Madiba, Invictus, dan Semangat Kebersamaan

Penulis: Eko Suprihatno Wartawan Media Indonesia Pada: Selasa, 03 Jul 2018, 05:00 WIB Opini
Madiba, Invictus, dan Semangat Kebersamaan

Dok Pribadi

BEBERAPA hari lalu saat saya memencet tombol remote control, di layar televisi terpampang judul film lawas, Invictus. Film ini disutradarai Clint Eastwood dengan menampilkan Morgan Freeman dan Matt Damon sebagai sentral cerita.

Warner Bros merilis film itu pada 11 Desember 2009 dan mendapat sambutan luar biasa. Freeman berakting sebagai Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela dan Damon memerankan Franois Pienaar, kapten tim uni rugbi Afrika Selatan, Springboks. Film itu disadur dari buku Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Made a Nation karya John Carlin.

Film ini menceritakan perjuangan Afrika Selatan yang baru terlepas dari politik apartheid. Tantangan Madiba, nama yang kerap ditabalkan kepada Mandela sebagai sebuah nama klan Thembu yang ia miliki, sangatlah besar dan berat.

Sebagai presiden negeri yang pernah menjalankan politik perbedaan warna kulit, rakyatnya pun dilanda ketidakpercayaan diri akut. Bahkan, rasa saling tak percaya juga terjadi di pasukan pengamanan presiden, antara yang berkulit hitam dan putih. Madiba menyadari itu semua.

Akhirnya takdir ikut campur dengan membawa Afrika Selatan sebagai bangsa besar. Bermula dari negeri ini menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Rugbi 1995 dan membuat tim Springboks harus ikut bermain. Yang menarik, mayoritas anggota tim berkulit putih.

Madiba melihat peluang ini untuk menaikkan harga diri Afsel. Ia pun memanggil Pieenar dan memberikan tugas berat membawa timnya sebagai juara dunia. Cemoohan dan rasa rendah diri langsung menerpa anggota tim. Namun, Madiba meyakinkan mereka semua sanggup dan bisa mengalahkan lawan-lawan. Akhirnya di final mereka pun bisa menundukkan All Blacks (Selandia Baru).

Ada satu hal yang tak bisa dilepaskan dari semangat Invictus, julukan dewa bangsa Romawi, yang berarti 'tidak terkalahkan'. Apa kaitannya dengan Piala Dunia 2018? Tentu saja ada sebab setiap tim yang bertanding memiliki tekad serupa, tidak ingin kalah.

Namun, ada satu yang membedakan, nama besar tak berarti sebuah keberuntungan. Tak perlu disebut lagi nama-nama besar yang akhirnya sudah lebih dulu pulang.

Kehebatan tampil di ajang liga-liga Eropa tak paralel dengan kepiawaian bersama tim nasional masing-masing. Artinya, mereka tetap membutuhkan orang lain yang bisa memahami dan mengerti pola permainan. Hal itulah yang disadari Madiba ketika memberikan suntikan semangat kepada Springboks. Mereka diyakinkan bakal didukung seluruh rakyat Afrika Selatan. Tidak mudah memercayai orang lain ketika rasa rendah diri menerpa. Beban berat menjadi pemain papan atas dunia bukan hal mudah dilalui, terlebih ketika berada dalam satu tim dengan rekan yang lebih banyak berkompetisi di tingkat lokal. Sorotan dan semua harapan bakal bertumpu di pundaknya.

Kalau saja Madiba ada di tengah tim-tim elite itu, mungkin ceritanya akan lain. Ketenangan, kesabaran, dan kepiawaian dalam berbicara menjadi kunci sebuah kemenangan. Bokke, nama panggilan Springboks dalam bahasa Afrika, sudah membuktikan supremasi itu bisa dicapai lewat kebersamaan.

(R-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More