Pungutan Liar Jangan Jadi Tradisi

Penulis: Oscar Naseem KJAD Mahasiswa PKN STAN Pada: Kamis, 05 Jul 2018, 09:05 WIB Surat Pembaca
Pungutan Liar Jangan Jadi Tradisi

MI/Tiyok

SEKIAN lama negara ini berkutat pada masalah-masalah yang tak kunjung ada penyelesaian. Kemiskinan, pengangguran, dan buruknya citra pendidikan masih dalam alunan syahdu para penari-penari jabatan negeri ini. Mereka memang pintar, tapi sungguh menyedihkan hasil yang didapat.

Sedih bila mendengar, apalagi melihat, adanya beberapa kasus yang sebenarnya bisa tidak terjadi kalau mereka sadar akan pentingnya ilmu kehidupan. Sungguh sangat disayangkan wahai para pelaku roda kehidupan. Tak pantas sekelas lembaga kreator ilmu atau bisa disebut dunia pendidikan, masih melakukan dramatisasi dalam penerimaan siswa atau taruna baru (dalam hal kedinasan). Permainan jeli dari oknum untuk mengukir sebuah kesuksesan siswa masuk ke pendidikan yang diinginkan cukuplah berani. Sungguh memilukan.

Kalau ada yang bilang, "Ingin masuk ke lembaga pendidikan ini, bayar dulu dong!". Sebuah pungutan liar yang menggeliat pada penerimaan calon siswa atau taruna ini bagai bangkai yang tak tercium baunya. Seolah sudah biasa hal ini terjadi sehingga anggapan masyarakat terkait pungli membuat kata itu menjadi sebuah tradisi.

Akhirnya akan muncul kalimat, "Iya anak bapak ibu, nilai psikotesnya masih ada kekurangan. Lebih baik apabila orangtua yang bersangkutan melengkapi dana segar agar anaknya bisa lanjut sampai tahap akhir."

Elokkah bila ini terus berlanjut? Mau jadi apa anak-anak negeri ini ketika sudah memegang jabatan nanti? Proses akan menentukan hasil di masa mendatang. Maka, pungli yang masih terjadi akan mencetak generasi-generasi yang menyedihkan. Rusaklah bangsa ini. Tak akan ada penerus jejak bapak bangsa seperti Soekarno, Hatta, dll.

Sangat miris apabila pungli itu terjadi pada siswa yang keluarganya sangat pas-pasan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Bagaimana nasib mereka? Seolah sudah di ujung tanduk. Mereka yang tak mampu pun akan kandas di tengah ketidakadilan. Yang akan diperbuatnya pasti hanya untuk menyenangkan para atasan.

Sebagai seorang mahasiswa saya hanya bisa menegaskan, setop pungli. Jujur dalam berkehidupan, mencari ilmu tak sembarang, kasihanilah para pencari ilmu sejatinya, maka sukseslah bangsa ini dalam mencetak anak negeri yang berkualitas.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More