Dakwah Saya Sederhana

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Minggu, 01 Jul 2018, 08:30 WIB WAWANCARA
Dakwah Saya Sederhana

MI/ARDI TERISTI HARDI

"KALAU dulu, islamofobia dari pinggir-pinggir jalan karena mereka tidak tahu, tetapi sekarang ini islamofobia keluar dari Gedung Putih. Walau demikian, Donald Trump tidak bisa menghalangi perkembangan Islam," ungkap Muhammad Shamsi Ali, tokoh Islam yang berpengaruh di Amerika Serikat, saat berbincang dengan Media Indonesia di Jakarta, Jumat (29/6) sore.

Pendakwah kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang pernah menjabat Imam Besar Islamic Center, New York, dianggap mampu meredakan kebencian terhadap Islam dan menebarkan kedamaian di New York. Terlebih, pascaserangan teroris di gedung World Trade Center pada 11 September 2001.

Hingga saat ini, Shamsi Ali aktif dalam membangun dialog antaragama di negeri 'Paman Sam' itu. Ia juga berkiprah di dunia pendidikan dengan membangun pesantren di Connecticut, AS.

Bagaimana cara Shamsi Ali berdakwah? Apa saja kejadian menarik yang dialaminya selama di Amerika? Berikut ini petikan wawancara lengkapnya.

Bagaimana ceritanya Anda bisa sampai di Amerika?

Pada Desember 1997, awal mulanya saya diajak oleh Duta Besar Indonesia di PBB, bapak Nugroho Wisnumurti, untuk memimpin masjid Indonesia yang baru dibangun (di New York) waktu itu, Masjid Al Hikmah. Sebelum bertemu (Nugroho), saat itu saya guru di Arab Saudi. Saya bertemu (Nugroho) saat menjadi penceramah di manasik haji.

Apa yang Anda pikirkan saat pertama kali diajak menjadi imam masjid di Amerika?

Saat pertama kali ditawari ada semacam kekhawatiran. Ini memang sejarah masa lalu, kekhawatiran terbesar saya karena saya memiliki stigma tersendiri tentang dunia barat dan Amerika secara khusus bahwa mereka benci Islam, anti-Islam. Bahkan, mereka dikategorikan musuh Islam.

Ada pergelutan tersendiri dalam batin saya. Apakah saya terima? Apakah jika saya tiba (di Amerika), saya bisa menjalankan agama? Bagaimana dengan keluarga saya? Apakah bisa tumbuh secara muslim yang baik?

Apakah semua kekhawatiran itu terbukti saat Anda menginjakkan kaki di New York?

Kekhawatiran saya ternyata tidak banyak berdasar. Ketika saya pertama kali sampai New York, perkembangan Islam sudah cukup bagus karena banyak imigran-imigran muslim dari Afrika, Asia Selatan, dan dari Timur Tengah.

Bahkan, mereka sudah membangun komunitas masjid lebih dari 100. Masyarakat muslimnya sudah sekitar 800 ribu atau bahkan lebih. Saya banyak mengubah persepsi saya tentang Amerika, ternyata negaranya imigran. Hampir semua manusia ada di Kota New York. Mereka menyatu menjadi satu komunitas Amerika di Kota New York. Dari situ, saya bisa belajar untuk menyesuaikan diri.

Adakah perbedaan berdakwah di Amerika dengan di Indonesia?

Saya kira perbedaan paling penting ialah medan yang berbeda. Bagaimana kita menemukan metode yang pas pada keadaan yang berbeda.

Di Indonesia, mayoritas muslim yang mayoritas lahir dari orangtua beragama Islam. Di barat (Amerika), kita berinteraksi dengan nonmuslim secara langsung yang bahkan ada yang diidentikkan dengan anti-Islam, seperti Yahudi. Di Amerika, bagaimana kita bisa menyesuaikan diri, berkomunikasi dengan mereka, berinteraksi dengan mereka.

Apa yang Anda lakukan saat memulai tugas sebagai imam masjid di New York?

Petama kali datang, saya tidak mengedepankan ceramah-ceramah, tidak mengedepankan penyampaian-penyampaian orasi. Yang kita kedepankan ialah memperlihatkan karakter Islam kita dalam akhlakul karimah, perilaku kemanusiaan kita.

Bagi masyarakat Amerika, hal yang paling menarik dari agama ini ialah akhlaknya, moralitasnya. Islam mengajarkan rendah hati (tawadu), mengajarkan pertemanan, kerja sama, saling menghormati, dan toleransi. Kalau semua itu disampaikan dalam bentuk perilaku, hal tersebut lebih menarik bagi mereka.

Dakwah saya sangat sederhana. Yang saya lakukan ialah hanya mengetuk pintu mereka, memperkenalkan diri. (Saya) tidak mengajak mereka belajar Islam. Setelah melihat perilaku kita, mereka mulai tertarik sendiri untuk belajar Islam.

