Amanah Karuhun di Situ Cisanti

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 01 Jul 2018, 03:00 WIB Weekend
Amanah Karuhun di Situ Cisanti

MATAHARI sedikit lagi tepat berada di ubun-ubun. Jarum jam menunjuk angka sebelas. Seusai jalanan setapak berundak, baru terlihat hamparan air danau yang sedikit berkilat diterpa cahaya matahari.

Harusnya kondisi seperti itu membuat badan gerah dan berkeringat. Namun, syukurlah masih banyak pepohonan yang berdiri tegak di sekitaran danau. Rindang daunnya sanggup membuat kondisi udara menjadi bersahabat. Hijaunya sekaligus membuat mata tidak harus memicing terlalu sempit.

Kondisi itu jauh berbeda ketika melayangkan pandang ke barisan bukit yang berada di sekitaran Danau (situ) Cisanti. Tidak mudah mendapati hijau daunan pada punggung bukit-bukit itu. Sebaliknya, warna cokelat tanah langsung menerpa. Terkadang bersembulan warna putih yang bergerombol. Warna itu ialah karung pupuk untuk sayuran.

Latar gundul menjadi sangat kontras dengan Situ Cisanti yang asri. Setelah terpukau dengan keindahan Situ Cisanti yang makin indah dan cantik. Tak ada salahnya untuk menapaki jalan di bibir danau. Jalan setapak yang dibuat dari batu-batu kecil itu akan mengantarkan pada sebuah situs yang dihormati.

Jalan untuk menuju ke situs itu tidak sulit. Prajurit TNI telah mengubah jalan setapak di bantaran situ menjadi jalanan yang indah. Taburan batu kecil yang keras menjadi terlihat rapi dengan batasan batu bata pada kanan kiri.

Situ Cisanti merupakan hulu dan titik nol kilometer dari Sungai Citarum di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dulunya, Situ Cisanti tidak seperti itu. Namun sekarang, Situ Cisanti menjadi layak untuk kehidupan manusia. Wajah Situ Cisanti telah berubah dan membuktikan diri layak untuk disebut sebagai awal dari perubahan.

Situ Cisanti dikenal sebagai danau buatan yang menampung air dari 7 mata air utama Sungai Citarum, yakni mata air Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawedukan, dan Cisanti.

Tak hanya perannya yang sangat penting bagi sumber kehidupan, Situ Cisanti merupakan salah satu dari saksi sejarah dari masa kerajaan hingga zaman kolonialisme dulu.

Berlawanan dari pintu masuk Situ Cisanti, terdapat Petilasan Prabu Siliwangi yang berupa mata air. Letaknya berada di ujung jalanan batu tersebut. Tempat itu merupakan tempat mandi dari raja besar tanah Sunda, yakni Prabu Siliwangi.

"Di sini itu, kalau sejarah dari orang tua itu. Petilasannya, tempat mandinya Eyang Prabu Siliwangi. Eyang Prabu Siliwangi itu dulunya ke sini, sesucinya atau mandinya di sini," terang penjaga situs, Atep, 40, yang ditemui Media Indonesia beberapa waktu lalu.

Selain Petilasan Prabu Siliwangi, masih ada situs lain, yakni Petilasan Dipati Ukur. Ia merupakan seorang wedana para bupati Priangan pada abad ke-17. Dipati Ukur memimpin pasukan untuk menyerang Belanda di Batavia pada 1628, sedangkan Petilasan Dipati Ukur terletak lebih ke atas dari Petilasan Prabu Siliwangi. Kurang lebih dibutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapainya dengan berjalan kaki.

Di dasar mata air itu terdapat batu bekas sang raja. Bahkan, jejak telapak dan jemari kakinya masih bisa didapati saat ini. Di mata air itu, pengunjung diperbolehkan mandi dan berendam. Namun, harus tetap berpegang pada tata krama dan tata cara yang telah ditetapkan.

"Kalau, misalkan, saya memberi tahu ke semua jemaah yang datang itu harus mengikuti tata cara dan tata kramanya. Kembali lagi harus sopan santun. Kita harus menjaga ini alam ciptaan-Nya," tegas Atep yang menjaga situs itu dari 5 tahun lalu.

Sebagai penjaga dan pemelihara situs, tugas Atep ialah memastikan agar mata air itu tidak berubah sedikit pun, dari kejernihan sampai keasliannya. "Meneruskan amanah atau sejarah karuhun (leluhur) orang tua dulu. Jangan sampai air ini atau mata air ini berubah keasliannya, kejernihannya, sumber mata airnya, tetap seperti ini," tambah Atep.

Tidak sembarangan

Biasanya para pengunjung datang ke sana untuk berendam. Mereka bermaksud untuk menyucikan diri lahir batin. Untuk tujuan baik itulah, pengunjung terikat dengan tata cara dan tata krama yang harus dipatuhi. Para pengunjung tidak boleh sembarangan. Sementara itu, Atep bertugas untuk memberitahukan kepada setiap pengunjung yang datang.

"Yang ke sini itu diartikannya kalau yang mandi di sini, berendam di sini, itu diartikannya singkatnya doa itu wudu lahir, wudu batin, makanya enggak sembarangan. Masuknya ke air ini, harus ada tata krama dan sopan santunnya," tambah Atep.

Tata cara untuk berendam di mata air berlaku untuk pakaian, sikap, dan pantangan. Pertama masuk situs, mereka wajib membuka alas kaki. Mereka juga tidak diperkenankan membuang sampah sembarangan. Terdapat dua tempat sampah. Untuk pakaian tidak ada aturan khusus, para peziarah dibebaskan untuk memakai pakaian asalkan bersih.

"Kalau pakaian bebas-bebas saja yang penting bersih. Kalau alas kaki, kan, membawa kotoran dari jalan. Harus dibuka itu jangan sampai kotoran itu masuk sumber mata air atau tempat yang dikeramatkan," tandas Atep.

Selain itu, para peziarah juga tidak diizinkan untuk membuat kotor mata air dan mengubah kondisi awal air. Ketika mandi atau berendam, mereka tidak boleh membuat gerakan apapun yang membuat mata air keruh. Entah itu dengan gerakan tubuh, bahan sabun, ataupun sampo.

"Tidak boleh melakukan apapun yang bisa membuat keruh mata air. Sampo dan sabun itu tidak boleh. Itu dari dulu," tambah Atep.

Tata cara lain, yakni ketika prosesi perendaman. Para peziarah harus membasahi seluruh tubuh dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"Mandinya juga cuma merendam dari ujung kaki sampai ujung rambut, cuma merendam, begitu saja. Harus basah. Karena ada niat dari ujung rambut sampai telapak kaki," tegas Atep.

Sementara itu, tata krama yang harus dipatuhi ialah pakaian yang dipakai haruslah tertutup untuk perempuan, sedangkan untuk pria harus tertutup auratnya. Terakhir ialah pantangan yang berlaku untuk perempuan. Ketika kaum hawa sedang datang bulan, mereka tidak diperbolehkan berendam.

Dua petilasan itu merupakan saksi sejarah. Situ Cisanti sekaligus cagar budaya dan cagar alam yang patut dipertahankan keaslian dan kelestariannya. Dua situs itu membuktikan bahwa Situ Cisanti ialah tempat yang punya sejarahnya sendiri. Sebaik-baiknya generasi ialah generasi yang tidak menelikung leluhur.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More