Korupsi yang Menihilkan Cinta

Penulis: Fathurrazak Pada: Minggu, 01 Jul 2018, 12:00 WIB Weekend
Korupsi yang Menihilkan Cinta

MI/RAMDANI

ARJUNA begitu berharap pada Sumbadra saat cintanya berbalas, meski keluarga Arjuna begitu normatif di hadapan sejoli itu. Namun, saat penantian begitu tak terkira masanya, Sumbadra menghempas dirinya menjadi sekumpul debu.

Arjuna Wibowo (Rangga Riantiarno), doktor yang ahli di bidang astronomi bertemu dengan sosok yang membuatnya jatuh hati. Makhluk dari 12 miliar tahun posisi bumi, saat Arjuna bertugas di Lembaga Peneropongan Bintang, Lembang, Bandung, Jawa Barat.

Sumbadra (Tuti Hartati) bukanlah nama sebenarnya, itu panggilan sang doktor untuk memudahkan memanggil nama perempuan yang bersosok rambut biru, dengan wajah di sekitar mata juga biru, dan setelan serba keperakan, menandai kemodernan tempat ia tinggal.

Sebagai sutradara, Nano Riantiarno memilih menggambarkan intensitas pertemuan yang tidak divisualkan lewat blocking adegan. Hanya dari percakapan keduanya di adegan pembuka, yang terasa seperti prolog panjang bagi penonton untuk memberi latar lini masa Arjuna dan Sumbadra yang memiliki nama asli Ssumphphhwttsspahzaliapahssttphph.

Arjuna yang kadung cinta pada Sumbadra, tak sekonyong-konyong punya perasaan itu. Sebagai seorang yang menekuni astronomi tentu ia takjub pada sosok yang sudah 10 kali ditemuinya. Makhluk ini punya kemampuan teleportasi dan mempelajari yang manusia bumi juga pelajari, termasuk kegemaran Arjuna akan wayang.

Hal itu dibuktikan saat Sumbadra menyebutkan bagaimana karakter Arjuna yang dalam kisah pewayangan disebutkan memiliki lebih dari seorang istri, saat doktor itu mengungkapkan ingin bisa menikahinya.

Konflik mulai terbangun saat Arjuna membawa putri penasehat raja di planetnya itu berkenalan dengan keluarga besar Wibowo di Jakarta. Padahal Sumbadra sudah mengingatkan, ia bisa terlihat kasat mata dan berkomunikasi karena merasa dekat dengan Arjuna.

Momen perjamuan di meja makan berlangsung mulus-mulus saja, meski seluruh keluarga Arjuna tak bisa melihat wujud perempuan idaman si doktor. Hanya Aprat Sakiro (Salim Bungsu) dan Sahranasyad (Idries Pulungan) yang merasakan kehadiran perempuan dari planet nun jauh itu, yang memang keduanya sering dianggap kurang waras oleh keluarga.

Ramalan yang meresahkan

Seusai jamuan makan di Jakarta yang normatif itu, seluruh keluarga menafikan yang mereka ucap di meja makan. Termasuk sang ayah, Wibowo Surmadjo (Budi Ros), yang sedang dilanda galau lantaran ramalan kedua penasehat pribadinya, Aprat Sakiro dan Subrat Balia (Joind Bayuwinanda).

Khususnya Sakiro, ia meramalkan lewat imajinasi Negeri Hindanasasa, akan ada penggerebekan dalam waktu dekat, penangkapan, skenario kecelakaan menabrak tiang listrik, juga bayangan benjol sebesar bakpao.

Wibowo, seorang Ketua Dewan Rakyat dan tokoh partai kaya raya memang sedang diincar aparat hukum akibat tindakan koruptifnya.

Wibowo mengeluarkan berbagai siasat untuk memanipulasi hukum di bawah kekayaan yang berlimpah. Sampai-sampai, mungkin menjadi penyebab anak-anak kurang perhatian dan kasih sayang dari sang ayah, seperti yang dialami Pratiwi Wibowo (Bunga Karuni), juga anak keduanya Arjuna.

Kisah cinta Arjuna dan kasus korupsi yang membelit Wibowo merupakan dua konflik utama yang disorot dalam pementasan Gemintang di Graha Bhakti Budaya, Teater Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Kamis (28/6) lalu. Pementasan yang dihelat hingga 8 Juni mendatang itu ikut menyoroti realita keadaan politik Indonesia yang begitu koruptif. Dalam dunia nyata, penonton pun langsung teringat kasus mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Setyo Novanto, beberapa waktu lalu.

Dari sisi teknis, berbeda dengan pentas sebelumnya, kali ini Teater Koma keluar dari pakemnya untuk pertama kali. Set realis sebagai latar panggung ditiadakan dan diganti dengan layar besar untuk menghadirkan nuansa gemintang nan futuristik.

Misalnya, saat tata artistik menghadirkan realitas virtual Sumbadra berbentuk hologram, yang diakali dengan layar tipis, dan ditembak dengan visual rekaman Sumbadra. Itu untuk memberikan nuansa seolah-olah ia tak ada. Kerja besar tim artistik yang dikepalai Idries Pulungan ini cukup menarik dan berhasil membangun persepsi penonton.

Begitupun saat perpisahan Sumbadra dengan Arjuna direspons dengan kilatan lampu dan hujan pasir yang turun dari atas untuk menggambarkan lenyapnya Sumbadra. Pada akhirnya, Sumbadra memang harus pulang ke planetnya karena tidak diizinkan ayahnya menikah dengan orang bumi.

Sayang, tim produksi belakang panggung nampak hilang momentum sehingga sepersekian detik, jadi terlihat kurang rapi, atau mungkin juga karena Sumbadra telat keluar panggung saat kilat lampu yang menyorot bangku penonton masih menyala dan pasir sudah turun.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More