang dijagokan di pilkada berikut kriteria pertimbangannya.

Namun, suka tidak suka, keputusan pemenang tetap didasari pada perolehan suara terbanyak. Kalau diduga ada kecurangan, ya silakan ajukan keberatan sesuai dengan prosedur berlaku yang telah disepakati, bukan ngambek di media sosial dan menuding ini-itu tanpa bukti.

Barangkali memang selama ini ada kesalahan dari kita dalam memandang sepak bola. Kita datang ke stadion atau menonton televisi hanya untuk melihat kesebelasan atau tim favorit kita menang, bukan melihat hal-hal lain dan menikmati pertandingannya.

Padahal, selama 2 x 45 menit itu, banyak hal bisa diamati, misalnya pemain bertindak sportif dengan membantu pemain lain yang terjatuh, keterampilan menggocek bola, atau ketahanan fisik mereka yang begitu kuat. Mungkin itu pula yang terjadi dalam kontestasi pilkada. Kita selalu sibuk ingin jadi pemenang tanpa mau mengambil hal positif dari lawan. (R-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More