Disangka Noni Belanda, Ternyata Kasudin Koperasi DKI Jakarta

Penulis: Akmal Fauzi Pada: Jumat, 06 Jul 2018, 15:32 WIB Megapolitan
Disangka Noni Belanda, Ternyata Kasudin Koperasi DKI Jakarta

MI/Akmal Fauzi

WARGANET dihebohkan dengan beredarnya foto kemunculan sosok wanita menyeramkan yang muncul dalam acara pelantikan lima wali kota dan satu bupati jajaran Pemprov DKI Jakarta, Kamis (5/7) kemarin.

Sosok wanita dengan rambut panjang hitam dengan wajah pucat terlihat berada di barisan belakang, ketika enam pejabat tersebut dilantik oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.

Foto sosok seram yang telah viral itu, membuat Kepala Suku Dinas (Kasudin) Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan (KUMKP) Nur'aini Silviana kaget. Pasalnya, sosok wanita yang tergambar itu adalah foto dirinya yang sudah diedit

"Itu saya. Saya penasaran, siapa yang edit foto itu," ucap Sylvi, Jumat (6/7)

Gaya dandan Sylvi kesehariannya memang terlihat nyentrik. Dengan bedak tebal hingga 'gincu' merah yang mencolok. Namun, di foto itu, kerudung yang ia kenakan diganti rambut panjang berwarna hitam.

"Saya tahu dari teman sekantor, dan mereka ya semua tahu yang berdiri persis posisinya yang di foto itu ya saya. Hanya saja, kan setidaknya ini malah jadi bahan tertawaan. Saya memakai jilbab abu-abu. Kenapa fotonya dibuat sehitam itu. Saya hanya berharap, jajaran media massa yang beritakan itu, agar segera klarifikasi," ujar Sylvi.

Foto itu sempat ditanggapi Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno. Ia memastikan foto tersebut adalah hoax atau sebuah editan dari orang tidak bertanggungjawab.

“itu hoax kayaknya deh photoshop hoax saya nyatakan itu hoax. Saya yakin itu hoax dan Balaikota saya udah tinggal 8 bulan di sana aman-aman saja dan makhluk halusnya Noni Belandanya sangat ramah sama saya,” ucap Sandiaga. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More