Terbiasa dengan Penumpang Berjubel (Bagian 1)

Penulis: Januari Hutabarat Pada: Senin, 25 Jun 2018, 09:21 WIB Nusantara
Terbiasa dengan Penumpang Berjubel (Bagian 1)

ANTARA/Irsan Mulyadi
Para penumpang memenuhi kapal motor saat akan bersandar di Pelabuhan Tigaras di Simalungun, Sumut, pekan lalu.

Kecelakaan yang dialami kapal motor (KM), moda transportasi air yang sering dimanfaatkan masyarakat pesisir, masih kerap terjadi. Pemerintah daerah sebagai regulator dan operator swasta sepertinya mengabaikan aspek keselamatan penumpang. Fakta terkait dengan buruknya pengelolaan ‘kapal rakyat’ tersebut akan diulas pada tulisan berikut ini.

--------------------------------------------------

ISAK tangis keluarga korban pascatragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Sumut, hingga kemarin (Minggu, 24/6/2018) masih terdengar. Peristiwa pada Senin (18/6) yang menelan ratusan korban jiwa yang diikuti kejadian serupa yang dialami KM Ramos Risma Marisi di perairan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Jumat (22/6), sungguh mengenaskan.

Kejadian beruntun di satu lokasi tersebut tentu menjadi rapor buruk bagi regulator dan operator kapal motor dalam melayani warga masyarakat. Tak terhitung, jumlah kecelakaan yang telah terjadi pada moda transportasi jenis itu. Setiap tahun kabar tragis kecelakaan kapal motor di sungai ataupun danau tersebut masih kita dengar.

Minimnya pengawasan dari otoritas dermaga di daerah dan rendahnya kepatuhan operator terhadap aturan yang ada sebagai penyebabnya. Dari kasus KM Sinar Bangun bisa diketahui betapa tidak berharganya nyawa manusia di hadapan pemilik kapal.

Kapasitas kapal yang hanya mampu menampung 50 orang diisi sekitar 200 penumpang atau 4 kali lipat daya tampung ideal. Tidak itu saja, sekitar 60 sepeda motor dijejalkan ke KM Sinar Bangun.

Dalam kondisi penuh sesak itu, mustahil para penumpang berpeluang menyelamatkan diri saat kapal tenggelam. Hingga enam hari setelah kecalakaan, baru 21 korban ditemukan, tiga di antaranya meninggal dunia dan 184 penumpang hilang.

Pernando Sitanggang, warga Kabupaten Samosir, menuturkan pengalamannya saat naik kapal rakyat itu. “Waktu itu saya bersama keluarga hendak menyeberang dari Pulau Samosir menuju Ajibata. Saya protes karena jumlah penumpang yang amat padat.” Namun, jawaban sinis didapat dari nakhoda kapal. “Kami sudah terbiasa dengan jumlah penumpang yang padat,” ujar nakhoda.

Pernando lantas menyampaikan keberatannya kepada petugas dermaga, dan jawaban yang sama dia dapat.

Sang nakhoda pun meminta Pernando untuk turun dari kapal jika merasa keberatan dengan kondisi kapal yang berjubel. “Karena saya ada urusan penting, saya bertahan ikut naik. Beruntung tidak terjadi hal buruk,” kenangnya.

Pernando menambahkan pihak dinas perhubungan hanya menangih uang parkir kapal tanpa mendata jumlah penumpang setiap kali penyeberangan. Nurdin Siahaan, Kepala Dishub Samosir, saat dimintai konfirmasi mengaku tengah menjalani pemeriksaan.

“Maaf Pak,saya sedang diperiksa,” ujarnya dan langsung memutuskan sambungan telepon.(N-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More