Saat terjadi tragedi berdarah pada 11 September 2001 di New York, apa dampaknya pada umat muslim di sana?

Serangan itu membuka pintu-pintu yang sangat luas untuk melakukan hal-hal (dakwah) yang lebih besar lagi. Saya mulai melakukan dialog-dialog antaragama.

Itu membuka hati saya bahwa permasalahan ini, kemarahan, kebencian, kesalahpahaman orang Amerika (terhadap Islam) tidak bisa kita selesaikan tanpa membangun komunikasi dengan mereka. Saya dialog dengan umat kristiani di gereja-gereja, umat Yahudi di Sinagong, bahkan dengan masyarakat Hindu-Buddha.

Apa yang disampaikan dalam dialog tersebut?

Kita dialog dengan mereka bahwa secara keyakinan, kita berbeda. Kita tidak bisa menyamakan keyakinan itu. Teologi itu pandangan yang bersifat personal karena saya tidak bisa intervensi terhadap keimanan orang lain. Mereka juga tidak bisa intervensi pada keimanan saya. Tapi, kehidupan ini punya pijakan yang sama, yaitu kita ingin berdamai, sejahtera, keadilan, dan membangun dunia yang lebih baik.

Bahkan, sekarang ini cukup intensif dialog antara muslim dan Yahudi. Kami menyatakan, yang selama ini mempresepsikan bahwa umat Islam benci Yahudi, ingin membumihanguskan Yahudi, itu tidak benar. Kami tidak suka Yahudi yang mendukung penjajahan di Palestina. Intinya bukan pada agamanya, tetapi pada penjajahannya. Kalau penjajahan (terhadap Palestina) sudah selesai, tidak ada lagi alasan untuk tidak menyukai orang.

Berapa tahun yang dibutuhkan untuk membuat rakyat Amerika percaya terhadap dakwah Islam yang Anda sampaikan?

Setelah fase dua tahun, pada 2003, kami dipercaya diundang ke White House (Gedung Putih) untuk berdialog dengan Presiden George W Bush. Itu tidak mudah bagi muslim untuk diundang dan memberi masukan kepada presiden tentang komunitas Islam di AS. Itu menandakan kami sudah dipercayai atas semua yang kami lakukan dengan berdialog.

Lantas, bagaimana Anda bisa menjadi Imam Besar Masjid Islamic Center di Amerika Serikat?

Ceritanya sebelum 11 September 2001, saya memimpin Masjid Al Hikmah di New York milik orang-orang Indonesia dengan jemaah 300-400 orang. Imam di Islamic Center saat itu ialah profesor dari Mesir. Beliau diwawancarai koran Amerika. Ketika ditanya kira-kira siapa yang melakukan serangan? Tanpa pikir panjang, ia menjawab, siapa lagi kalau bukan Yahudi.

Benar-tidak jawaban itu wallahualam. Akibat jawaban itu, marahlah orang-orang Yahudi di New York. Ia pun minta maaf dalam khotbah Jumat. Ketika minta maaf, ia diserang oleh kelompok Islam yang agak keras. Tidak tahan diserang, ia kemudian pulang ke Mesir.

Ketika pulang ke Mesir inilah saya diminta menjadi Imam Islamic Center, masjid rayanya Kota New York, lebih dari 10 tahun selama dua periode, dari 2002-2014.

Adakah pengalaman menarik selama menjadi imam di Islamic Center?

Pengalamannya banyak sekali, tapi saya ingin mengatakan tidak mudah karena saya mewarisi persepsi Islam membenci Yahudi. Saya harus mengubah semua itu, dari persepsi sebagai pembenci menjadi Islam sebagai agama perdamaian.

Ada tiga program utama yang saya lakukan, yaitu membangun komunikasi dengan pemerintah setempat, dengan komunitas agama lain, dan membuka kelas forum Islam bagi nonmuslim. Banyak yang tadinya datang dengan marah-marah kemudian cinta dengan Islam. Banyak yang tadinya mengutuk dan memaki, kemudian menjadi muslim yang sangat kuat.

Islam identik dengan Arab. Bagaimana Anda bisa diterima di kalangan muslim di New York?

Tantangan terbesar saya (sebagai imam di Islamic Center) pertama kali bukan dari nonmuslim, tetapi di kalangan muslim sendiri. Saya seringkali dipertanyakan apakah imannya cukup kuat? Kenapa tidak berpakaian Arab? Kita sendiri umat Islam punya stigma yang salah tentang apa itu Islam? Seolah-olah Islam itu ajarannya orang Arab atau Timur Tengah sehingga menjadikan kita, muslim Indonesia minder.

Saya ingin mengatakan bahwa Islam itu setara untuk semua orang. Bahkan, banyak ulama-ulama Islam tidak dari Arab, seperti Imam Bukhori. Kita jangan pernah minder dengan keislaman kita. Islam itu adalah iman dan amal, bukan pakaiannya, bukan bentuk wajahnya.

