Memelihara Mitos

Penulis: Adiyanto Pada: Jumat, 29 Jun 2018, 20:58 WIB Opini
Memelihara Mitos

dok.pribadi

JERMAN kalah 0-2 dari Korea Selatan dan tersingkir dari Piala Dunia, Rabu (27/6) malam lalu, bukan hal yang mengejutkan buat saya. Secara statistik, penampilan tim ini memang kurang meyakinkan. Sejak Maret lalu, tim asuhan Joachim Loew ini cuma dua kali menang yakni 2-1 atas Arab Saudi dalam laga uji coba dan skor yang sama atas Swedia di laga kedua penyisihan Piala Dunia Grup F. Itu pun berkat keberuntungan gol tendangan bebas Toni Kroos di masa injury time. Selebihnya mereka keok. Ditekuk Brasil 0-1 dan Austria 1-2 di laga persahabatan serta menyerah 0-1 dari dari Meksiko di laga pembuka penyisihan Grup F.

Seperti para pengamat berdasi yang tampil di televisi, bolehlah kiranya saya berpendapat penyebab kegagalan Jerman ini. Secara kasat mata, saya melihatnya Toni Kroos dkk miskin variasi serangan. Tidak sekreatif empat tahun lalu ketika mereka menjadi jawara di Brasil. Kurang banyak tusukan ke kotak penalti dan cuma mengandalkan umpan dari kedua sayap.

Pendapat saya bisa jadi salah dan bersifat subjektif. Makanya saya coba menelusurinya dari sumber pertama, dari para pemain Jerman sendiri. Jawabannya saya temukan di harian Bild. Di koran ternama Jerman itu, Mats Hummels, bek tengah tim Panser membeberkan faktor di balik kegagalan timnya. Ia menilai Jerman memang tampil kurang meyakinkan sejak tahun lalu.

“Kami memiliki sedikit hal-hal yang harus dihadapi sebelum memulai. Saya takkan mengatakannya kepada publik soal itu. Faktanya kami tak mampu mencetak gol. Performa meyakinkan terakhir yang kami miliki adalah pada musim gugur 2017, sudah lama sekali,” ungkapnya.

Meski kurang meyakinkan, penjelasan dari bek Bayern Muenchen tersebut cukuplah memuaskan dan melegakan saya. Setidaknya dia rasional dan tidak mengaitkan kegagalan timnya dengan 'kutukan' juara bertahan yang selalu tersingkir di penyisihan Piala Dunia dalam dua dekade terakhir. Sebab, jika memercayai 'mitos' ini, buat apa dia dan kawan-kawannya ikut dari babak kualifikasi jika akhirnya toh harus angkat koper lebih awal.

Makanya saya agak geli, 'mitos' semacam inilah yang justru didengung-dengungkan oleh sebagian media di Tanah Air. Coba ketik di google, "Jerman dan kutukan", pasti banyak judul semacam itu yang muncul. Entah siapa pula yang mengutuk, Dewa Zeus, Dewa Hermes, ataukah Mak Lampir, sehingga juara bertahan tak ada yang bisa mempertahankan gelar dalam dua dekade terakhir? Tak jelas.

Kalau saya pribadi sih tidak akan membuat judul atau angle berita semacam itu. Kelihatannya memang sepele, tapi menurut saya, dampaknya besar. Sebab, hal inilah yang membuat mitos-mitos bodoh semacam itu tetap hidup dan dipercayai di masyarakat, seperti siklus banjir lima tahunan di Jakarta. Padahal, kondisi ibu kota dulu dengan sekarang berbeda. Apalagi iklim sekarang juga sukar ditebak gegara pemanasan global.

Membangun dan menata kota, bermain sepak bola, kontestasi Pilkada, dan lain-lain adalah hasil peradaban manusia. Mereka dibangun dengan aturan, kesepakatan, dan hal-hal lainnya yang bersifat rasional, bukan atas titah para dewa. Tidak ada hubungan, misalnya, antara bencana alam dan kekuasaan sebuah rezim. Begitu pula royal wedding di Inggris dengan prestasi klub negara tersebut di Liga Champions.

Jika manusia pernah memercayai dewa, beserta mitos dan tahayul, itu bagian dari masa lalu. Kita belajar sejarah memang bukan untuk meramal masa depan, tapi melepaskan diri dari kebodohan. Bukan malah menghidupkan dan terus meliharanya. (OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More