Sang Legenda di Surya Kencana

Penulis: Despian Nurhidayat Pada: Minggu, 08 Jul 2018, 00:00 WIB Kuliner
Sang Legenda di Surya Kencana

MI/BARY FATHAHILAH

BERKUNJUNG ke Bogor, Jawa Barat, tidak akan lengkap tanpa menikmati sejumlah kuliner legendarisnya. Salah satu tempat yang menyediakan beragam hidangan yang terkenal di Jalan Surya Kencana.

Penganan khas Bogor terjadi di beberapa restoran dan kaki lima yang menarik untuk dicicipi. Namun, masih bingung mau mencoba apa saja, berikut Media Indonesia merekomendasikan beberapa hidangan yang patut dicoba. (M-3)

Soto Kuning

Saat ke Bogor jangan lupa mencicipi soto kuning milik M Yusuf. Aroma rempah langsung menarik indra penciuman saat disajikan di meja. Soto ini menggunakan kunyit, santan, dan rempah-rempahan yang cukup banyak hingga aromanya cukup kuat. Saat diseruput pun rasa kuahnya terasa kental.

Isian dari soto ini pun cukup banyak. Ada daging, jeroan (ada kikil, babat, usus sapi, tulang muda), tomat, dan seledri. Namun yang suka tambahan perkedel dan emping bisa menggambilnya langsung di meja.

"Kalau soto kuning ya hanya begini, kuah dan daging. Kalau emping dan perkedelnya kami sediakan di meja hanya sebagai aksesori tambahan lah untuk pengunjung yang mau pakai saja," ungkap Yusuf kepada Media Indonesia, Selasa (26/6).

Menariknya di soto ini daging yang digunakan diolah secara terpisah. Tidak seperti biasanya, daging direbus bersama kuah soto. Potongan daging digoreng sebentar sebelumnya dicampur dengan kuah soto sehingga memberikan tekstur renyah di luar, namun lembut di dalamnya. "Proses ini juga membuat dagingnya lebih tahan lama," ujar Yusuf.

Soto kuning ini sudah buka sejak 1974, tetapi sempat setop 1985 karena Yusuf bekerja di tempat lain. Namun, 2005 restoran ini kembali dibuka dan tidak pernah sepi pengunjung. Harga yang dipatok pun cukup murah, yakni Rp35 ribu per porsi. Tersedia juga hidangan spesial tidak semata potongan daging, dicampuur potongan kaki hingga otak dalam mangkuk yang cukup besar. Hidangan spesial itu dibanderol Rp85 ribu.

Laksa Aut

Laksa cukup melegenda di Bogor. Laksa yang terkenal di Gang Aut, Jalan Surya Kencana. Rumah makan yang sudah dikelola tiga generasai ini tetap menjaga rasa asli laksanya.

"Kalau jualan mah kita udah lama, udah generasi ketiga. Kita nurunin dari bapak, dari tahun 1990-an. Kalau jualan mah dari kakek, dari kakek, bapak, cucu sekarang," ujar wahyu pemilik kios laksa itu.

Tidak hanya rasa tradisional yang dipertahankan, suasana pun masih tetap sama. Di dalam kiosnya masih ada pikulan yang dulu digunakan keluarganya berdagang laksa keliling. Teknik memasak yang digunakan pun masih sama seperti pendahulunya, setelah kuah dituangkan ke dalam mangkuk berisi bihun dan taoge, kuah dikembalika ke panci. Proses itu diulang sebanyak tiga kali. Proses itu dilakukan agar taoge dan bihun matang dan layu disaat bersamaan dan siap untuk dimakan.

Tampilan laksa ini menarik. Pasalnya, ada kelapa parut yang disangrai ditabur di atasnya. Ditambah kuah yang manis dan gurih dari santan, kunyit, salam, sereh, dan bumbu lainnya yang bersatu dengan seimbang.

Bicara laksa jangan lupa isiannya. Ada tahu, bihun, taoge, ketupat, dan telur. Berbeda di daerah lain yang menggunakan rebon, laksa di sini menggunakan oncom.

Tahu yang digunakan ialah tahu susu yang sangat lunak saat digigit. Tak lupa daun kemangi pun membuat laksa ini terasa harum dan menyegarkan.

Semangkuk laksa ini bisa dinikmati dengan harga Rp15 ribu. Namun, Anda harus bersabar mengantre, khususnya di akhir pekan dan libur panjang. "Pokoknya kalau laksa cuma ada di Gang Aut doang ini, enggak ada lagi di mana juga. Kalau taoge goreng banyak. Kalau laksa cuma disini doang jadi engga ada temennya," ungkap pria yang akrab di sapa mang Wahyu.

Dodongkal

TAMPILAN kue ini mirip dengan tumpeng tetapi berwarna putih yang berbeda. Kue itu ialah dodongkal. Kue khas Jawa Barat ini mulai jarang ditemui di masyarakat.

Dodongkal Mang Aep namanya. Di sini ia menggunakan beras asli Cianjur yang ditumbuh hingga menjadi tepung beras. Tepung itu dikukus bersama dengan gula merah dengan cetakan tumpeng atau disebut aseupan. Setelah matang, dodongkal tadi dipotong dan diberikan taburan kelapa parut dan ditambahkan talas kukus, umbi-umbian khas bogor dan disajikan diatas potongan daun pisang.

"Ini mah bahannya dari beras asli, dari beras Cianjur. Dijadiin tepung dulu baru jadi ini. Cara penyajiannya dimasukin ke aseupan ini terus dicampur gula aren," ujar Mang Aep yang sudah berjualan sejak 10 tahun lalu menggunakan resep dari neneknya.

Sekilas, rasa dari dodongkal ini sangat mirip dengan rasa kue putu. Mungkin karena bahan yang digunakan sama, yakni tepung beras dan gula aren. Perbedaan terletak pada warna dan tekstur dari kue ini. Jika kue putu berwarna hijau, dodongkal ini berwarna putih dan cokelat karena bahan dari gula aren yang tadi. Tekstur pun bisa dikatakan berbeda, karena dodongkal lebih hancur dan lembut ketika dimakan.

Yang membuat makanan ini menjadi legenda di bogor ialah ditambahkannya talas kukus. Rasa Manis dan lembut berpadu dengan seimbang.

Satu porsi dodongkal dengan talas kukus dihargai Rp20 ribu. Bila Anda hanya ingin dodongkalnya saja cukup membayar Rp10 ribu.

Bir Halal

SETELAH semua hidangan dan cuaca yang cukup panas saatnya mencari minuman dingin yang segar. Tidak jauh dari gerobak dodongkal ada es bir kotjok si abah since 1965. Meski begitu, yang berjualan cucu abah Acep bernama Eman. "Ini sih dari bapak turunnya, bapak dari kakek," kata eman.

Tidak salah, nama minuman tradisional ini bir. Namun, bukan minuman beralkohol. Es bir kotjok ini menggunakan rempah-rempah, yakni jahe, cengkeh, kayu manis, gula pasir, dan gula aren.

Minuman yang mirip jamu ini dicampur dengan es batu dan dikocok hingga berbusa. Setelah itu dituangkan ke segelas air. Rasa segar bercampur hangat dari rempah langsung terasa di tenggorokan. Meninggalkan rasa yang dingin nan hangat yang cukup lama. Cukup dengan Rp10 ribu untuk menikmati kesegaran minuman tradisional ini.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More