Kejuaraan Piala Dunia

Penulis: Suprianto Annaf, Redaktur Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 08 Jul 2018, 02:00 WIB BIDASAN BAHASA
Kejuaraan Piala Dunia

Dok. Pribadi

Sepintas tidak ada yang perlu dipusingkan dengan gabungan kata piala dunia dan kejuaraan dunia. Bagi banyak kalangan seperti saya, keduanya mengasyikkan dan menegangkan. Saat pertandingan, dukung-mendukung tim kesayangan memang diperlukan. Namun, urusan kalah-menang biasanya disampingkan. Bila tim kesayangan kalah, bisa juga berlapang dada alias diikhlaskan.

Akan tetapi, secara pemaknaan kedua gabungan itu memberikan batasan yang berbeda. Hal inilah yang terlupakan. Walaupun dilekati oleh kata yang sama, yakni kata dunia, makna piala dunia dan kejuaraan dunia berbeda arah. Begini analisisnya.

Yang pertama, piala dunia. Kesan yang muncul dari gabungan kata itu menyiratkan bahwa peserta dalam pertandingan terbuka untuk seluruh negara di dunia. Kita pun bisa mengatakan bahwa Indonesia, Timor Leste, atau negara lain berhak berkompetisi di dalamnya. Akan tetapi, karena aturan dan seleksi, nyatanya negara peserta tidak seluas jangkauan maknanya. Negara yang lolos pun itu-itu saja. Untuk Asia, untung saja masih ada Jepang dan Korea Selatan sebagai wakilnya. Buat saya, keterwakilan ini sebagai pelipur lara bahwa negara Asia bisa juga berkiprah dalam piala dunia.

Bila batasannya seperti di atas, saya tidak bersepakat pertandingan ini disebut 'piala dunia'. Hal ini semata-mata negara peserta yang tidak banyak berubah dan tidak merata. Itu-itu saja! Artinya, secara kemampuan, hanya negara itu bisa berkompetisi di sana. Jumlahnya pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah negara di dunia.

Akan tetapi, bila dilihat dari banyak penonton, piala dunia memang disaksikan dan dinikmati oleh banyak orang. Di seantero dunia, termasuk di Indonesia, muda dan tua, besar dan kecil, serta kota dan desa menyenangi piala dunia. Karena itu, tak heran animo penonton di setiap pertandingan ini sering semati demam piala dunia. Untuk batasan ini, rasanya boleh diterima.

Selain itu, yang paling mutlak bisa disebut piala dunia karena piala yang diberikan kepada juara pertama berupa simbol dunia (world cup). Inilah yang tidak terbantahkan. Terbukti. Akan tetapi, bila semata karena bentuk atau corak pialanya, tentulah piala dunia setara dengan kejuaraan dunia biasa. Artinya pula, pertandingan olahraga ini berstandar dunia, diakui dunia, dan diikuti peserta lintas negara meskipun terbatas pada negara itu saja. Tentu hal itu sama saja dengan kejuaraan-kejuaraan lain yang bertitel dunia.

Dengan melihat fakta di atas, lebih mengena bila perhelatan itu disebut 'kejuaraan piala dunia', dengan alasan keberadaan memang diakui dunia, penyelenggaraannya berstandar dunia, dan negara yang berkompetisi pun itu-itu saja. Hal ini setara dengan kejuaraan dunia bulu tangkis bernama Thomas Cup dan Uber Cup.

Negara yang menjuarai kejuaraan bulu tangkis ini berkisar dari Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Indonesia, serta sekali-kali Malaysia, India, dan Denmark. Tak pernah Brunei Darussalam, Timor Leste, Filipina, atau Vietnam. Hal inilah yang menjadikan perhelatan olahraga itu bertitel kejuaraan dunia bulu tangkis.

Bisa pula namanya diganti menjadi 'piala dunia Eropa' karena peserta dan pemenang dari negara-negara itu saja. Bisa juga, bila tidak mau mengubah nama, rujukan yang harus dipakai hanya karena bentuk pialanya. Bukan alasan yang lain!

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More