Bagaimana kehidupan umat Islam setelah terpilihnya Donald Trump sebagai presiden?

Amerika adalah institusi negara yang sangat kuat, tidak bisa ditentukan oleh hanya seorang presiden. Diakui atau tidak, Donald Trump ialah presiden yang cukup rasis. Akan tetapi, saya ingin mengatakan, Donald Trump tidak bisa mengubah nilai-nilai dan konstitusi Amerika. Konstitusi Amerika sangat matang. Kita punya perlindungan yang sangat solid, yaitu kebebasan agama dijamin dan kita bebas menjalankan agama.

Hanya dengan terpilihnya Donald Trump, mereka yang selama ini benci, selama ini takut, semakin mendapat dukungan pemerintah. Kalau dulu, islamofobia dari pinggir-pinggir jalan karena mereka tidak tahu, tetapi sekarang ini islamofobia keluar dari Gedung Putih. Walau demikian, Donald Trump tidak bisa menghalangi perkembangan Islam. Ketika Donald Trump melakukan kebijakan-kebijakan yang anti-Islam, antiminoritas, ternyata banyak orang Amerika yang simpati kepada kita. Ternyata kehidupan umat Islam aman-aman saja.

Dalam Islam, apa persyaratan sosok pemimpin?

Dalam Islam, minimal ada tiga persyaratan sosok pemimpin. Pertama, memiliki petunjuk dengan urusan kami atau memiliki kapabilitas. Kedua, pemimpin harus punya kesabaran yang merupakan tingkatan kejiwaan seseorang atau integritas, bukan hanya saat menghadapi musibah, melainkan juga godaan-godaan. Yang ketiga memiliki keyakinan atau percaya diri.

Seberapa besar peran umat Islam dalam mewujudkan perdamaian dunia?

Peran umat Islam sangat menentukan dalam perdamaian dunia. Konflik-konflik di belahan dunia ini seolah-olah melibatkan umat Islam, dari Kashmir, Thailand Selatan, Irak, Suriah, Yaman, sampai Palestina. Tantangannya sekarang ialah umat Islam berada di garda terdepan menjadi sumber solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada, sumber perdamaian, antara lain dengan mengatakan tidak kepada radikalisme, ekstrimisme, kebencian, dan kekerasan-kekerasan. Bagaimana kita membela hak dengan cara-cara legal dan damai kalau masih memungkinkan.

Tantangan umat Islam saat ini ialah membangun kesabaran. Itu ujian besar karena semakin kehilangan kesabaran akan semakin banyak permasalahan-permsalahan yang dihadapi, kita kehilangan rasionalitas dalam berpikir.

Sebagai penduduk muslim terbesar di dunia, peran apa yang bisa diambil Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia?

Itu amanah agama Islam sekaligus amanah konstitusi. Indonesia harus mengambil peranan peting dalam mewujudkan perdamaian dunia. Indonesia harus proaktif di garda terdepan untuk mencari celah mendamaikan konflik.

Saya adalah warga negara Indonesia, putra Indonesia, yang sudah meninggalkan (bermigrasi) sejak usia 18 tahun. Selama 30 tahun saya di luar negeri, dari Pakistan, Arab Saudi, dan Amerika Serikat, saya tidak pernah menjauhkan pandangan dari Indonesia, melihat Indonesia dari luar. Saya sampaikan bahwa para tokoh negeri ini punya amanah besar untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini.

Di dalam Islam sendiri terdapat berbagai mazhab, bagaimana menyikapinya?

Kita memiliki sumber yang sama, Alquran dan sunah. Ketika berbeda pendapat dan perbedaan pendapat itu karena penafsiran, itu harus kita akui sebagai bagian dari agama Islam.

Artinya, yang saya tekankan di sini, jangan mudah mengafirkan orang. Seberapapun besar perbedaan yang ada, persatuan dan kesatuan umat itu jauh lebih penting. Kita harus kembali pada common ground kita, yaitu sama-sama beriman kepada Allah, Rasulullah, Alquran, dan sunah. Jika ada perbedaan, silakan dengan pendapat masing-masing, tetapi masih bersudara sebagai sesama muslim.

Dengan makin kompleksnya problem umat beragama, apa yang seharusnya dilakukan umat Islam di dunia saat ini?

Harusnya umat Islam sadar bahwa persatuan dan kesatuan harus kita rangkul kembali. Umat Islam saat ini secara global dituntut untuk menampilkan akhlak mulia Islam.

Bagaimana menampilkan Islam berbeda dari stigma yang tumbuh di masyarakat, seperti Islam itu kebencian, kekerasan, terorisme, dan memusuhi orang. Kita jangan cepat marah. Kita jangan cepat emosi.

Kita juga jangan selalu membenci orang. Kita jangan selalu berlaku kasar kepada orang. Islam itu merangkul orang, damai, dan diwujudkan dalam perilaku kita. Dalam bahasa Alqurannya adalah Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More