Hegemoni Kemapanan

Penulis: Agus Triwibowo, Wartawan Media Indonesia Pada: Selasa, 26 Jun 2018, 05:05 WIB Opini
Hegemoni Kemapanan

Dok.MI

TENDANGAN keras melengkung dan terarah gelandang der Panzer, Toni Kroos, di penghujung laga sungguh melegakan timnya. Aksi itu membuahkan gol ke gawang Swedia. Kemenangan Jerman 2-1 atas Swedia, kemarin, sekaligus menunjukkan pasukan Joachim Loew sudah kembali ke jalur. Bak mesin disel, Jerman bakal kian panas setelah digasak Meksiko 0-1 di laga perdana penyisihan grup.

Hingga perhelatan Piala Dunia memasuki kompetisi ke-21 di Rusia tahun ini, tercatat hanya delapan tim yang pernah menuntaskan pertandingan hingga ujung jalan, menjadi juara dunia, dan merengkuh predikat terbaik sejagat di kancah sepak bola. Jajaran para juara itu ialah Brasil yang 5 kali menguasai takhta, Italia dan Jerman dengan koleksi 4 trofi, Uruguay dan Argentina yang menangguk 2 kali juara serta Inggris, Prancis, dan Spanyol yang sama-sama 1 kali jadi juara.

Kecuali Italia yang gagal lolos ke 'Negeri Beruang Merah', tujuh tim kampiun dunia sudah unjuk kemampuan. Terlepas dari terseok-seoknya Argentina di dua laga awal, jajaran tim-tim juara itu tetap menjaga kemapanan untuk lolos ke babak 16 besar.

Skuat Tango dengan Lionel Messi masih terus diharapkan berkiprah kendati peluang mereka tergerus. Bukan sebuah kemustahilan Messi kembali meloloskan tim juara dunia dua kali itu dari lubang jarum dengan merengkuh poin penuh di laga terakhir melawan Nigeria. Namun, Argentina butuh kerja keras dan berharap Kroasia, yang sudah meraih tiket ke 16 besar, tidak digilas habis oleh Islandia.

Selain Jerman, langkah yang cenderung aman didapati Uruguay, Brasil, Prancis, Spanyol, serta Inggris yang melakoni laga kedua, malam tadi. Hegemoni para juara ini tidak terelakkan masih terus bergema hingga memasuki pekan kedua Piala Dunia Rusia tahun ini.

Pasukan Selecao--julukan Brasil--yang sempat terganjal seri oleh Swiss, akhirnya juga menuai angka penuh. Dua gol di waktu tambahan 6 menit yang diberikan wasit dimanfaatkan Philippe Coutinho dan Neymar untuk mengoyak jala gawang Kosta Rika yang dikawal Keylor Navas.

Sama seperti Jerman, Brasil pun mulai bisa dikatakan memupuk asa terus melanjutkan kemapanan sebagai tim papan atas dunia. Jerman, dalam hal ini Loew, berani membangkucadangkan duo pilar lini tengah, Mesut Oezil dan Sami Khedira, dengan memasukkan Marco Reus dan Sebastian Rudy yang membuat serangan tim 'Panser' makin bertenaga. Sementara itu, Brasil, dalam hal ini sang pelatih Tite, sudah mampu memompa semangat tim sehingga mereka unjuk aksi berjuang hingga akhir waktu untuk meraih kemenangan.

Upaya Brasil itu menunjukkan apa yang pernah dikatakan arsitek Manchester United asal Portugal, Jose Mourinho. "Sangat mudah mendapatkan tim yang mampu menguasai permainan, tetapi sulit mendapatkan tim yang bermain untuk menang."

Jerman dan Brasil sepertinya sudah menemukan titik balik untuk menjaga kemapanan di pentas Piala Dunia 2018. Hal yang sama juga dipupuk para juara yang berjuang di Rusia tahun ini.

Hanya, kali ini ancaman juga telah hadir. Tim di luar 'grup juara' telah siap menantang. Empat tim yang cukup menonjol ialah Belgia, Portugal, Meksiko, serta tuan rumah Rusia.

Belgia patut jadi yang terdepan karena jajaran pemain yang komplet di semua lini. Romelu Lukaku, Eden Hazard, Kevin de Bruyne, Dries Mertens, hingga kiper Thibaut Courtois. Catatan mereka ialah kelengahan lini belakang yang membuat mereka kebobolan dua gol saat menang 5-2 atas Tunisia di laga kedua penyisihan.

Portugal dengan modal kampiun Eropa 2016 serta agresifnya Cristiano Ronaldo di dua laga dengan empat gol membuat pasukan 'Brasil Eropa' itu tidak boleh dicoret dari persaingan. Konsistensi permainan Portugal dengan tumpuan CR7 sebagai pencetak gol bakal disayangkan jika hanya terhenti di 16 besar.

Meksiko dengan permainan agresif telah memakan korban dengan mengalahkan Jerman dan memastikan lolos setelah unggul 2-1 atas Korsel. Pun demikian Rusia yang mendapat energi positif bagi pemuja mereka--dengan posisi sebagai tuan rumah--untuk melenggang.

Kuda hitam di Rusia memang diharapkan muncul untuk kian memanaskan dan meruncingkan gesekan apik di lapangan hijau. Namun, apa daya, tampaknya hegemoni para juara sepertinya belum runtuh juga. Jerman dan Brasil menjadi wakilnya. Apakah bakal berlanjut hingga penghujung jalan atau bakal hadir juara baru di Rusia? Yah, kita nantikan saja.

(R-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More