Kontestasi Elegan

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 01 Jul 2018, 05:00 WIB Opini
Kontestasi Elegan

PEMILIHAN kepala daerah serentak di 171 daerah, dengan rincian 17 provinsi, 39 kota, dan 135 kabupaten, telah berlangsung dengan lancar dan aman. Kini kita menunggu hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) siapa pemimpin yang menjadi pilihan rakyat.

Bila dilihat dari pengalaman kontestasi politik sebelumnya, biasanya pascadiumumkan pemenang, ada kontestan kalah yang tidak menerima kekalahan karena suatu alasan. Kita berharap, bila itu masih ada juga pada kali ini, bisa diselesaikan lewat mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun, lebih dari sekadar itu, bangsa ini seyogianya membiasakan diri bersaing dengan mengedepankan sikap atau karakter kesatria. Tidak suka mempersoalkan hal-hal cepete, yang tidak fundamental. Berani menerima kekalahan bila kalah dan tidak jemawa jika menang. Dengan demikian, setiap pesta demokrasi digelar akan berlangsung tenteram.

Pada bagian lain, kompetisi dalam dunia politik sejatinya untuk mencari para pemimpin yang berkarakter mulia. Maka, bila perilaku kesatria telah menjadi nafas dalam setiap persaingan politik, yang lahir ialah para negarawan, bukan para pecundang.

Sayembara Kunti

Dalam dunia wayang, di antara tokoh yang layak diteladani keeleganannya berkompetisi ialah Narasoma dan Pandu. Saking 'jantannya', kedua kesatria ini malah terkesan apik-apikan ati (beradu kebaikan hati) daripada sekadar memenangi persaingan.

Panggung indah kompetisi mereka, yang juga sempat menjadi tontonan dewa, ialah ketika Negara Mandura menggelar Sayembara Kunti. Siapa pun yang menang dalam adu kesaktian di gelanggang perang berhak memboyong sang putri kedaton, Kunti alias Prita.

Kunti, meski selama hidupnya lebih banyak berada di istana, layaknya putri raja, keharuman namanya menembus langit. Daya tariknya bukan hanya karena keayuan parasnya dan lekuk tubuhnya yang indah, melainkan juga kecantikan jiwa (inner beauty)-nya yang luar biasa. Inilah pesona yang senantiasa mengambar-ambar (semerbak) yang membuat lelaki mana pun, bahkan dewa sekalipun, kepincut.

Maka, tidak aneh bila banyak yang bersaing ingin mendapatkannya. Berhari-hari, Alun-Alun Mandura berubah seperti pasar malam. Sebagian besar kompetitor terpaksa mesranggah (menginap) karena tidak sedikit di antara mereka berasal dari negara lain yang jauh.

Sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, setiap kontestan yang kalah dalam pertarungan mundur teratur. Mereka meninggalkan gelanggang perang dengan lapang dada dan tanpa dendam. Namun, ada pula yang ambisius hingga rela berkalang tanah daripada pulang tanpa hasil.

Saking eloknya persaingan, mata di seluruh dunia tertuju ke Mandura. Oleh karena itu, ada kesatria yang semula tidak tertarik berkompetisi, akhirnya terpikat ikut bersaing. Dia bernama Narasoma, putra Prabu Mandrapati, Raja Negara Mandaraka.

Ketika itu Narasoma sudah memiliki pendamping hidup bernama Setyawati, putri Begawan Bagaspati-Dewi Darmastuti di pertapaan Argabelah. Dari sang mertua, Narasoma juga mendapat warisan ajian Candrabirawa. Berbekal ajian itulah Narasoma menundukkan semua pesaingnya.

Aji candrabirawa

Karena tidak ada lawan yang mampu menandingi Narasoma, Raja Mandura Prabu Kuntiboja akhirnya menobatkan menantu Bagaspati itu sebagai pemenang dan berhak memboyong Kunti. Namun, sesaat setelah Kuntiboja mengalungkan rangkaian bunga melati kepada Narasoma, sebagai tanda pemenang, tibalah perjaka berkulit pucat bernama Pandu.

