ATM Indonesia Menuju Piala Dunia 2038

Penulis: Mathias S Brahmana Wartawan Media Indonesia Pada: Rabu, 04 Jul 2018, 01:45 WIB Opini
ATM Indonesia Menuju Piala Dunia 2038

KEKALAHAN 3-4 Spanyol dari tuan rumah Rusia melalui tos-tosan terasa menyakitkan. Pendukung Spanyol berkabung. Bagi mereka, kekalahan tim nasional bagaikan kekalahan negara dalam peperangan.

Matador-matador La Furia Roja yang lincah dan trengginas ketika melawan banteng-banteng ketaton kehilangan pressure saat menghadapi ‘Beruang Merah’. Gempuran tiki-taka dengan umpan-umpan pendek, pergerakan dinamis, memindahkan bola melalui beragam saluran bak kehilangan arah.  

‘Negara Tirai Besi’ menggerendel peluang-peluang Spanyol lewat strategi ‘parkir bus’. Bendera negara yang tadi dikibar-kibarkan suporter ‘Matador’ tanpa henti selama 120 menit lebih terpaksa dilipat panjang dengan mata berkaca-kaca, lalu dililitkan di pinggang.
Kepala mereka tertunduk. Mau menangis, enggak bisa. Mau teriak, sudah kehabisan suara. Sakitnya itu di sini, dalam sekali, menembus hati.

Pemain Spanyol tampak telah kehilangan darah patriotik tatkala menjejakkan kaki di Rusia, persisnya saat Real Madrid mengumumkan Julen Lopetegui sebagai pelatih Los Blancos 2018-2020.

Lopetegui yang sangat digdaya memimpin timnas Spanyol selama babak penyisihan terlalu berisiko mengikat hubungan dengan sebuah klub karena pemain yang dibawanya ke Rusia berasal dari campuran klub, apalagi timnas didominasi pemain Real Madrid dan Barcelona yang merupakan seteru sengit.

Pemecatan Lopetegui sebelum kick-off Spanyol versus Portugal tak lagi dapat merenda keutuhan tim. Ego klub Real Madrid dan ambisi seorang Lopetegui memorakporandakan nasionalisme bela negara para pemain. Terbukti kemudian, instruksi kapten Sergio Ramos (Real Madrid) dengan irama yang dimainkan dirigen lapangan Andres Iniesta (Barcelona) tidak sinergi.  

Kekhawatiran bakal datangnya bencana itu telah diungkapkan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, Rafael del Amo. "Menurut saya, ini bukan waktu tepat. Lopetegui tahu ada banyak hal yang dipertaruhkan. Saya tak menyukainya, ini bukan kabar yang ingin saya dengar," tegas Del Amo. Spanyol pun ditahan Portugal 3-3 di laga perdana.   

Di sini, di rumah kita, kepentingan personal dan klub juga sudah lama membuat karut-marut tim nasional. Padahal, Indonesia merupakan negara Asia pertama dan sejauh ini satu-satunya negara Asia Tenggara yang pernah berpartisipasi dalam Piala Dunia 1938 di Perancis. Sudah 80 tahun Indonesia tak lagi hadir di arena itu. Korea Selatan bisa mengalahkan Jerman, juara Piala Dunia 2014, mengingatkan sebenarnya kita juga bisa. Tanpa harus mengungkit durian busuk, apakah waktu 20 tahun dari sekarang, tidak cukup untuk mempersiapkan generasi emas tim nasional?

Bibit unggul yang saat ini berusia 10 tahun bak Gatot Kaca dipersiapkan di kawah candradimuka untuk Piala Dunia 2038. Kita sudah tertinggal 100 tahun. Investasi sebesar Rp100 triliun untuk sebuah tim nasional pun terlalu kecil jika dibandingkan dengan harga diri bangsa. Copycat bisa mempercepat melahirkan generasi emas timnas. Apple membuat copycat dari Xerox dan mereka melesat melebihi Microsoft. Facebook meng-copycat Friendster dan mengukuhkan sebagai media pertemanan terhebat di dunia.

Awal kebangkitan Jepang juga dengan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Prof BJ Habibie pernah menyerukan start at the end dan end with beginning dalam menyikapi era industri strategis, mulai lisensi dan cepat serap ilmunya, hingga lengkapi dengan riset sendiri. Temukan gaya bermain ala Indonesia. Semua negara hebat dalam sepak bola berawal dari ATM.

Swiss menemukan gaya bermain verrou, Brasil dengan jogo bonito, Belanda digdaya memainkan total football, kick and rush (Inggris), catenaccio (Italia), tango (Argentina), tiki-taka (Spanyol), body crash football (Afrika), serta ‘parkir bus’.

‘Parkir bus’ juga penemuan gaya bermain. Rusia membuktikan melawan Spanyol, lalu membenamkannya lewat adu penalti. Yang bukan gaya permainan dalam sepak bola ialah tim nasional menjadi tukang parkir, seperti timnas kita saat ini. Parkirnya di dalam negeri, jauh dari kelas Piala Dunia. (*)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More