Tekan Angka Kejahatan, Polres Jakbar Diapresiasi DPR

Penulis: Micom Pada: Senin, 25 Jun 2018, 21:45 WIB Megapolitan
Tekan Angka Kejahatan, Polres Jakbar Diapresiasi DPR

MI/ARYA MANGGALA

BERHASIL menekan kejahatan hingga 16% menjelang dan pasca-Lebaran, kinerja jajaran Polres Jakarta Barat diapresiasi anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni.

Berdasarkan data diperoleh dari Polres Jakbar, terdapat setidaknya 51 kawasan permukiman rawan pencurian rumah kosong, dengan titik terbanyak berada di wilayah Kalideres sebanyak 17 kelurahan.

Sementara kejahatan pencurian dengan kekerasan dan pencurian kendaraan bermotor di Jakarta Barat tersebar di 83 titik rawan, dengan jumlah terbanyak wilayah Cengkareng dan Tambora.

Adapun angka kejahatan selama Operasi Ketupat yang diselenggarakan selama 18 hari jelang dan pasca-Lebaran sejak 7 Juni hingga 24 Juni di wilayah Jakbar pada tahun ini sebanyak 104 kasus. Sementara di periode Operasi Ketupat pada tahun sebelumnya, jumlah kejahatan yang terjadi di wilayah Jakbar sebanyak 124 kasus.

"Angka kejahatan di wilayah Jakarta Barat menggambarkan tren penurunan hingga 16%. Ini membuktikan kinerja positif aparat kepolisian, khususnya Polres Jakbar, untuk membuat masyarakat tetap merasa aman," kata Sahroni, Senin (25/6).

Anggota DPR dari Fraksi NasDem itu menekankan, pencurian rumah kosong merupakan salah satu jenis kriminalitas yang dipandangnya menjadi momok menakutkan bagi para pemudik yang meninggalkan hunian mereka. Karenanya, ia mengapresiasi pembentukan Satgas Rumah Kosong oleh Polres Jakbar sebagai upaya memberikan kepastian keamanan hunian yang ditinggalkan pemudik.

"Dibentuknya Satgas Rumah Kosong juga membuat masyrakat di Jakarta Barat tetap tenang meninggalkan hunian mereka ketika mudik ke kampung halaman. Saya mengapresiasi dibentuknya Satgas Rumsong oleh Polres Jakarta Barat," sambungnya.

Sementara itu, Polres Jakbar hari ini menembak mati salah satu pelaku pencurian rumsong berinisial ZN alias UN yang kerap melakukan aksi kejahatan di wilayah Jakbar.

Kapolres Jakbar Barat Kombes Pol Hengki Haryadi melalui Kasat Reskrim AKBP Edy Suranta Sitepu menjelaskan selain menembak mati seorang pelaku, jajarannya juga mengamankan tiga pelaku lainnya, masing-masing berinisial OA alias FD, SI, dan SN. Sedangkan satu pelaku dalam komplotan ini yang berinisial MA masih dalam pengejaran dan dinyatakan berstatus daftar pencarian orang (DPO).

Kelompok itu setidaknya telah melakukan dua kali aksinya selama Ramadan dan Idul Fitri di Kampung Tanah Tinggi Semanan dan di Jalan Gaga Raya Semanan, Kalideres. Pelaku yang ditembak mati, diterangkannya, merupakan residivis kasus yang sama. ZN ditembak mati karena melakukan perlawanan dengan menembak petugas.

"Ketika dikejar di Jalan Raya Kresek, Kalideres, tersangka ZN menembak ke arah petugas sehingga mengancam nyawa petugas dan warga sekitar. Tindakan tegas terukur diambil berupa tembakan ke arah pelaku dan mengenai dada dan kaki pelaku,  kemudian pelaku langsung dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk dilakukan pertolongan, tetapi yang bersangkutan meninggal dunia di perjalanan ketika dibawa ke RS Polri Kramat Jati," Edy menjelaskan.

"ZN pernah mendekam tiga kali di penjara sejak 2014 atas kejahatan pencurian rumah kosong. Pada 2014 dia dipenjara di Lapas Cipinang, 2015 di Lapas Bulak Kapal, dan 2017 di Lapas Cipinang," papar Edy.

Menanggapi penembakan terhadap residivis yang kembali melakukan aksi kejahatannya, Sahroni menilai tindakan tegas memang perlu dilakukan untuk memberi efek jera. Terlebih terhadap penjahat yang mengancam keselamatan anggota kepolisian ataupun warga sekitar, tindakan tegas berupa penembakan harus dilakukan.

"Tindakan tegas dan terukur penting diberikan kepada penjahat kambuhan, apalagi bila mereka melakukan perlawanan. Saya dukung penembakan terhadap penjahat yang mengancam keselamatan terhadap anggota yang bermaksud melakukan penangkapan dan masyarakat sekitarnya," tegas Sahroni. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More