Kepada sang raja, Pandu mengaku kedatangannya sebenarnya ingin mengikuti sayembara. Namun, karena suatu dan lain hal, dirinya terlambat datang. Ada gurat kuat kekecewaan di wajahnya. Namun, karena perlombaan sudah selesai, Pandu pasrah dan mohon pamit kembali ke Astina.

Ketika Pandu baru beberapa melangkah, Narasoma bergegas menyusul dan menghentikan lajunya. Kemudian, sesaat setelah memperkenalkan diri, Narasoma mempersilakan Pandu mengambil Kunti, tapi dengan syarat dapat mengalahkannya dalam adu kesaktian.

Pandu kaget. Ia tidak menduga dengan sikap sang pemenang yang seperti itu karena tidak jamak. Namun, Pandu dengan sopan dan halus menolak tawaran tersebut karena sayembara telah berakhir. Pandu tidak ingin menjadi biang kegaduhan. Narasoma tidak menyerah. Ia terpaksa berulang kali meyakinkan Pandu ucapannya bukan basa-basi. Ia menegaskan yang ia sampaikannya benar-benar tulus dari hati nurani.

Pernyataan Narasoma menyengat Pandu. Setelah meyakini itu memang jujur, Pandu mengambil tawaran tersebut. Maka, terjadilah peperangan sengit. Kedua kesatria saling menjatuhkan hingga pada akhirnya Narasoma terdesak akibat kehabisan tenaga.

Pada titik itulah Narasoma mengeluarkan ajian Candrabirawa. Ajian ini berupa buta kerdil menggiriskan yang malah bertambah dan berkembang ketika dibinasakan. Buta-buta itu bahu-membahu berjibaku mengeroyok lawan hingga menyerah.

Awalnya, Pandu kewalahan. Ia lalu ingat wasiat bapaknya, Abiyasa (Prabu Kresnadwipayana) untuk selalu menyandarkan diri kepada kekuasaan Sanghyang Widi. Pandu lalu mengheningkan cipta dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Sesaat kemudian muncullah keajaiban, Candrabirawa hilang dari pandangan. Narasoma lalu mengaku kalah dan menyerahkan Kunti.

Pemimpin negarawan

Dalam perjalanan kembali ke Astina, Pandu bertemu Prabu Gendara (Raja Plasajenar) dan kedua adiknya, Tri Gantalpati dan Gendari. Gendara mengaku ingin mengikuti Sayembara Kunti. Meniru Narasoma, Pandu lalu mempersilakan Gendara memboyong Kunti bila bisa mengalahkannya. Singkat cerita, terjadi peperangan hingga akhirnya Gendara tewas.

Tri Gantalpati juga diberi kesempatan. Namun, dengan mudah Pandu mengalahkannya. Malah, Trigantalpati pasrah hidup mati kepada Pandu. Gendari pun ikut menyerahkan jiwa raganya kepada Pandu.

Poin kisah itu ialah Narasoma dan Pandu menempatkan kekuasaan (Kunti) bukan segala-galanya. Mereka mengadu kualitas diri, bertarung untuk mengukur seberapa tinggi harkat dan martabatnya.

Di kelak kemudian hari, Narasoma tetap bersahabat dengan Pandu. Narasoma menjadi raja di Mandaraka bergelar Prabu Salya, sedangkan Pandu menjadi raja di Astina bergelar Prabu Pandudewanata. Keduanya kondang sebagai negarawan-negarawan sejati.

Dalam konteks pilkada, menang atau kalah harus diterima dengan lapang dada dan legawa. Kemenangan sejati ialah kemenangan untuk etika, moral, dan kejujuran. Dengan itulah akan muncul para pemimpin negarawan yang dibutuhkan di negeri ini.

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More