Menggali Jati Diri Keakuan Natisa

Penulis: Fathurrozak Pada: Minggu, 08 Jul 2018, 07:00 WIB Weekend
Menggali Jati Diri Keakuan Natisa

DOK. WITJAK WIDHI CAHYA

DUA mata milik seseorang berkepala lonjong pelontos, terletak tak presisi. Rupanya tampak kacau tanpa ekspresi riang, dengan sapuan gelap hampir di seluruh bagian wajah, kecuali bagian kepala. Potretnya berlatar merah darah, dan di situ tertulis kata Sableng.

Karya bermedium 38,5 cm x 57,5 cm itu menjadi satu dari sekian representasi Natisa Jones dalam pameran tunggalnya, Grotesk, di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pameran akan dihelat hingga 26 Juli 2018 mendatang.

Dalam Sableng, seniman muda yang lahir di Jakarta, 13 Desember 1989 itu terlihat mengeksplorasi bagian tubuh manusia dengan menunjukkan kemuraman suasana lewat perpaduan warna, atau yang lebih ekstremnya, tata letak anatomi tubuh manusianya.

Natisa sekaligus ingin menyuguhkan bagian emosi yang agaknya jarang disukai manusia. Sesuatu yang dinafikan tetapi sebenarnya merupakan kompartemen setiap manusia. Depresif, amarah, atau kemuraman hati, menjadi suatu bahasan batin dan personal, coba diangkat perempuan yang kini bermukim di Bali itu.

Walau ia tinggal di Pulau Dewata, toh dirinya justru tak larut dengan gaya romantisme untuk menumpahkan lanskap alam. Ataupun terjebak dalam ceruk tradisi lokalitas. Ia berporos pada kebatinan dan humanisme sebagai alter.

Sejak ia berkarya di atas kertas atau kanvas, menggunakan bolpoin atau cat, semuanya menggores rupa manusia. Dari karya bermedium gigantik, atau yang tampak seperti arsip karya semasa kecil Natisa.

Meski, patron karya Natisa bercorak pada kebatinan manusia, ia juga menyertakan unsur peristiwa alam, seperti gunung berapi yang menjadi latar dalam salah satu karyanya berjudul My Volcano, mengisi ruang bersama figur perempuan memegang sepucuk bunga.

Karyanya lain berwujud ceceran tetumbuhan seperti dalam Solid Steady, Hungry, Lesson with Pablo, dan Chase Bread. Seakan lewat corat-coret material alamiahnya ini ia ingin menyajikan keindahan dalam dimensi lain.

Dalam coret yang kacau itu, Natisa ingin menolak tekanan untuk seniman mencipta yang indah, alih-alih ia menyangkal adanya keindahan itu. Bunga-bunga yang hadir dalam gambarannya yang gotik itu, ia representasikan sebagai kehadiran tekanan keindahan yang membuntuti.

Kebahagiaan platon

Selain rupa-rupa yang memang Grotesk, sesuatu yang gotik, istilah kata yang bermula dari Prancis untuk menggambarkan rupa yang jelek tetapi memiliki keanehan dan fantastis, Natisa sekali lagi ingin memusatkan impuls keartistikannya pada emosi diri. Ia terlepas dari tanggung jawab di luar dirinya, atau kuasa dikte terhadap perasaan orang lain. Dengan letupan emosi personalnya, ia bisa saja menyulut emosi selaras dengan pemirsanya.

Seperti yang terjadi pada bentangan kertas putih besar di tengah ruang pamer, ia mengekspose kegundahannya dalam tinta merah yang penuh dari deret atas hingga bawah. Bila kita membacainya secara parsial, seolah deretan kalimat itu menjadi tumpahan emosi batin dan sesuatu yang mandek di pikiran Natisa.

Dalam karya lukisnya yang lain, misalnya, Check Points, ia membubuhkan kalimat-kalimat, "What You Want to Make, What You Think You're Making." Hal yang sama didapati pada salah satu karyanya terdahulu berjudul Some Days dengan wujud kepala yang berisi dialog "Some days, it's good, somedays it's bad. Let's just leave it at that."

Dari sekian deret karya yang berciri kacau, ketelanjangan diri manusia, dan tumpahan kata, seolah menjadi pernyataan bahwa segala yang buruk pada kita juga ialah kompartemen kemanusiaan, yang seharusnya kita akui secara jujur untuk menerima, alih-alih menepisnya.

"Seperti rasa ketakutan itu ya kadang bagus, berarti kita waras, dan itu jadi part of being human. Any emotions, sesuatu yang aku akui include emosi itu jelek, enggak bisa ditolak, mau tidak kita akui pun, itu masih eksis," ungkapnya seusai pembukaan pameran, Sabtu, (30/6).

Sampai berapa pun usia seseorang, kegundahan akan selalu mendampingi, yang muncul sebagai hal baru dalam setiap fase. "Manusia selalu mengalami hal baru, faktanya tak ada kebahagiaan platon, kesempurnaan itu tidak ada, kalau kita bisa menerima itu dengan lebih jujur, malah lebih indah," sebut Natisa.

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More