Indra Lesmana Dari Bunyi Erupsi Gunung Agung Lahirlah Band ILP

Penulis: Retno Hemawati Pada: Jumat, 06 Jul 2018, 05:30 WIB Hiburan
Indra Lesmana Dari Bunyi Erupsi Gunung Agung Lahirlah Band ILP

Dok MI

PADA 27 Juni 2018, Indra Lesma, 52, secara resmi memperkenalkan band Indra Lesmana Project (ILP) ke publik lewat sebuah konser. Acara tersebut merupakan aksi panggung grup band baru yang dibentuknya, setelah masa karantina.

Layaknya sebuah gunung yang tengah erupsi, ILP mampu memuntahkan energi berlebih pada pendengarnya. Mereka tidak saja menghadirkan kecepatan, ketepatan, dan racikan notasi yang rumit, tapi juga harmonisasi yang terukur.

Lebih lanjut, musikus yang dikenal dengan musik jazz-nya itu menceritakan ide awal terbentuknya ILP.

"Kala itu di pagi hari, September 2017, saya menjalani rutinitas di studio musik. Saat itu Gunung Agung sedang erupsi. Saya menyalakan keyboard, tapi bunyinya noise terus," kata Indra beberapa waktu lalu.

Ia tidak tahu apakah suara bising itu muncul dari alat musik atau dari dalam benaknya. "Namun, saya tidak ingin melupakan peristiwa itu begitu saja," tutur pria yang kini menetap di Bali itu, seperti dilaporkan Metrotvnews.com, kemarin.

Indra lantas menerjemahkan bunyi bising momen erupsi Gunung Agung itu menjadi sebuah proyek musik dahsyat yang diberi nama Indra Lesmana Project (ILP). Band tersebut mengusung musik progresif metal.

Indra lantas menggelar audisi besar-besaran untuk memilih personel ILP, terkecuali basis Shadu Rasidji yang ia pilih langsung tanpa proses audisi terbuka. Perjalanan mencari yang tepat untuk mengisi divisi drum, dua gitar, dan vokal tidak mudah.

"Ada 110 drumer, 150 gitaris, dan lebih dari 200 vokalis ikut audisi via Instagram. Mereka main overdub (materi yang diberikan Indra). Mereka tampil langsung di Instagram dengan tanda pagar #ilpmusic," jelasnya lagi.

Kemudian, tambah Indra, mereka mengirimkan e-mail penjelasan background musik mereka. Proses itu terjadi selama dua bulan lalu mereka langsung rekaman melalui digital di dunia maya.

Ekstrem
Dari hasil audisi, ujar Indra, terpilih Togar (vokalis), Hata Arysatya (drumer), Karis (gitaris), dan Rayhan Syarif (gitaris). Metode rekaman yang dilakukan Indra cukup ekstrem bagi sebuah band baru, yakni rekaman tanpa tatap muka dan hanya mengandalkan dunia maya.

Beberapa personel pada saat rekaman bahkan belum pernah berkenalan secara langsung. Namun, pada kenyataannya metode itu berjalan baik. Hasil rekaman maya ILP dapat didengar dalam album Ascension yang terdiri dari empat lagu.

"April 2018 kami selesai rekaman, kemudian kami audisi sound engineer. Kami ingin punya engineer yang tahu maunya kami," tambahnya.

Melalui band ILP, Indra tampaknya ingin menjajal hal baru. Menurutnya, proyek itu tentu saja butuh lebih dari sekadar mimpi. Dalam ILP, Indra bekerja sama dengan para musikus muda, seperti gitaris Ray, 21.

Baginya, ILP sebenarnya bukan saja sebuah band, melainkan medium untuk berbagi pada generasi muda. "ILP bukan hanya sebuah band, melainkan sebuah gerakan. Mudah-mudahan lewat ILP ini akan bermunculan kembali musikus-musikus lain yang bagus-bagus," ujarnya.

Soal selera, Indra tidak menampik bahwa dirinya juga menikmati musik keras, terutama pada aliran djent.

"Saya bukan penggemar berat death metal. Saya suka musik djent seperti Meshuggah atau Animals as Leaders atau technical metal," pungkasnya.

(X-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More