Hidupnya Diwakafkan untuk Islam

Penulis: AT Pada: Minggu, 01 Jul 2018, 10:00 WIB Weekend
Hidupnya Diwakafkan untuk Islam

MI/ARDI TERISTI HARDI

MUHAMMAD Shamsi Ali, hampir 31 tahun tinggal jauh dari Indonesia, tanah kelahirannya. Tujuh tahun pertama, Shamsi tinggal di Pakistan, lalu ke Arab Saudi selama 2 tahun, dan akhirnya menetap di Amerika Serikat selama 22 tahun.

Shamsi lahir di sebuah kampung kecil yang bernama Kajang di Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 5 Oktober 1967. Walau penduduk di kampung tersebut 100% mengaku muslim, mereka masih percaya pada kepercayaan menyembah berhala.

Ketika duduk di bangku SD, Shamsi ialah anak nakal dan sering berkelahi. Orangtuanya bingung menghadapi kenakalan Shamsi, hingga suatu hari, ada orang yang menyarankan agar Shamsi dimasukkan ke pesantren di Makassar. Padahal, pada saat itu orangtuanya belum kenal apa itu pesantren.

Saat melepas dirinya ke Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul-Arqam Makassar, sang ayah berpesan, "Nak, saya serahkan kamu," ucap ayahnya.

Pesan yang sama diucapkan sang ayah saat melepas Shamsi ke Pakistan untuk melanjutkan S-1 di Universitas Islam Internasional, Islamabad, bermodal beasiswa Rabithah Alam Islami.

Lagi, nasihat sama didapatkannya kala Shamsi bertolak ke Arab Saudi dan menetap di Amerika Serikat. Seumur hidupnya, sang ayah tidak pernah menyampaikan maksud dari pesan tersebut. Shamsi Ali baru sadar maksud pesan tersebut setelah ayahnya meninggal seusai Lebaran kemarin.

Pada Idul Fitri kemarin, Syamsi Ali berceramah di Amerika. Setelah itu, ia langsung pulang ke Indonesia untuk menjenguk sang ayah yang telah berusia 104 tahun.

Ayahnya dikabarkan sudah tidak sadarkan diri. Walau sempat bertemu, sang ayah akhirnya meninggal dunia saat dirinya bertemu dengan para ulama di Makassar. Dalam perjalanan dari Makassar ke Bulukumba itulah Shamsi Ali merenung dan menemukan maksud dari pesan sang ayah.

"Saya sudah serahkan kamu. Artinya, kamu sudah saya wakafkan untuk agama ini," kata dia.

Selain pesan sang ayah, Shamsi juga masih mengingat pesan Kiai Abdulbar Ashiry, guru Shamsi di Pesantren Muhammadiyah Darul-Arqam. "Ia berpesan kamu sudah hidup di pesantren selama enam tahun. Kamu tidak hanya belajar ilmu saja di sini, tetapi juga belajar hidup. Maka, kamu sudah punya modal hidup, maka silakan kamu berangkat karena kamu sudah mampu hidup," kata sang guru saat Shamsi Ali hendak ke Pakistan.

Kehidupan di pesantren tersebut ternyata masih melekat di benaknya sehingga ia mewujudkan membangun pesantren ala Indonesia di Amerika. "Saya sudah 22 tahun jadi imam. Saya sekarang konsentrasi membangun pesantren di Connecticut. Membangun pesantren karena beberapa alasan. Pertama, kita membutuhkan pendidikan yang komprehensif dan ala Indonesia," kata dia.

Selama tiga tahun terakhir ini pula dirinya mendirikan Yayasan Nusantara Foundation. Ia ingin menampilkan pemahaman dan penafsiran Islam dari Indonesia yang karakternya bersahabat dan tersenyum. Pasalnya, stigma Islam dari Timur tengah itu keras dan masih amat melekat di AS.

Belakangan, Shamsi memang sering kembali ke Indonesia karena urusan pesantren. Ia ingin belajar ke beberapa pesantren dan fund rising untuk pesantrennya di Indonesia agar dunia tahu pesantrennya di AS merupakan sumbangan dari Indonesia.

Meski sudah 22 tahun menetap di AS, Shamsi Ali hingga sekarang masih memegang kewarganegaraan Indonesia. Ia mengaku sebenarnya punya peluang untuk menjadi warga negara di sana karena sudah memiliki permanent residence hampir 10 tahun.

"Saya belum urus karena merasa ingin selalu kembali ke Indonesia. Saya tidak enak jika kembali ke Indonesia harus mengurus visa," kata dia.

Saat ditanya, di mana ia akan menghabiskan masa tuanya, Shamsi Ali mengaku semua tergantung takdir. "Saya dari SD, pesantren, Pakistan, Arab Saudi, dan Amerika, tidak pernah merancang," kata dia.

Menurut dia, hidup ini hanya sekali. Yang penting ialah asasnya, manfaatnya. Hingga saat ini, Shamsi Ali pun menilai, manfaatnya tinggal di Amerika masih besar karena bisa menyampaikan Islam yang sesungguhnya, membangun komunikasi dan perdamaian. "Manfaat saya masih besar (di Amerika) sehingga tinggal di Amerika masih sangat penting," tutupnya.

BIODATA

Nama: Muhammad Shamsi Ali
Tempat dan tanggal lahir: Bulukumba, 5 Oktober 1967
Pendidikan
Pondok Pesantren Darul-Arqam di Makassar
S-1 Ilmu Tafsir (Tafseer) di International Islamic University, Islamabad, Pakistan
S-2 Perbandingan Agama (Comparative Religion) di International Islamic University, Islamabad, Pakistan
S-3 Ilmu Politik di Southern California University.
Kiprah
- Mantan Imam Masjid Al-Hikmah di New York, AS
- Mantan Imam di Pusat Kebudayaan Islam di New York, AS
- Direktur dan pemimpin Spiritual Jamaika Muslim Center, pusat komunitas Muslim terbesar di New York, AS
- Pendiri Nusantara Foundation untuk meningkatkan karyanya pada dialog dan kerja sama antaragama dan untuk memperkenalkan wajah alternatif Islam ke Barat.
- Anggota Dewan Penasihat untuk berbagai organisasi antaragama, termasuk Pusat Tanenbaum dan Federasi Perdamaian Timur Tengah.
- Ketua Dewan Pengawas untuk Federasi Muslim Asean Amerika Utara.
- Anggota Dewan untuk Kemitraan Iman di New York, AS
- Salah satu pendiri UNCC (Universal Clergy Coalition-International).
- Presiden Yayasan Muslim Amerika, Inc
- Wakil Presiden Koalisi Asia-Amerika Serikat (AAC-USA), Perwakilan PBB

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More